Komunitas SCB Kunjungi Kompleks Pemakaman Sabokingking

6

BP/IST
Komunitas Sahabat Cagar Budaya (SCB)  menggelar jalan-jalan sejarah perdana ke Kompleks Pemakaman Sabokingking, Sabtu (9/1) .

Palembang, BP

Komunitas Sahabat Cagar Budaya (SCB)  menggelar jalan-jalan sejarah perdana ke Kompleks Pemakaman Sabokingking, Sabtu (9/1) .

Sedangkan nara sumber adalah sejarawan yang juga Budayawan Palembang Kemas Ari Panji.

Menurut Kemar Ari Panji, Kompleks Pemakaman Sabokingking adalah salah satu kompleks pemakaman tertua di Palembang dan menjadi peristirahatan terakhir bagi sejumlah nama besar dalam sejarah Palembang.

Menurut Kemas Ari Panji, keberadaan Makam Sabokingking telah diketahui sebelum masa Islam di Palembang, yaitu sejak masa klasik pada masa Sriwijaya sekitar abad 7 Masehi.

Hal ini didasarkan adanya temuan prasasti Telaga Batu yang berdasarkan jenis aksaranya sejaman dengan prasasti masa Sriwijaya. Selain itu bukti adanya peninggalan masa klasik diindikasikan temuan 2 buah batu yang merupakan asana atau tempat dudukan arca atau prasasti.

Salah satu asana tersebut terletak di dalam bangunan tertinggi satu ruang dengan nisan makam Pangeran Seda ing Kenayan, sedangkan yang satu berada di halaman bangunan di dalam pagar berdekatan dengan gapura paduraksa. Unsur-unsur kepurbakalaan di Sabokingking  berlanjut dengan pada masa berikutnya, yaitu dengan adanya makam yang merupakan tokoh-tokoh  awal Kesultanan Palembang. Periodisasi yang diketahui dari tokoh-tokoh pendiri Kesultanan Palembang yang dimakamkan di makam Sabokingking adalah awal abad ke-16 Masehi.

Bangunan kompleks makam Sabokingking menurutnya dikelilingi air yang menyerupai pulau di tengah danau. Bangunan makam dapat dituju dengan jalan semen yang menghubungkan bangunan utama dengan daratan. Di depan bangunan terdapat gapura tembok berbentuk paduraksa sebagai penghubung jalan dengan bangunan utama.

Baca:  Palembang Belum Miliki Komplek Kuburan Yang Refresentatif

Selain itu  menurutnya, Kompleks makam Sabokingking memiliki denah berbentuk empat persegi panjang dan merupakan bangunan tembok beratap limasan yang didalamnya terdapat makam-makam dengan bentuk lantai bertingkat. Bangunan makam terdiri dari 3 buah teras, dengan perincian setiap teras ada yang memiliki cungkup dan tidak bercungkup.

  1. Teras pertama

Pada bagian teras pertama dimakamkan tokoh seorang panglima besar Ki Mas Agus Bodrowongso atau Ki Abdurahman yang terletak bagian paling bawah sebelah barat bangunan. Selain itu terdapat makam para panglima yang kedudukannya lebih rendah dibandingkan panglima yang dimakamkan di teras kedua.

  1. Teras kedua

Pada bagian teras kedua terdapat 4 buah makam.

  1. Teras ketiga

Teras ketiga merupakan teras yang tertinggi terdapat makam tokoh-tokoh penting yang berjumlah 21 buah disusun dengan penempatan barat ke timur dengan arah hadap utara selatan. Tokoh tersebut adalah :

– Pangeran meninggal di Kenayan

Makam Halaman di Kenayan terletak di tengah-tengah pemakaman diapit oleh Raden Ayu Ratu laut, dan makam Sir Syed (Moh. Omar Al Bashir). Makam berdiri di atas alas / asana unglen kayu. Makam makam dan membuat nisan. Makam yang terbuat dari kayu profil tubuh berbentuk unglen yang memiliki kuil hiasan antefiks di sudut. Nisan sebesar 2 dengan bentuk persegi panjang datar (tipe nisan Demak Troloyo). Pada batu nisan itu adalah motif hias seperti sulur, bunga konstituen, berliku-liku, medali.

Baca:  Kapolresta Palembang Amankan Jalur Kendaraan Sopir Transportasi Online

 

– Raden Ayu Ratu Sinuhun

Makam terdiri dari jirat dan nisan. Jiratnya terbuat dari kayu unglen berbentuk mirip profil tubuh candi yang dilengkapi hiasan antefiks di bagian sudut-sudutnya. Nisannya berjumlah 2 buah dengan bentuk segi empat pipih (tipe nisan Demak Troloyo). Pada nisan terdapat motif hias seperti sulur gelung, bunga ceplok, meander, medalion.

– Tuan Sayid (Moh. Umar Al Idrus)

Pak Sayid dikenal sebagai guru di Halaman Kenayan. Makam berdiri di persegi panjang semen budak. Makam makam dan membuat nisan. Makam yang terbuat dari balok kayu diatur dalam baris unglen berbetuk persegi panjang. Nisan sebesar 2 unglen kayu dengan bentuk persegi panjang datar (tipe nisan Demak Troloyo). Pada batu nisan itu adalah motif hias seperti tujuan, benang teratai, medali

Makam ketiga tokoh di atas ditempatkan pada satu cungkup berdenah segi empat dengan konstruksi tiang kayu. Tiang-tiang kayu berdiri di sebuah umpak terbuat dari bata berplester semen. Di dalam cungkup terdapat hiasan seperti gerigi pada bagian pelipitnya, pola sulur gelung.

Baca:  Ketika Pasukan Inggris Keluar Dari Palembang

Selain itu di pada teras ketiga terdapat makam tokoh-tokoh antara lain : Raden Usman (Purbaya), Putri Sloko, Fatimah Tussadiah, Panglima Moh. Akil, Raden Dendik, Jangsari, Raden Wancik (Kuncung mas), Nyi Mas Ayu Rokiah Khasanah, Putri Perak, Tu Bagus, Jiro Sentiko, Pangeran Ratu Pasarean, Pangeran Antasari (adik Sinuhun), Putri Ayu, Putra Adi Kusuma, Ki Mas Gede Marta, Putri Cilik, Putri Menur.

Penggagas Komunitas Cagar Budaya Robby Sunata mengatakan, Komunitas Sahabat Cagar Budaya merupakan wadah tempatnya orang-orang yang ingin mengenal dan belajar sejarah kotanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, Komunitas Sahabat Cagar Budaya ini yang bergabung kebanyakan anak-anak muda dan orang awam yang ingin mengenal budaya.

“Di Komunitas Sahabat Cagar Budaya ini ada dua kelas yaitu kelas jalan dan kelas duduk. Untuk kelas jalan memperkenalkan bagunan cagar budaya yang ada di Palembang. Jadi benar-benar diajak datang ke tempat bukan hanya ngebayangin aja,” katanya.

Sebab menurutnya generasi milenial itu lebih suka yang visual, bisa terlihat.

Untuk itu diajak jalan-jalan langsung ke lokasi biar mereka bisa foto-foto dan nantinya di masukan ke media sosial seperti Instagram dan biasanya ada hashtag sesuai daerah yang dikunjungi.#osk