Home / Budaya / Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu (1819 – 1821 )

Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu (1819 – 1821 )

BP/IST
Dalam rangka peringatan ke 200 tahun penobatan Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu Ibn Suhunan Mahmud Badaruddin Raden Hasan, Dewan Pendiri Yayasan Persaudaraan Darussalam Bergerak Karena Allah (Persada Begenah),  RM Fadli Rahman SE MM berziarah ke makam Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu di Ternate pekan lalu.

MASYARAKAT  Palembang dan Sumatera Selatan kurang mengenal  sosok Sultan Ahmad Najamuddin adalah Sultan Palembang Darussalam ke 9, yang memerintah dimasa akhir Kesultanan Palembang Darussalam.
Namanya ; Raden Cik, sebagai putra Mahkota bergelar ; Pangeran Ratu, Ayahnya  adalah Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II (Raden Hasan) yang merupakan pahlawan nasional.

Ibunya ; Isteri pertama SMB II, bergelar Ratu Sepuh Asma binti Pangeran Adipati Banjar Rukma.

Pangeran Ratu adalah Putra sulung dari 13 bersaudara kandung. Sebagaimana Putra Mahkota, Ia di didik dan di tempa untuk menjadi Pewaris Tahta Kesultanan Palembang Darussalam.

Pendidikan agamanya dari Syekh Kiagus Muhammad Akib (dari Gurunya ini, ia mengambil dan mengamalkan tarekat sammaniyyah ), Kgs.M. Zen, Kemas Muhammad bin Ahmad, Sayyid Muhammad Arif Jamalullail dan lain-lain.

Pada masa Ayahandanya , SMB II memerintah dan berperang dengan Inggeris dan Belanda, beliau menjabat sebagai Pangeran Ratu ( Putra mahkota pewaris tahta), Utusan SMB 2 ke Betawi, Panglima Perang Benteng Martapura dan lain-lain

Inggris dan Belanda sangat membenci dan menjelekkan beliau.
1. Laporan kolonel Gillespie di Palembang kepada Letnan Gubernur Raffles ;
“……..bahwa Pangeran Ratu putra tertua Sultan adalah ;
Penjahat yang paling menjijikan dan tidak bersusila biadab, pembunuh, setan ( monster ), suka mengambil isteri dan anak anak perempuan orang dan lain sebagainya.

2. Edelheer Muntinghe sebagai Komisaris Belanda di Palembang memberikan ultimatum kepada SMB II untuk menyerahkan, Pangeran Ratu, Putra SMB II, karena dituduh terlibat dalam penghadangan di Uluan, sewaktu E.Muntinghe mengadakan infeksi di daerah daerah ( dari 13 juli sampai 16 Agustus 1818 )

Setelah merayakan kemenangan Kesultanan Palembang melawan Pasukan Komisaris Belanda E.Muntinghe ( 10 Juni sampai 15 juni1819 ) dan Pasukan Admiral C.J.Wolterbeek ( 21 Oktober 1819 )

Maka pada hari Senin 1 Nopember 1819, dinobatkanlah Pangeran Ratu bin SMB II, menjadi Sultan Palembang Darussalam yang ke 9, bergelar ; Sultan Ahmad Najamuddin
Sedangkan Ayahnya menjadi Susuhunan Mahmud Badaruddin

Dua tahun Kesultanan Palembang merdeka tidak dibawah pengaruh siapapun juga.
Sultan Ahmad Najamuddin di dampingi ayahandanya Susuhunan menata kembali kesultanan dan membenahi pertahanan di sepanjang Sungai Musi, Sultan dan Sunan cukup berpengalaman menghadapi Belanda yang pasti akan kembali menyerang

Benar saja, pada tanggal 9 mei 1821 berangkatlah suatu armada besar dari betawi yang dipimpin oleh Panglima Angkatan darat Belanda, Mayor Jendral Baron De Kock, terdiri dari 70 kapal perang.

Tanggal  22 Juni 1821 pasukan ini memulai penyerangan.

Dengan tipu muslihat dan adu domba akhirnya Kesultanan Palembang Darussalam dapat dikalahkan
Sultan, Susuhunan, keluarga dan kerabat diasingkan ke Ternate

Sultan Ahmad Najamuddin Wafat di Ternate pada malam ahad jam 3 fajar, 2 Rajab 1277 H (1860), dalam usia 71 tahun
“Semoga Allah mengangkat derajat beliau di sorga”

Bagi kami Beliau adalah Pahlawan yang gagah berani, bersanding dengan ayahnya Sultan Mahmud Badaruddin II.#Rill

Sumber :

  1. Silsilah keluarga penulis
  2. Silsilah keluarga Letkol Purn RHM.Yusup Prabu Tenaya
  3. Literatur lama dari kampung Padang Burnai dan Muara Beliti
    Dsb

Bandung, 29 Oktober 2020

R.A.Berlian Panembahan Palembang.

x

Jangan Lewatkan

Aksi Curanmor di Sukarami Terekam CCTV

Palembang, BP Sambil menggunakan jas hujan, dua orang pria terekam CCTV saat melancarkan aksi tindak pidana pencurian kendaraan bermotor di ...