Home / Headline / Hingga Kwartal Kedua Tahun 2020,  Penjualan Rumah MBR  di Sumsel Turun 40 Persen

Hingga Kwartal Kedua Tahun 2020,  Penjualan Rumah MBR  di Sumsel Turun 40 Persen

BP/DUDY OSKANDAR
Ketua dan Pengurus DPD APERSI Provinsi Sumsel

Palembang, BP

Dampak pandemi Covid-19 di Indonesia berdampak kepada sektor properti khususnya penjualan rumah MBR atau rumah bersubsidi termasuk di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

“Hingga kwartal kedua, telah terjadi penurunan penjualan hingga 40 persen dari tahun sebelumnya. Dari data DPD APERSI Sumsel, penjualan rumah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) atau rumah bersubsidi baru terserap 900 unit rumah saja,”  kata Ketua DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia(APERSI) Sumsel, periode 2020-2024, Syamsu Rusman kepada wartawan, Rabu (4/11).

Padahal menurutnya, APERSI memiliki program nasional pembangunan 10.000 rumah murah  setiap tahun.

Padahal di tahun 2019 APERSI Sumsel berhasil merealisasikan pembangunan sebanyak 2.500 unit rumah murah yang dibangun di seluruh Kabupaten/kota di Sumsel.

“Tahun kemarin sebelum Covid-19 APERSI berhasil merealisasikan di angka 2.500 unit. Namun jika wabah ini belum berakhir juga di tahun ini, kemungkinan sektor properti khususnya rumah murah akan semakin sulit,”  katanya..

Untuk mengatasi keadaan tersebut, maka  APERSI melakukan berbagai terobosan agar perusahaan-perusahaan di bawah APERSI tetap bertahan meski terjadi penurunan penjualan secara signifikan.

“APERSI kini punya koperasi. Lewat kopersi tersebut, diharapkan dapat menjadi solusi jika perusahaan membutuhkan sedikit bantuan pendanaan di tengah krisis. Selain itu, APERSI juga tetap memperkokoh sinergi dengan perbankan,” kata Syamsu.

Sekretaris DPD APERSI Sumsel, Adi Kurniawan Bima didampingi Wakil Ketua Bidang Organisasi, Agustiawan Rama Putra menambahkan untuk  perkembangan perusahaan properti tergantung atas penjualan dan trust masyarakat pada produk perumahan yang dibangun.

“Sebenarnya seluruh sektor yang kena. Tapi harap di pahami, sektor properti cenderung pada investasi,  hingga semakin lama harga properti semakin naik dan tidak bakalan turun,” katanya.

Diakuinya dampak yang di rasakan para pengusaha properti saat ini lebih pada situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Dan tidak menyentuh pada produk properti sebagai aset dan memiliki nilai yang harganya cenderung naik.

Jikapun sedang dilakukan pembangunan, maka hutang perbankan yang harus di bayar oleh perusahaan properti dapat di relaksasi atau dilakukan penundaan dalam jangka waktu tertentu.

“Karena itulah APERSI sangat intens untuk bersinergi dengan perbankan jaringan APERSI. Hingga pengurangan beban perusahaan dapat di atasi lewat penundaan pembayaran cicilan di perbankan,dan terbantukan oleh Koperasi yang dikelola oleh APERSI Sumsel,” katanya.

Walaupun demikian pihaknya tetap optimis bisnis properti khususnya rumah murah bersubsidi tetap menjadi sektor yang menjanjikan. Karena itu meski bencana Covid-19 masih terjadi, sektor perumahan tetap menjanjikan dan di butuhkan oleh masyarakat secara luas.#osk

x

Jangan Lewatkan

Wakil Ketua MPR: Imbau Kepala Daerah Fokus ke Pengemban SDM

Jakarta, BP–Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad mengimbau kepala daerah di Gorontalo untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM), berfokus kepada pemantapan ...