SMB IV Sambut Positip Kebijakan Gubernur Sumsel Wajibkan Gedung di Sumsel Tampilkan Simbol Tanjak

6

BP/DUDY OSKANDAR
Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH Mkn didampingi R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam , Sabtu (12/12).

Palembang, BP

Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H Herman Deru akan mewajibkan gedung-gedung yang ada di wilayah Sumsel menggunakan dan menampilkan simbol tanjak. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan karakteristik adat budaya dan kearifan lokal.

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja SH Mkn menyambut positip  kebijakan Gubernur Sumsel H Herman Deru  yang mewajibkan gedung-gedung yang ada di wilayah Sumsel menggunakan dan menampilkan simbol tanjak, karena di Sumsel terutama Palembang  menurutnya memerlukan adanya suatu ciri khas daerah   yang menjadi identitas lokal Sumsel.

“ Dan pak Gubernur  melihat kita ini bangsa melayu,  sehingga beliau ingin mengembangkan bahwa kebiasaan bangsa melayu menggunakan tanjak  Palembang atau Sumsel  yang merupakan bagian budaya melayu , ada di Palembang , beliau ingin menunjukkan kalau kita ini ulu melayu sehingga beliau menggunakan tanjak sebagai gapura atau pintu gerbang semua dinas-dinas , saya sambut positip , sangat baik,” katanya ketika ditemui di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam , Sabtu (12/12).

Baca:  SMB IV Sedih Kesenian Palembang Sudah Banyak Hilang  

Terkait banyaknya jenis tanjak di Sumsel menurutnya itulah kearipan lokal Sumsel  yang dinilai sangat bagus .

“ Kalau misalnya konsepnya tanjak , artinya khan  tanjak bisa dibentuk disitu , jadi tidak hanya tanjak model  di istana Gubernur saja, setiap daerah bisa menonjolkan tanjaknya sesuai daerahnya masing-masing itu boleh dibesarkan tapi  dengan konsep gapura itu adalah tanjak yang merupakan ikat-ikat di kepala  yang digunakan untuk  sehari-hari wong Palembang, Sumatera Selatan yang menggunakan ikat-ikat  dalam kesehariannya ,” kata SMB IV didampingi R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir.

Tanjak menurut pria yang berprofesi sebagai notaris dan PPAT ini menunjukkan kearipan lokal dan identitas  daerah masing-masing di Sumsel walaupun banyak jenis tanjak-tanjak  yang ada di Sumsel .

Baca:  Anggaran Pembebasan Lahan Jembatan Musi IV Capai Rp340,6 Miliar.

Selain itu menurutnya untuk kota Palembang identitas lain yang bisa diangkat adalah seperti penamaan jalan-jalan di Palembang  bisa menggunakan bahasa Arab melayu  atau di daerah menggunakan bahasa kaganga yang itu semua menunjukkan warisan budaya yang masih hidup dan dilaksanakan sampai sekarang.

Terkait kerjasama budaya dengan pihak pemerintah,  SMB IV mengakui sudah ada beberapa lembaga yang bersilaturahmi dengannya beberapa waktu lalu.

“ Kalau dari pemerintahan kemarin kalau dari kota Palembang pernah Sekda Palembang dan  anggota Fraksi PKS pernah datang kesini, juga dari provinsi kita berkoordinasi dengan pembina adat,” katanya.

Mengenai konsep pembuatan pintu gerbang dan gapura  di Sumsel terutama Palembang  dulu dengan menggunakan atap rumah limas.

“Mungkin  bisa juga ada rumah limas , ada yang tanjak , silahkan itu sesuai dengan konsep budaya atau rumahnya masing-masing  sehingga ini menunjukkan kearipan lokal  yang merupakan ciri khas Sumsel. Masak kalau di Lampung  aja ada pakai siger untuk ciri khasnya ,kalau di Bali selalu ada gapura-gapura menunjukkan seperti tempat persembahan dewa dia, Palembang ini apa yang menunjukkan bahwa kita sudah sampai  di Palembang, ini lho kita sudah sampai di Palembang, sehingga kita bisa menunjukkan  bahwa inilah budaya Palembang, bahwa rasanya  sudah bau-bau Palembanglah , sudah ada aura atau rasa di Palembang termasuk di bandara, yang pasti di tempat umum itu wajib,” katanya.

Baca:  Benang Merah Hubungan Palembang -Ternate

Dan kalau bisa menurutnya semua tempat informasi  dan tempat umum  semua pegawai dan pengelolanya di Sumsel termasuk Palembang menggunakan tanjak sehingga  terasa bahwa tengah berada di Sumsel terutama Palembang.#osk