Home / Headline / Sang Penjaga Kedaulatan, Sultan Amuk Ahmad Najamuddin Prabu Anom

Sang Penjaga Kedaulatan, Sultan Amuk Ahmad Najamuddin Prabu Anom

BP/IST
Makam Suhunan Husien Dhiauddin Ibn Sultan Muhammad Bahauddin

Palembang, BP

Untuk mengusir Belanda dari Negeri Palembang, dan merebut kembali kekuasaan, harga diri dan Istana yang telah dirampas, maka  terjadilah usaha usaha untuk merebutnya ;

– Percobaan membunuh Komisaris Van seven Hauven

– Peracunan tempat Belanda mengambil air minum

– Penangkapan atas pegawai pegawai Polisi Belanda

Puncaknya pada jam 4 subuh senin 21 Nopember 1824 berangkatlah Pasukan Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom, sebanyak 400 orang, dengan “PANGLIMA PERANG” Masagus Said atau Pangeran Citro Adikaro bergelar Pangeran Putong.

Menyerang kraton yang ditempati Residen Belanda dan Balatentaranya

Dengan senjata terhunus, diiringi gemuruh bunyi “ZIKIRULLAH, Sholawat atas Nabi dan Tahlil disertai hujan rintik rintik maka ; Panglima Batu Api Haji Ja’far menembakan pemuras/senapan nya di Gerbang Kraton, terjadilah peperangan yang sengit

Kata Nenek ; “Sungguh hebat Putra putra Palembang berperang,

Tapi serangan ini gagal dan malang Panglima perang Masagus Said, Raden Gubir, Khotib Jabaruddin dan Siluncuk Pinakawan Sultan gugur dalam serangan ini.

Akibat kegagalan serangan ini, Ayahanda Sultan, Sunan Husindiauddin malam harinya ditangkap dan diasingkan ke Betawi

Kampung Sunan di Suakbato dibumi hanguskan Belanda.

Sultan dan pengikutnya meneruskan perlawanan/peperangan di uluan (Muara Beliti/Musi Rawas,  Empat Lawang, Pasemah, Nikad/Lahat, Ogan dan lainnya)

Diantara pengikut Sultan di uluan ;

  1. Pangeran Puspo diprono raden cingot gelar Pangeran Jaya diraja, Patih dan penasehat

2.Isteri P.Jaya Diraja

3.Masagus Dangkak

Gelar Pgn Jaya Dilaga

( gugur dalam pertempuran di ogan, kepalanya dipotong Belanda dibawak ke Palembang)

4.Nyimas Ireng

  1. Kemas Usman Karang Birahi
  2. Masagus Abdul Jamil
  3. Raden Utama ( gugur di Ogan)
  4. Masagus Abdul Halim
  5. Masagus Salim
  6. Raden Sanusi ( Pgn Hasanusi)
  7. Kiagus Ahmad
  8. Masagus Agus
  9. Raden Komaruddin
  10. Dan lain

Seorang Pangeran mengatakan ; Pimpinan grilya di hutan hutan itu melawan laksana Pusuh

( Pusuh adalah Burung yang kalau bertarung sampai terkelupas kulit kepalanya, dia tetap melawan terus)

Dan Sultan sendiri di gelari Sultan Amuk

Untuk memadamkan perlawanan dan menangkap hidup atau mati Sultan Amuk ( Sang Prabu Anom ) di Uluan, maka Residen Belanda memerintakan 3 Pangeran dan satu orang Rangga dengan Pasukan dengan senjata lengkap ;

  1. Pangeran pertama dengan pasukannya langsung mudik ke Ulu Musi

Dengan janji jikalau Sultan itu dapat, Pangeranlah yang jadi “Sultan di Palembang”

Sesampai di Muara Beliti dan Ketemu Sultan Amuk, Pangeran menasehati Sultan dan mengajak Sultan untuk pulang ke Palembang

Dan yang dan kesalahan Sultan sudah di maapkan oleh tuan Residen Belanda dan beberapa banyak lagi perkataan yang lemah lembut

Tapi Sultan dengan tegas menolak, kata Sultan ; ” Penjajah tetap penjajah , Belanda tetap Belanda, karena Belanda selalu ingkar janji, tidak amanah dan menipu.

Maka pasukan Pangeran menembaki Benteng Sultan

Sultan dan pasukannya mundur jalan darat , Muara Beliti – Tebing Tinggi Empat Lawang Pasemah Lahat

Sesampai di desa Limbun ( Muara Enim/Ogan ) membuat Benteng dan pos pos pertahanan.

