Disbud Kota Palembang Sosialisasikan Sejarah Pempek Palembang Ke Masyarakat

37

BP/DUDY OSKANDAR
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Hj Zanariah Sip Msi menyerahkan banner sejarah pempek  yang dibuat pihak Dinas Kebudayaan Kota  Palembang kepada owner Pempek Sentosa,  Abdul Rozik, Jumat (19/2).

Palembang, BP

Guna meluruskan sejarah pempek yang ternyata masih ditulis secara keliru oleh masyarakat, maka  Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Palembang mensosialisasikan  sejarah pempek  yang sudah di akui sebagai menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB)  dari kota Palembang pada tanggal 17 Oktober 2014 lalu ke masyarakat kota Palembang , kali ini rombongan melakukan sosialisasi di Pempek Sentosa di Jalan DI Panjaitan Palembang, Jumat (19/2).

Turut hadir Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Hj Zanariah Sip Msi didampingi Muttaqin SH selaku Kasi Tradisi & Adat Dinas Kebudayaan Kota Palembang dan Isnayanti Syafrida selaku Kasi Kesenian Dinas Kebudayaan Kota Palembang, owner Pempek Sentosa,  Abdul Rozik, budayawan kota Palembang Vebri Al Lintani.

Dalam kesempatan tersebut diserahkan  banner sejarah pempek  yang dibuat pihak Dinas Kebudayaan Kota  Palembang, diserahkan dari Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Hj Zanariah Sip Msi kepada owner Pempek Sentosa,  Abdul Rozik.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Hj Zanariah Sip Msi mengatakan, kegiatan  hari ini pihaknya tidak lain ingin meluruskan  masalah sejarah pempek.

“ Kalau kemarin-kemarin khan pempek  masih dibuat oleh orang Cina , walaupun sekarang juga tetapi asalnya itu murni dari Palembang , itu tampak di WBTB tahun 2014 kemarin ,” katanya.

Selain itu pihaknya sengaja menyerahkan banner seperti ini ke toko-toko pempek sehingga masyarakat tahu sejarah pempek Palembang yang benar.

“Kita hanya mencontohkan kalau mau menanyakan lagi ,apakah benar pernyataan ini  ya, silahkan ke Dinas Kebudayaan ,” katanya.

Kedepan menurutnya pempek tetap menjadi ikon kota Palembang , pihaknya akan mendorongnya menjadi  warisan budaya  tak benda yang didaftarkan ke Unesco

Sedangkan Muttaqin SH selaku Kasi Tradisi & Adat Dinas Kebudayaan Kota Palembang menambahkan, hari ini Dinas Kebudayaan kota Palembang melakukan sosialisasi tentang pempek dimana menjadi WBTB tahun 2014 lalu .

“ Disamping itu juga banyak yang kami usulkan, ada tujuh yang kami usulkan , pertama masalah tepung tawar, selendang munawaroh, rumah rakit, burgo, banyak lagi, termasuk kapal telok abang yang terakhir , ini wujud kepedulian dinas  kebudayaan  pertama untuk meluruskan sejarah itu sendiri tentang pempek  kemudian inilah artinya dari hasil WBTB ini di sosialisasikan kemudian dari ini nanti diusulkan oleh provinsi dan budayawan  itu menjadi ikonnya  Unesco untuk menetapkan menjadi  warisan dunia tentang pempek ini,” katanya.

Baca:  DPRD Kota Palembang Prihatin Penanganan Sampah Makin Semerawut

Dan hari ini pihaknya sosialisasikan hal ini dengan pihak pempek Sentosa untuk ikut berkerjasama mensosialisasikan  hal ini kepada masyarakat.

“ Pada umumnya masyarakat kita tahu  tentang pempek tapi dia tidak tahu sejarahnya apa pempek itu , inilah salah satunya peran dan tugas  Dinas Kebudayaan kota Palembang,” katanya.

Apalagi menurutnya sekarang pempek sudah menjadi ikon , alangkah sayangnya masyarakat Palembang tidak tahu sejarah pempek, bagaimana cara pembuatannya  danb bagaimana asal –usulnya .

“ Ini yang harus kita sama –sama dengan pengusaha pempek, sejarawan dan budayawan  supaya ini bisa diketahui dan di mengerti oleh masyarakat, masak kita yang punyak barang tapi tidak bisa menjawabnya ,” katanya.

Karena itu pihaknya terus melakukan edukasi kepada masyarakat terutama mengenai  sejarah pempek.

Budayawan kota Palembang Vebri  Al Lintani mengatakan, pempek  dinilainya sangat istimewa bagi warga Palembang  dimana pempek menjadi makanan pokok kedua  setelah nasi.

“ Jadi kalau lihat perkembangan pempek dari tahun 80 an kesini, 80 an ke bawah, pempek itu  pemasarannya masih sedikit-sedikit tapi perkembangan itu  pesat, “ katanya.

Di masyarakat Palembang menurutnya di lebaran misalnya, dulu orang selalu bertanya ketupat, sekarang sudah pempek dimana bukan hanya orang etnik Palembang  tapi seluruh orang  yang berdomisili di Palembang membuat pempek saat lebaran .

