Home / Headline / Museum Destinasi Wisata dan Gaya Hidup

Museum Destinasi Wisata dan Gaya Hidup

Oleh : Maspril Aries

Wartawan Utama/ Penggiat Kaki Bukit Literasi

 

Kapan anda terakhir berkunjung ke museum? Musem apa yang anda kunjungi? Dimana?

 

Bisakah anda memberi jawaban atas tiga pertanyaan tersebut? Jangan-jangan anda sudah lupa kapan waktu berkunjung ke museum. Satu tahun yang lalu, dua tahun yang lalu, lima tahun lalu atau belum pernah sekalipun berkunjung ke museum yang ada di kota anda.

 

Jika lupa kapan waktu berkunjung ke museum, apakah anda juga tahu tanggal berapa peringatan Hari Museum Indonesia? Atau tanggal berapa Hari Museum Internasional? Tanggal 12 Oktober setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Museum Indonesia dan setiap tanggal  18 Mei diperingati sebagai Hari Museum Internasional.

 

Ketidaktahuan dan lupa adalah indikasi bahwa banyak diantara kita yang kurang peduli dengan keberadaan museum yang ada dan berdiri di sekitarnya, di kotanya dan di daerahnya. Berarti pula sudah lama museum kita lupakan.

 

Kondisi ini tentu berbeda dengan museum-museum di banyak negara maju, museum selain sebagai destinasi wisata wajib dikunjungi dan sudah menjadi bagian dari gaya hidup (life style) masyarakatnya. Dalam daftar 10 museum yang paling banyak dikunjungi di dunia, pada pada 2019 peringkat pertama Louvre Museum di Paris dengan jumlah pengunjung 9,6 juta tamu. Kemudian peringkat berikutnya National Museum of China di Beijing, Vatican Museums, serta The Met New York.

 

Berapa jumlah pengunjung museum di Indonesia? Tentu kalah jauh jumlahnya dibandingkan dengan negara-negara maju. Mengapa museum di  Indonesia atau Sumatera Selatan sepi pengunjung? Salah satu jawabannya, karena sebagian besar masyarakat sudah lupa dengan museum, karena kita lebih akrab dengan mal atau super market dengan segala kegemerlapannya.

 

Mal di kota-kota besar telah menjelam menjadi destinasi wisata sekaligus menjadi gaya hidup, bukan hanya masyarakat kota tapi juga dari daerah. Jika itu yang terjadi mari kita mulai dengan membangun kebiasaan berkunjung, berwisata atau berekreasi ke museum khususnya dengan menumbuhkan dan memupuk kepada anak-anak pelajar SD, SMP, SMA bahkan mahasiswa. Wisata yang murah dan meriah sekaligus mendapat ilmu pengetahuan adalah dengan berkunjung ke musem.

 

Museum tidak hanya sekedar menyimpan kepurbakalaan dan keusangan semata, tapi dari situ kita bisa menyusun langkah-langkah apa yang akan dilakukan ke depan. Karena di museum tersimpan pondasi bangsa ini bagaimana bisa maju dan besar seperti sekarang. Salah satu museumnya  Museum Negeri Sumatera Selatan (Sumsel) adalah tempat yang menyimpan spirit Kerajaan Sriwijaya yang akan terus mendorong Provinsi Sumatera Selatan terus maju.

 

Sudah saatnya stakeholder terkait seperti Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel bersama Dinas Pendidikan mencanangkan “Pekan Kunjungan Museum” khususnya bagi para pelajar pada akhir pekan atau hari minggu bisa berkunjung ke museum, melihat, mencatat dan belajar apa saja yang ada di dalam museum.

 

Kemudian agar kunjungan tersebut tidak menjadi suatu yang sia-sia, bukan hanya sekedar menjadikan museum sebagai tempat berswafoto maka para pelajar tersebut diajak dan dilibatkan menuangkan hasil kunjungan atau rekreasi ke museum tersebut dalam sebuah karya tulis. Para pelajar bisa menuliskan pengalaman dan pelajaran yang diperolehnya saat berkunjung ke museum.

 

Hasil karya tulis ini kemudian dijadikan agenda perlombaan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel yang bisa bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dan stake holder pariwisata lainnya. Setiap awal bulan dipilih dua atau empat pelajar menjadi pemenang untuk tingkat SMP dan SMA. Para pemenang memperoleh penghargaan atau hadiah yang bermanfaat bagi menunjang pendidikannya.

