Ultimate magazine theme for WordPress.

Kecil Kemungkinan ditemukan Struktur Bangunan Utuh di Bukit Seguntang

BP/DUDY OSKANDAR
Dua arkeolog dari Balai Arkeologi Provinsi Sumsel , Retno Purwati dan Wahyu Rizky Andhifani saat berada di Bukit Seguntang, Kamis (4/3).

Palembang, BP

Bukit Seguntang atau Bukit Siguntang tidak bisa dilepaskan dari sejarah Sriwijaya dan memori kebudayaan Melayu di Nusantara.

Bukit Siguntang atau kadang disebut juga Bukit Seguntang adalah sebuah bukit seluas 16 hektare di ketinggian 29-30 meter dari permukaan laut, terletak sekitar 3 kilometer dari tepian utara Sungai Musi, Kota Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).

Di area situs Siguntang ditemukan beberapa benda purbakala bersifat Buddhis masa Kerajaan Sriwijaya (abad ke-6-13 Masehi) dan makam leluhur orang Palembang. Dari benda-benda purbakala yang ditemukan, menunjukkan bahwa Bukit Siguntang adalah salah satu kawasan pemujaan dan keagamaan kerajaan.

Hal ini terlihat dari arca Buddha bergaya Amarawati (abad ke-2-5 Masehi) yang ditemukan pada 1920-an.  Arca berbahan granit setinggi 277 senti meter tersebut disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Di sana juga ditemukan fragmen arca Bodhisatwa, stupa, fragmen prasasti beraksara Pallawa, arca Kuweda, arca Buddha Wairocana.

Namun dalam perjalanan waktu, Bukit Seguntang mengalami  berkali-kali pengrusakan atas nama pembangunan dan terakhir tahun 2018 lalu dengan pembangunan  kolam air mancur dan makam-makam disekitarnya, maka kemungkinan ditemukan struktur bangunan di Bukit Seguntang sangat kecil.

Hal tersebut dikemukakan  arkeolog dari Balai Arkeologi (Balar) Sumsel , Retno Purwati, dia memastikan kemungkinan masih di temukan struktur bangunan di Bukit Seguntang  yang utuh peluangnya kecil, karena menurutnya pembangunan yang dilakukan di Bukit Seguntang sebelumnya diawali pengrusakan dengan eksavator dan penamanan pohon di Seguntang  termasuk pembangunan infastruktur di Bukit Seguntang seperti pipa-pipa.

“ Kalau kita gali ,  bata lama pasti ketemu disini tapi pecahan semua  di kedalaman 50 Cm, karena sudah terkelupas semua tanahnya,” katanya, ketika di temui di Bukit Seguntang saat mendampingi 5 mahasiswa UIN Raden Fatah , Palembang Prodi Sejarah Peradaban Islam (SPI) melakukan  Praktek Penelitian Lapangan (PPL) di Bukit Seguntang, Kamis (4/3).

Menurutnya Retno , luas areal Bukit Seguntang  sampai ke Tanjung Rawo yang merupakan kaki Bukit Seguntang, malah di Tanjung Rawo pernah di temukan struktur stupa, malah dirinya mendapat informasi  gedung Pascasarjana Universitas Sriwijaya (Unsri), di Bukit Besar saat pembangunannya itu pernah ditemukan bata-bata lama.

“ Luas lah iya dan itu memang wajar, kalau di Muara Jambi aja sebagai wiharanya Sriwijaya itu  taruhlah 12 Km persegi, kalau ini sampai Tanjung Rawo terus sampai Padang Selasa berapa luas?,” kata Retno didampingi rekannya sesama arkeolog Balar Sumsel, Wahyu Rizky Andhifani.

Apalagi Bukit Seguntang sendiri menurutnya titik tertinggi di Palembang

“Disini istilahnya tempat peribadatan tingkat kerajaan , karena ini bukit paling suci, dulu waktu ada penemuan  arca  budha hinayana (sekarang berada di TPKS Gandus), itu dari abad 6 atau 7 itu justru sebelum zaman Sriwijaya, jadi sebelum Sriwijayapun logikanya  dari arca , disini sudah ada kehidupan , meskipun Sriwijaya dari Prasasti Kedukan Bukit dari abad 7 , 682 masehi, dan kemungkinan disini tempat orang-orang pada  ziarah dan itu berlanjut saat Sriwijaya ada, kalau Sriwijaya Budha Mahayana,” katanya.

Mengenai  PPL  5 orang Mahasiswa UIN Raden Fatah, Palembang Prodi SPI di laksanakan selama dua minggu dimulai dari tanggal 25 Februari lalu.

“Tugas mereka melakukan penelitian makam yang ada di Bukit Seguntang dan nanti  mereka membuat buku penelitian,” katanya.#osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...