Pulau Kemaro: Makam Habaib Dan Benteng Kesultanan Atau Legenda Cinta.

24

Palembang, BP

Legenda tentang Kisah cinta Tan Bun An (Lelaki Keturunan Cina) dengan Siti Fatimah (Wanita Keturunan Pribumi) yang berlayar dari tanah Cina menuju pulau Sumatera Selatan yang akhir hayatnya tenggelam di sungai bersama seorang pengawalnya karena Tam Bun An yang pada saat itu melemparkan 7 kendi pemberian orang tua nya, yang diduganya berisi sayur-sayuran asin ke sungai dan pada saat ingin membuang kendi terakhir, kendi itu terjatuh pecah dan baru diketahui berisi emas yang banyak, sontak Tambunan langsung menyelam kesungai bersama Siti Fatimah dan Pengawalnya. Legenda itu merupakan legenda terbentuknya pulau kemaro yang pada tahun 1962 dibangun kelenteng, dan tahun 2005 dibangun Pagoda yang ikonik diatasnya.

Setiap ulang tahun China (Imlek) umat agama Konghucu merayakan Cap Go Meh di Pulau Kemaro yang kental dengan nuansa Tionghoa karena terdapat Pagoda beserta kelenteng berwarna merah yang didalamnya terdapat sebuah makam yang dikini sebagai umat Tionghoa. Dengan suasana religius umat tionghoa, ratusan bahkan ribuan umat Konghucu dari penjuru daerah bahkan negara datang kesana.

Baca:  Enam Perwira Polda Sumsel Dimutasi

Tetapi ditempat yang sama, umat Islam dari penjuru daerah melakukan Ziarah Kubrah yang merupakan sebuah kegiatan yang sangat kental dengan nuansa religius Islam. Ziara Kubrah yang dilakukan oleh Kaum Sayyid (Keturunan Arab Palembang) ini dilakukan secara rutin disetiap pekan terakhir bulan sya’ban diwaktu ba’da Shalat Ashar dilakukan ziarah kubur terhadap makam yang diyakini sebagai ulama di pulau tersebut setiap tahun nya, dan telah berlangsung puluhan tahun.

Sehingga muncul kontradiksi antara umat Tionghoa dan umat Islam terkait keyakinan siapa yang dimakamkan di pulau tersebut, menurut cerita dari Al-Habib Hamid Annaqib BSA seorang putra ulama besar Palembang, yaitu Al-Habib Muhammad Bin Hamid BSA (Ustad Ak), juga keturunan dari Pangeran Syarif Ali BSA(Wazir dan menantu Sulthan Husein Diya uddin adik SMB II), yang sudah lama berpartisipasi disetiap kegiatan ziarah kubrah mengatakan bahwa, tokoh yang dimakamkan dipulau ini bernama Al-Habin Ahmad Bin Muhammad Alaydrus seorang ulama asal hadramaut dizaman Kesultanan Darusalam, sedangkan menurut umat Tionghoa makam tersebut adalah makam Tan Bun An dan Siti Fatimah serta pengawalnya yang menurut legenda tenggelam tepat di berdirinya pulau tersebut.

Baca:  Iuran BPJS Kesehatan Naik Tahun 2021, Syaiful Padli : “Ini  Kado Buruk Dari Pemerintah Untuk Rakyat Indonesia”

Versi sejarah dari Sultan Mahmud Badaruddin IV, RM. Fawaz Diraja. Pulau kemaro pada masa Kesultanan Palembang Darusalam tahun 1821 Masehi adalah sebuah benteng pertahanan dalam masa peperangan, dan hal ini termaktub di dalam Pembukuan Kembara 1824. Terkait sejarah Benteng ini juga dipertegas oleh Sejahrawan Palembang, RM. Ikhsan dan Kemas.H. Andi Syarifudin dengan bukti manuskrip-manuskrip kuno masa kesultanan.

Sedangkan versi sejarah menurut Samsul Fajri, selaku Peneliti dan Pembaca Aksara Palawa Sriwijaya. Menurut kronik Tiongkok yang ditulis oleh Ma Huan. Ma Huan adalah seorang muslim yang berperan sebagai juru tulis saat menyertai ekspedisi Laksamana Cheng Ho (Chen Zhe). Cheng Ho tercatat dalam sejarah empat kali ke Palembang dan menjadikan Pulau Kemaro itu sebagai tempat pemukiman. Pihak Cina mengklaim dan menutupi fakta sejarah itu hanya karena Cheng Ho, Ma Huan, dan sebagian besar besar rombongan itu terbukti muslim. Sekarang tempat itu diubah menjadi vihara/kelenteng. Untuk memutus fakta sejarah lalu dibuat dan disebarkanlah legenda Tan Bun An dan Siti Fatimah, yang dikatakan berakhir dengan bunuh diri.

Baca:  Dodi Reza Alex Salurkan Bantuan Fasilitas dan Sarana Prasarana Pencegahan Covid-19

Disi lain menurut keterangan Sultan Mahmud Badaruddin IV Fauwaz Diradja jika disana terdapat juga makam kapitan cina yang beragama Islam bernama Kapitan Bong Su. “Ya disana ada makam Baba Kapiten Bong Su,” ujarnya saat di mintai keterangan.

Walaupun ada perbedaan antar umat beragama, toleransi tetap terjaga diantara perbedaan itu. terbukti, perayaan capgomeh oleh umat Tionghoa dan kegiatan Ziarah Kubra oleh umat Islam tetap berlangsung dengan khidmat dan penuh nuansa religius yang mendalam.

Hal ini terbukti, pada saat CPI Ziarah ke makam di dalam kelenteng yang terletak di Pulau Kemaro, tidak ada intervensi ataupun kegaduhan yang terjadi bahkan ziarah dilakukan bersebelahan dengan umat Tionghoa yang sedang berdoa. Menurut KGS. Ilham Akbar selaku Ketua Umum CPI bahwa, dibalik itu semua, perlu dilakukan suatu kajian sejarah yang mendalam tentang rekam jejak pulau Kemaro karena jika dibiarkan terus berlarut hal ini bukan tidak mungkin akan memimbulkan perpecahan dikemudian hari.#osk