Home / Headline / Ratu Sinuhun Dari Palembang Layak Jadi Pahlawan Nasional

Ratu Sinuhun Dari Palembang Layak Jadi Pahlawan Nasional

BP/IST
Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa bekerja sama dengan Museum Basoeki Abdullah menggelar seminar dan webinar dengan mengangkat tema ‘Peran Perempuan Sumatera Selatan Dalam Perspektif  Budaya’ di Aula Museum Negeri Sumatera Selatan, Rabu (11/11).

Palembang, BP

Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa bekerja sama dengan Museum Basoeki Abdullah menggelar seminar dan webinar dengan mengangkat tema ‘Peran Perempuan Sumatera Selatan Dalam Perspektif  Budaya’ di Aula Museum Negeri Sumatera Selatan, Rabu (11/11).

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari acara Pameran Bersama Museum Negeri Sumatera Selatan, yang berlangsung 10-19 November 2020.

Acara seminar menghadirkan dua narasumber, yakni Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diraja SH Mkn dan Merry Hamraeny selaku Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel). Bertindak selaku moderator, wartawan senior Anto Narasoma.

SMB IV mengatakan,  menilai perempuan-perempuan di  Palembang Darussalam di masa lalu sesuai syariat Islam sehingga di muliakan.

“ Apalagi ada undang-undang simbur cahaya Ratu Sinuhun ternyata memiliki aturan yang melindungi dan lebih meninggikan nilai-nilai perempuan pada saat itu, jadi perempuan di Palembang sudah lebih di jaga baik secara gender, baiks ecara feminisme  itu sudah di jaga ketika di Kesultanan Palembang Darussalam,” katanya.

Dia melihat Ratu Sinuhun adalah salah satu tokoh feminisme perempuan dimana dia memiliki kemampuan untuk membuat aturan-aturan yang berlaku di uluan Palembang sehingga itu bisa menjadi tokoh dan bisa ditingkatkan penjadi tokoh pahlawan nasional.

“Bicara emansipasi, Palembang lebih dahulu dari RA Kartini, emansipasi perempuan di Kesultanan Palembang Darussalam itu  sudah ada sejak zaman dahulu dan penghargaan kepada perempuan dan nilai-nilai perempuan sudah sangat tinggi dari zaman Kesultanan Palembang Darussalam, itu yang harus di ingatkan masyarakat,” katanya.

Sementara Merry Hamraeny melihat harkat dan martabat perempuan Palembang sudah diangkat sejak abad 16 terutama peran Ratu Sinuhun dengan membuat undang-undang simbur cahaya dimana dalam aturan tersebut sudah ada terobosan-terobosan kepada kaum perempuan.

“Bagaimana peran perempuan di masyarakat uluan , bagaimana masyarakat mempercayakan perempuan ada istilah tunggu tubah, artinya warisan dipercayakan kepada anak perempuan untuk mengelola , sejak dulu emansipasi perempuan Palembang lebih dulu dan lama ini harus kita angkat,” katanya

Dia memiliki obsesi agar  Ratu Sinuhun diangkat sebagai pahlawan nasional. “Beliau adalah sosok luar biasa yang bisa menulis undang-undang Simbur Cahaya yang sangat terkenal. Undang-undang ini masih dijadikan panutan. Bahkan ada hukum yang digunakan masyarakat,”  katanya.

Kepala Museum Basoeki Abdulah Maeva Salmah mengatakan, tema perempuan diangkat dalam seminar kali ini, tak lain lantaran kekaguman almarhum pelukis terkemuka, Basoeki Abdullah terhadap sosok ibunya.

“Seorang Basoeki Abdullah (almarhum) sangat mengagumi sosok wanita. Ibunya adalah idola beliau. Lantaran acara ini diselenggarakan di Sumsel, makanya dikaitkan peran perempuan Sumsel dalam perspektif budaya,” ujar Maeva usai membuka acara.

Kegiatan digelar secara tatap muka dan virtual. Diikuti sebanyak 50 peserta di aula, yang merupakan guru dan mahasiswa, serta 40 audiens secara virtual.

Dikatakan, Sumsel memiliki tokoh wanita yang sangat berpengaruh di abad 16, Ratu Sinuhun. Dia merupakan penulis Kitab Simbur Cahaya, yang merupakan undang-undang tertulis perpaduan antara hukum adat dengan ajaran Islam.

“Para perempuan di Sumsel harus punya spirit seperti Ratu Sinuhun, mencontoh beliau. Perempuan-perempuan di Sumsel harus menjadi penggerak keluarga, baik sebagai ibu rumah tangga, pendidik, dan wanita karir. Tetapi tidak menghilangkan harkat dan martabatnya sebagai wanita,” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan dia, target yang ingin dicapai dari kegiatan ini, peserta memahami tentang peran perempuan Sumsel dalam perspektif budaya.

“Peserta dari kalangan guru bisa menularkan kepada anak didiknya bagaimana peran perempuan Sumsel dalam perspektif budaya,” katanya.

Ia mengucapkan terima kasih atas jalinan kerja sama yang semakin mesra dengan Museum Negeri Sumatera Selatan. Ini adalah kali ketiga, pihaknya berkolaborasi dengan museum pimpinan H Chandra Amprayadi itu.

“Kami sangat berterima kasih kepada pihak Museum Negeri Sumatera Selatan atas kerja sama yang harmonis ini. Pastinya kami akan membantu mensukseskan acara Pameran Bersama, yang digelar Museum Negeri Sumatera Selatan,” katanya.

Sementara Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa Chandra Amprayadi mengatakan, seminar ini bermaksud untuk mengenang jasa para pahlawan. Salah satunya Ratu Sinuhun.

“Beliau adalah seorang perempuan, yang bisa membuat peraturan perundang-undangan Simbur Cahaya, yang dipakai di Sumsel dan sekitarnya,”  katanya.

Menurutnya, peran wanita saat ini sangat diperlukan untuk memajukan bangsa dan negara. Dimulai dari keluarga. Bagaimana seorang ibu harus bisa mengarahkan anaknya agar tidak diperbudak gawai, menanamkan budi pekerti, dan pendidikan karakter kepada anak. “Jangan sampai anak-anak kita tergerus kemajuan teknologi,” katanya.#osk

x

Jangan Lewatkan

BPK , KPI Bersama PWI Sumsel Bersinergi Tingkatkan Kerja Sama

Palembang, BP Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Sumatera Selatan dan  PWI Sumsel serta Komisi Informasi Publik (KIP) Sumsel bersinergi dan menjalin ...