Tong Djoe, Teman Seperjuangan Dr Ak Gani Meninggal Dunia

34

BP/IST
Mantan Gubernur Sumsel H Alex Noerdin saat melihat jenasah Tong Djoe di rumah duka, Senin (8/2)

Palembang, BP

Pejuang dan juga Pengusaha Tong Djoe meninggal dunia, Selasa (9/2) di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Tong Djoe meninggal dunia di usia 94 tahun.

Tong Djoe merupakan teman seperjuangan pahlawan nasiobal dari Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Dr Ak Gani.

Tong Djoe lah menyediakan kapal miliknya untuk menyelundupkan persenjataan Tentara Republik Indonesia (TRI) dimasa perjuangan  di era tahun 1945 dari Singapura ke Palembang.

Ia juga turut memperjuangkan pulihnya hubungan dua negara besar, Indonesia dan China, bersama Sukamdani Sahid Gitosardjono dan Mensesneg Moerdiono.

Semasa muda, Tong Djoe berjuang bersama AK Gani, Gubernur Sumatera Selatan di masa Perang Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1949), dengan menyelundupkan senjata untuk Republik Indonesia.

Atas jasa tersebut, Pemerintah Republik Indonesia di masa Presiden BJ Habibie memberikan penghargaan Bintang Jasa Pratama tahun 1998.

Selanjutnya, Tong Djoe yang akrab dengan Ibnu Sutowo—pimpinan Pertamina—membuka usaha Grup Tunas di Tanjong Pagar, Singapura, tahun 1970-an, serta menjalin hubungan diplomasi publik yang baik antara Indonesia, Singapura, dan China.

Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat China Soegeng Rahardjo yang dihubungi, mengatakan, Tong Djoe dan Sukamdani adalah ”duet maut” yang mampu memulihkan hubungan Jakarta-Beijing.

”Beliau berdua memiliki wawasan strategis dan menjalankan diplomasi publik yang efektif antara dua negara penting di kawasan. Pak Tong Djoe pun tidak mau kelihatan atas peran selama ini yang sangat strategis,” kata Soegeng, yang pernah menjadi diplomat di Amerika Serikat, Amerika Latin, Australia, dan Dubes di Afrika Selatan serta China.

Soegeng menambahkan, Sukamdani Sahid berhasil meyakinkan Presiden Soeharto, dan Tong Djoe menjadi jembatan ke pihak Beijing dalam langkah strategis memulihkan kembali hubungan diplomatik RI dan China yang sama-sama ikut menjadi motor Konferensi Asia Afrika 1955 bersama India dan Mesir.

Soegeng mengenang perbincangannya bersama Tong Djoe tahun 2019 di Jakarta selama dua jam lebih.

Tong Djoe yang mendirikan grup usaha Tunas itu sangat bersahaja dan mengingatkan pentingnya hubungan strategis yang saling melengkapi antara Indonesia dan China.

Dalam pandangan Soegeng, salah satu kelebihan Indonesia dalam relasi saling melengkapi dengan China adalah kemampuan diplomasi Indonesia dalam menjalin hubungan tanpa mendominasi.

Sebagai bukti adalah kesetaraan dan stabilitas ASEAN sebagai blok ekonomi nomor empat di dunia.

Tong Djoe semasa hidup sangat mengedepankan rasa dan budaya dalam menjalin hubungan Indonesia-China.

Sebagai sesama negara dengan peradaban tua ribuan tahun, China dan Indonesia merupakan faktor penentu di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur.

Narasi tentang warisan peradaban Asia tersebut dipertegas oleh mantan Presiden Dewan Keamanan PBB dan Dubes Singapura untuk PBB, Kishore Mahbubani, yang menulis buku The New Asian Hemisphere dan Has China Won yang menjelaskan betapa peradaban China, Indonesia-ASEAN, India, dan dunia Islam terus berkembang dan memiliki peradaban tua yang mengedepankan olah rasa dan tenggang rasa dalam menjalin hubungan regional dan internasional.

Hubungan sesama bangsa Asia yang telah berjalan ribuan tahun dilandasi pada budaya dan persahabatan, bukan dibatasi sekat persaingan ideologi demokrasi dan sosialisme dan juga komunisme, yang sebetulnya warisan awal abad ke-20 di Eropa kemudian dibawa ke Asia dan Afrika.

Kolumnis dan pengamat ekonomi Christianto Wibisono dalam esai tentang Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Moerdiono, Sukamdani dari Grup Sahid, dan Tong Djoe menuliskan, gerilya mereka bertiga tahun 1985 menghasilkan pemulihan hubungan diplomatik RI-China tahun 1990. Christianto Wibisono menulis, Tong Djoe menghabiskan hari tuanya secara sederhana, tinggal di sebuah rumah toko di bilangan Jalan Hayam Wuruk, tidak jauh dari kantor Kompas Gramedia di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat.

Adapun mantan pengajar Bahasa Indonesia dan staf China Radio Internasional seksi Bahasa Indonesia di Beijing, Edi Prabowo Witanto, yang berinteraksi dengan Tong Djoe di China dalam kurun 1994-1997 mengatakan, Tong Djoe adalah sosok besar yang tidak kelihatan. ”Banyak taipan kita kenal namanya yang mengembangkan bisnis antara Indonesia dan China. Tetapi, di balik layar, orang yang banyak berperan adalah Pak Tong Djoe. Dalam hubungan bisnis resmi ataupun hubungan antarpejabat dua negara, beliau banyak berperan di balik layar,” kata Edi Prabowo.

Menurut Edi Prabowo, ada pertemuan dan kesepakatan penting Indonesia-China yang dicapai dalam kurun waktu panjang yang di belakang layarnya ada sosok Tong Djoe sebagai penyampai pesan dan pembuka lobi informal antara dua negara.

Sejak masa Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden BJ Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Presiden Joko Widodo, Tong Djoe menjadi sosok yang dihormati serta berdiri sebagai orangtua yang arif dalam membina hubungan Indonesia-China.

Presiden BJ Habibie sempat memberikan penghargaan Bintang Jasa Pratama atas jasa Tong Djoe selama perang kemerdekaan Indonesia.

Hobi mengoleksi guci, batu giok, dan berbagai benda seni merupakan kegemaran Tong Djoe. Kompas berkunjung beberapa kali ke rumah lama Tong Djoe di bilangan Jalan Gunung Sahari pada masa-masa awal dekade 2000-an. Rumah tersebut dipenuhi beragam guci dan giok antik. Tong Djoe selalu ramah dan berbagi pengalaman tanpa menggurui. Selamat jalan Pak Tong Djoe….#osk