Teror Kembali Terjadi di Sulteng Hendardi: Pemerintah Jangan Lengah

13

Hendardi

Jakarta, BP–Aksi teror dan ekstremisme-kekerasan kembali terjadi di Dusun Lewonu, Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Dari penelusuran beberapa sumber dan informan SETARA Institute di Sulawesi Tengah, empat warga dalam satu keluarga dibunuh secara sadis. Satu rumah ibadah Bala Keselamatan dan enam rumah dibakar. Untuk mengantisipasi terjadinya serangan lanjutan, ratusan warga diungsikan ke tempat lebih aman di Kabupaten Sigi.
“Setara Institute mengutuk tindakan biadab oleh kelompok bersenjata tersebut dan turut berduka cita atas meninggalnya warga sipil korban serangan kemplotan teroris di Sulawesi Tengah “ujar Ketis Setara InstituteHendardi dalam siaran pers nya di Jakarta, Sabtu (28/111).
Dalam analisis Setara Institite kata Hendardi tindakan kekerasan bersenjata secara sadis tersebut diduga dilakukan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, sisa-sisa kelompok Santoso yang belum berhasil diringkus Satuan Tugas Operasi Tinombala.
Menurut dia, jarak antara Poso Pesisir Utara, dimana MIT berbasis dan melakukan aktivitas, dengan Lemban Tongoa hanya sekitar 23-25 Kilometer. Kabupaten Sigi sendiri secara geografis berada di antara Kabupaten Poso dan Kabupaten Parigi Moutong yang selama ini dianggap sebagai teritori MIT Poso.
Dia mendesak agar Satgas Operasi Tinombala yang masa tugasnya sudah diperpanjang sampai 31 Desember 2020 agar mengoptimalkan sisa masa tugas untuk perburuan belasan anggota MIT Poso yang masih berkeliaran di hutan dan pegunungan sekitar Poso. Komplotan teroris Poso tersebut tidak boleh diremehkan, apalagi dianggap lemah. Pasca tewasnya Santoso dan tertangkapnya Basri pada 2016, Ali Kalora telah mengambil alih kepemimpinan MIT Poso dan hingga kini tak tersentuh aparat. Satgas dan seluruh aparat keamanan harus menjamin seluruh warga negara, termasuk di pedalaman dan pegunungan Sulawesi Tengah, dari serangan kelompok manapun yang mengancam keamanan dan keselamatan mereka.
“Kami mendesak pemerintah, khususnya aparat keamanan tidak lengah mengantisipasi konsolidasi dan bangkitnya sel-sel tidur terorisme dan ekstremisme-kekerasan. Peningkatan kekecewaan publik belakangan ini atas kinerja pemerintahan di berbagai bidang, dalam seluruh cabang kekuasaan, dapat dimanfaatkan oleh sel-sel tidur dan jaringan terorisme dan ekstremisme kekerasan untuk mendapatkan momentum dan melakukan konsolidasi.
Terorisme dan ekstremisme-kekerasan lanjut dia tidak mengenal agama. Oleh karena itu, SETARA Institute mendorong tokoh lintas agama sama-sama mengutuk kekerasan yang digunakan kelompok tertentu atas nama agama. Selain itu, mereka hendaknya bersama-sama membangun kehidupan keagamaan yang teduh. Setara Institute juga mendorong mereka mengaktualisasikan spirit Rencana Aksi Rabat Maroko 2012 dan Deklarasi Beirut Lebanon 2017, bahwa kebencian yang menghasut terjadinya diskriminasi, permusuhan, dan kekerasan, adalah ‘musuh’ bersama lintas agama.
Dalam konteks yang sama, Setara Institute menghimbau agar kasus terorisme dan ekstremisme-kekerasan seperti di Sulawesi Tengah tidak dimanfaatkan sebagai isu sosial-politik apapun oleh kelompok manapun untuk memantik segregasi sosial-politik atau sosial-keagamaan di tengah-tengah masyarakat.#duk