 

Ini cara yang sederhana menanamkan kecintaan anak didik terhadap museum, sekaligus menjadi langkah kecil mengembangkan sebuah rekreasi menjadi wisata museum. Museum adalah obyek atau destinasi wajib bagi sebuah paket wisata. Kemana pun rute paket wisata yang ditawarkan, selalu ada salah satu tujuannya adalah mengunjungi museum.

 

Membangun pariwisata di Sumsel bisa dimulai dengan berkunjung ke museum adalah langkah awal ini bisa menjadi sebuah pondasi dasar bagaimana membangun pemahaman terhadap wisata sejarah. Mari memulai membangun wisata museum dengan “Pekan Kunjungan Museum.”  Pengelola museum bersama-sama dengan komunitas lainnya terus menggemakam

tagline “Ayo ke Museum.”

 

Menjadikan museum sebagai destinasi wisata dan gaya hidup adalah untuk menepis kesan yang menganggap museum tidak lebih dari gudang atau tempat benda-benda kuno yang dipamerkan ke masyarakat atau pengunjung. Berkunjung ke museum adalah aktivitas pariwisata budaya (cultural tourism), dimana wisatawan mengunjungi aset budaya atau hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan suatu masyarakat di destinasi wisata. Wisatawan yang datang ke destinasi wisata dan berkunjung ke museum dikategorikan sebagai pengunjung (visitor) museum.

 

Museum Balaputra Dewa dan museum lainnya dapat disebut sebagai destinasi  wisata buatan (built environment attraction). Museum dibangun untuk kebutuhan pelestarian koleksi serta penikmatan manusia atas eksistensi suatu benda-benda peninggalan manusia.

 

Setiap mereka yang berkunjung ke sebuah museum akan memperoleh pengalaman yang tertoreh dalam ingatannya. Museum yang memamerkan aneka koleksi atau memiliki koleksi khusus yang khas tentu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Seperti daya tarik Rumah Limas yang menjadi latar foto uang Republik Indonesia pecahan Rp10.000 yang dicetak tahun emisi 2005 dan 2010 adalah magnet dari Museum Negeri Sumsel.

 

Ke depan museum sudah saatnya dikonstruksi sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat. Gaya hidup adalah kesenangan, salah satu fungsi didirikannya museum adalah untuk kesenangan. Museum sudah seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan dan dapat memberikan pengalaman baru bagi

Pengunjungnya. Museum bisa menjadi gaya hidup milenial dengan tetap menjaga fungsi utamanya untuk melindungi dan melestarikan berbagai koleksinya.

 

Mengutip pakar manajemen Philip Kotler bahwa tidak semua pengunjung museum adalah wisatawan, namun mereka pengunjung museum memiliki jalinan yang kuat dengan pariwisata. Dari 435 unit dan tersebar di

Indonesia menurut Abadi Raksapati staf peneliti P-P2Par ITB, tidak ada data

kolektif resmi yang menunjukkan seberapa besar tingkat kunjungan wisatawan ke museum-museum di Indonesia.

 

Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahilah tahun 2018 mencatat jumlah kunjungan mencapai 868.033 orang. Museum Bank Indonesia berjumlah  250.000 orang, Museum Angkut dan Museum Satwa di Malang tahun 2017 dikunjungi 339.002 orang dan 276.091 orang. Jumlah itu tentu masih kalah jauh dibanding kunjungan wisatawan ke museum-museum top dunia. Inilah salah satu tugas pengelola museum untuk terus mempromosikan musemnya ke masyarakat selain menjalankan tugas menata dan menjaga koleksi museum.

 

Di era milenial sudah saatnya mendorong digitalisasi museum dan menciptakan suasana edutaiment yang interaktif seperti memberikan

pengalaman serta cerita yang menarik bagi pengunjung. Digitalisasi dengan penerapan e-Museum akan menjadi media penyaji informasi koleksi musem dari benda-benda sejarah dan anek budaya yang ada di Sumatera Selatan. Digitalisasi museum akan memadukan antara gaya hidup dan pariwisata.

 

“Ayo ke Museum” dengan menjadikan museum sebagai bagian dari gaya hidup dan menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi. ∎∎

x

Jangan Lewatkan

Debat Publik Kedua Bupati Muratara , Kandidat Tawarkan  Kesejahteraan Rakyat

Palembang, BP Debat publik kedua pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Musi Rawas Utara (Muratara) digelar Senin (23/11). Pemilihan kepala daerah ...