“ Begitu jugo warung-warung pempek , toko pempek mau lebaran kehabisan bahan terus dan sangat repot, berarti pempek sudah sangat populer dan dia menjadi salah satu identitas  di Palembang, disebut identitas itu, kalau  ada kata Palembang  orang inget pempek, tapi kalau ada pempek orang  ingat Palembang ,” katanya.

Dari identitas tersebut menurutnya ada sejarah , dan para penggiat budaya  sudah menggali sejarah-sejarah itu .

Baca:  Empat Kasat di Polrestabes Palembang Dimutasi

“ Pertama yang di tulis di wikipedia itu keliru, intinya di wikipedia itu mengatakan bahwa pempek ini memanfaatkan bahan ikan yang berlimpah diolah ditepian Sungai Musi menjadi pempek  dan itu dari Cina yang mengolah itu, kedua memasarkan pempek abad 16 pakai sepeda, itu apek-apek , abad 16  belum ada sepeda di Palembang, itu masih sungai, semuanya sungai , Belanda buat jalan abad 18 , jadi jauh itu ,” katanya.

Dalam Wikipedia, lanjut Vebri, pada abad 16 semasa Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II itu keliru, dimana SMB II  diasingkan ke Ternate tahun 1821 abad 18 bukan abad 16.

“ Jadi wikipedia itu sumbernya dongeng, jadi ada tulisan kawan, cerita rakyat sekumpulan cerita rakyat kawan tuh sudah di Jawa sekarang  dimasukkan di wikipedia , tapi itu  sudah di koreksi, aku berkali-kali mengoreksi wikipedia,” katanya.

Ditahun 2014, Sumatera Selatan (Sumsel) menurutnya mengajukan pempek sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) dari Palembang .

“ Di hotel Bumi Asih ada beberapa nara sumber, salah satunya aku nara sumber , yang pertama kali mengkaji tentang prasasti Talang Tuo 684 Masehi, di Talang Tuo itu disebutkan , kalau sekarang Walikota menanam, Gubernur menanam, Presiden menanam , Raja Sriwijaya sudah menanam di 684 Masehi, diantaranya kelapa, aren, sagu, bambu-bambu dan tumbuhan-tumbuhan lain yang berguna, yang bisa di manfaatkan bagi mahluk hidup baik yang bergerak maupun  menetap, itu dalam agama Budha  itu disebut sebagai  Dharma,” katanya.

Menurut salah satu bangsawan Palembang Husin Natodirajo sempat ditanya sejarawan Palembang Mansyur  tentang sejarah pempek , dijawab Husin Natodirajo kalau  pempek itu adalah bekal dari pasukan Sriwijaya .

“ Akhirnya itu kita rumuskan  tentang sejarah itu  sekaligus mengkoreksi sejarah pempek di wikipedia, itu adalah fakta alam dan fakta sejarah, fakta budaya lainnya itu  wong Palembang dari masa Kesultanan Palembang dulu  masuk Akil Baliq itu didik  menjadi ibu yang baik, kalau wong Palembang tidak bisa masak  tidak kena lamar, pasti tidak dapat laki dia, jadi wong Palembang rata-rata bisa memasak, karena bisa masak dia kreatif, jadi mengolah bahan , paling banyak makanan kito di Palembang ini , selain pempek ada kue lapan jam , ada maksuba, segala macamitu lahir dari dapur Palembang, jadi fakta budaya ini kreativitas ini muncul  kita menyakini itu lahir dari dapur Palembang, jadi fakta budaya ini , kreativitas ini muncul kita meyakini itu lagi dari dapur Palembang,” katanya.

Baca:  PBB Palembang Buka Pendaftaran Caleg

Selain itu menurutnya di awal-awalnya orang menjual pempek  adalaj orang Palembang tetapi yang memasarkan pertama kali pempek menurutnya mungkin apek-apek di tahun 1916 bukan abad 16 disekitar Masjid Agung ada yang menyebut guguk pengulon ada menyebut guguk Kraton.

“ Disekitar situ  ada orangnya dipanggil apek-apek, tapi aku idak yakin apakah apek-apek  itu memang dari Tiongkok  atau orang kita  seperti apek-apek atau orang Cina  yang sudah Islam, sebab kalau orang Cina yang buat pempek dari awal, itu tidak mungkin  orang Palembang beli atau orang Palembang membuatnya  dan si Apek tadi ngedarkenyo,” katanya.

Selain itu menurutnya pempek sebagai identitas  budaya Palembang  sudah fakta dan sudah  terdaftar menjadi WBTB 2014 dan sekarang sudah ada tim  dan dirinya termasuk dalam tim tersebut untuk mengusulkan pempek sebagai warisan budaya dunia  ke  Unesco.

“ Karena itu  kegiatan-kegiatan seperti ini penting dilakukan  untuk mendukung itu , dan hari ini alhamdulilah ibu Kadis sudah datang keseni dan aku kiro sesuai  dengan tupoksi  kebudayaan meluruskan sejarah  dan kemudian mendukung pempek  menjadi warisan dunia  berdasarkan ini , ini salah satu dukungan kita  kebudayaan di kota Palembang  ,” katanya

Sedangkan owner pempek  Sentosa Abdul Rozik mengapresiasi langkah Dinas Kebudayaan kota Palembang untuk mensosialisasikan sejarah pempek ke masyarakat.

Menurutnya perlu ada pelurusan sejarah pempek karena pempek adalah makanan asli dan dibuat oleh orang Palembang sendiri.#osk