Akan Pangeran pulang ke Palembang karena jatuh sakit, waktu kembali ke uluan meninggal di Perahu Dusun Pegayut, Jenazahnya di bawa ke Palembang dimakamkan dengan kehormatan secara militer Belanda

 

  1. Pangeran ke 2 di perintahkan menyusur Batanghari Komering

( tidak ada berita tentang pangeran ini)

 

  1. Pangeran ke 3 dengan pasukannya menyusur Batanghari Ogan

Tapi tidak beberapa lama pulang ke Palembang karena sakit

 

4.Akan Ki Rangga dan pasukannya yang di perintah menyusur batang hari Lematang dan ketahuinya Benteng Sultan di Muara Enim, maka di bedillah

Diperintahkanlah oleh Sultan Panglimanya ;

Pangeran Jaya Dilaga dan pasukan menghadapi pasukan Belanda yang di pimpin oleh Ki Rangga

Berkecamuklah perang di Ulu Enim ini, sesama Anak Negeri Palembang

Tapi malang Pangeran Jaya Dilaga Panglima Sultan tertembak dan Raden Utama juga kena peluru. Jenazah Pangeran Jaya dilaga kepalanya di poton .Dibawa ke Palembang

Undurlah Sultan dan pasukannya ke Benteng Ulu Ogan

Banyak orang Pasemah yang turut Sultan di Benteng Ulu Ogan ini  Kepalanya Pangeran Bajau

Pada malam harinya pasukan Pasemah ini membawak lari barang barang dan perlengkapan perang Sultan membelot ke pihak Ki Rangga ( Belanda )

Pangeran Bajau di bunuh ditikam dengan tombak oleh Sultan

Karena peralatan perang banyak di bawak lari oleh pasukan pembelot, sedangkan Sultan lagi sakit, Sultan membebaskan pasukannya bertahan di kampung kampung dan di hutan hutan

Sultan dan Pangeran Jaya Diraja Cingot dan yang lain bersedia berdamai dan menemui Residen Belanda di Palembang

Setelah 8 bulan menganuk di pedalaman itu

 

……Sesampai di Palembang, Sultan Amuk dan rombongan disambut oleh Temenggung Polisi Palembang Hasanuddin dengan Perahu Tunggul Kuning , serta merta sujudlah Tumenggung kepada Sultan dan mempersilahkan naik perahunya.

Sultan dibawa ke kapal perang Belanda, dan langsung ditahan.

Lebih kurang tujuh bulan Sultan ditahan dikapal itu.

Pada tanggal 20 oktober 1825 Sultan dibawak ke Betawi (sampai di Betawi 5 Nopember 1825 )

Lalu dipindahkan ke Bandaneira

Pada tahun 1841 di pindahkan lagi ke Manado

Pada hari kamis 20 Jumadil awal 1260 H ( 1844 ), Wafatnya Baginda, dalam usia 59 tahun, dalam pengasingan 19 tahun

( MAKAM BELIAU BELUM DI KETEMUKAN SAMPAI HARI INI )

Dalam sidang besar pengadilan Belanda di Palembang pada tanggal 17 agustus dan 6 september 1825 di putuskan ;

 

  1. Pangeran Jaya Diraja Cingot
  2. Kemas Usman Karang Berahi
  3. Masagus Abdul Jamil
  4. Puyang Orang Mandega Ogan

Ke empat pengikut Sultan ini di hukum mati, di depan Kraton sebelah darat

Sedangkan Masagus Salim dapat meloloskan diri

Nyimas Ireng dan Istri Pangeran Jaya Diraja Cingot, keduanya dibuang ke Dusun Tanjung Laga.

 

Raden Sanusi ( Pangeran Hasanusi ) dan keluarganya di buang ke Ambon

34 orang lain di hukum tahan seumur hidup

 

Pihak Residen Belanda terus menerus mengadakan pengejaran dan penangkapan bahkan pembunuhan atas pengikut pengikut Sultan Amuk yang berontak dan mengadakan perlawanan grilya di pedalaman (Uluan)

 

Dari itu yang punya cerita, tiada sudi kembali ke Negeri Palembang kota dan tiada menyatakan bahwa “Ia” adalah Putra Palembang, karena pada waktu itu banyak mata mata Belanda dan kaki tangannya untuk menghabiskan ( membunuh ) kami Maka itu di sebut Nenek ;

“Kerikil timbul, gabus tenggelam

Nenek berkali kali menyatakan ;

Teruskan perjuangan kami, kekuatan KAFIR ini di tangan bangso kita

Maksudnya ; Belanda tidak akan berhasilmenjajah jika antara kita jua membantunya, yang berarti menghianati perjuangsn kita

Karena itu teruskan perjuangan kami dengan persatuaan dan kesatuaan yang bulat

 

Bandung, 18 Oktober 2020

R.A.Berlian Panembahan Palembang