Home / Headline / Cawisan, Kearipan Lokal Masyarakat Palembang Berbasis Kitab Terpercaya

Cawisan, Kearipan Lokal Masyarakat Palembang Berbasis Kitab Terpercaya

BP/IST
Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I

Palembang, BP

 SEJAK  zaman Kesultanan Palembang Darussalam, masyarakat Palembang memiliki kearipan lokal sendiri guna menangkal berita-berita hoak dan tindakan radikal jemaahnya sendiri.

Kearipan lokal tersebut bernama Cawisan, Cawisan sendiri merupakan metode dakwah sejak masa Kesultanan Palembang , Cawisan dibawa oleh para ulama atau kiai untuk menyiarkan Islam ke Sumatera Selatan (Sumsel).

Cawisan berisikan  zikir dan belajar agama Islam menggunakan atau berbasis kitab-kitab dari sumber-sumber yang terpercaya.

Kitab yang diajarkan adalah kitab sesuai dengan keilmuan sang ulama, seperti fiqh, tauhid dan sebagainya.

Dulu di masa perlawanan melawan penjajahan Belanda  ,banyak ulama Palembang melalui cawisannya menyampaikan semangat perjuangan anti-penjajahan seperti pada Sabtu, 18 Sya’ban 1234H (12 Juli 1819) ulama kharismatik Palembang era Kesultanan Palembang Darussalam Kemas Said dan Haji Zen selaku wakil dan komandan laskar jihad Kesultanan Palembang Darussalam menerima kehadiran utusan sultan di kediaman masing-masing membawa perintah sultan.

Sultan meminta mereka untuk segera menghadap ke keraton Kuto Besak. Lalu pada saat itu juga mereka bergegas menuju keraton menghadap sultan. Baginda kemudian menginstruksikan agar mengumpulkan seluruh menteri, priayi, pangeran, para ulama sufi, rakyat serta para haji utk berjihad fi sabilillah dengan terlebih dahulu melakukan cawisan dan ritual zikir Ratib Samman.

Dari sinilah kemudian terpacu perang secara terbuka.

Dengan teriakan ,Allahu Akbar’, Kemas Said dan pasukannya dengan gagah perkasa menyerang pasukan Belanda di Kuto Lamo.
Serangan balasan pun dengan sengit dilakukan oleh pihak musuh. Kemas Said dan kedua sahabatnya, Haji Zen dan Haji Lanang, dikepung serta dihujani tembakan-tembakan.

Bertubi-tubi peluru datang menghantam tubuh mereka. Ketiga serangkai ini kemudian roboh bersimbah darah dan gugur sebagai syuhada.

Jauh sebelum itu ada Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani, seorang tokoh sufi penulis kitab-kitab sufi yang berasal dari Palembang yang dilahirkan pada 1116 H/1704 M, meninggal di Pattani, Thailand pada 1832.

Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani merupakan salah satu kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara.

Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani juga dikenal berperan menyebarkan ideologi anti-penjajahan. Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani diketahui ikut menyerukan jihad terhadap Belanda yang menindas kaum Muslim di seantero Nusantara melalui cawisannya atau ceramah agama yang dia sampaikan.

Malah, para mujahid Aceh yang berperang melawan Belanda terinspirasi oleh karya sang syekh ini . Selain itu, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani juga kerap bersurat dengan raja-raja Muslim di Nusantara untuk menggelorakan semangat jihad terhadap penjajah.

Menurut Wakil Ketua Pembina Yayasan Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo  Drs. H. Mal An Abdullah, hingga saat ini Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau bisa di kenal masyarakat dengan nama Masjid Agung Palembang, hingga kini masih terus menjalankan tradisi Cawisan tapi  tradisi ini sempat terhenti karena pandemi covid-19.

Cawisan di Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo biasanya dilakukan empat waktu yaitu sesudah subuh, sesudah zuhur, sesudah ashar dan sesudah magrib.

“Sekarang sudah di mulai lagi tapi dengan perhitungan  kehati hatian,” kata Mal An Abdullah , Senin (26/10).

Cawisan  menurut ulama Palembang ini , merupakan tradisi dengan berbasis kitab dari sumber-sumber terpercaya sehingga tidak ada interpretasi bebas dari ulama itu sendiri.

“Misalnya Kiyai Daud yang ahli fiqih  beliau mengajar disejumlah tempat dengan kitab fikih tertentu  dan belum tentu sama antar tempat itu tapi tetap berbasis dengan kitab tertentu,” katanya.

Cawisan sendiri menurutnya merupakan sumber informasi yang paling diyakini masyarakat Palembang hingga kini, karena tidak sembarangan sumbernya  dan bukan interpretasi sendiri dari yang mengajarkan Cawisan.

Dia menyayangkan sampai sekarang masyarakat banyak mendapatkan ceramah bebas sehingga menyebabkan kreteria ulama tidak terukur.

“ Kalau berbasis dia harus bisa membaca kitab, kalau yang ada ini belum tentu dia bisa, itu yang kita lihat di TV, lho ini yang ceramah enggak ngerti bahasa Arab , ini menimbulkan sikap radikal masyarakat karena ceramahnya  bebas tidak berbasis kitab sehingga pengetahuannya tidak terukur yang penting retorikanya bagus , ketika retorikanya menarik macam-macam muatan bisa di sisipkan orang,” katanya.

Apalagi tradisi intelektual Islam itu haruslah berbasis kitab Islam yang terpercaya seperti di masyarakat Palembang yaitu kitab-kitab berbasis mazhab Syafii.

Apalagi menurutnya seorang ulama itu , apa yang dia sampaikan itu haruslah  terjaga, terpelihara , karena itu tidak sembarangan dan tidak mengajarkan jemaahnya melakukan kekerasan kecuali melawan penjajahan Belanda zaman dulu.

Dan pihaknya bersama pengurus Masjid Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, Palembang tetap berusaha mempertahankan tradisi cawisan tersebut.

Hal senada dikemukakan sejarawan Sumsel Kemas Ar Panji, “Dulu masyarakat percaya informasi yang diberikan ulama melalui cawisan ini daripada pemerintah Belanda atau Jepang,” katanya.

Apalagi dalam cawisan itu dulu, tua muda, laki-laki dan perempuan ikut terlibat dan yang disampaikan ulama dalam cawisan bukan hanya masalah umum, juga masalah agama dan kehidupan sehari-hari.

“Di sela-sela mengajarkan agama Islam, ulama juga menyelipkan informasi-informasi terpercaya. Nah, di situ masyarakat dulu percaya dengan informasi yang disampaikan para ulama karena valid dan anti-hoak,” katanya.

Menurut Kemas, cawisan merupakan suatu kearifan lokal di Palembang yang lama hidup dan ternyata mampu membentengi masyarakat dari pemahaman menyesatkan dan berita hoaks.

“Kalau sekarang walaupun anak mudanya lebih banyak sibuk dengan HP dan medsos, masih banyak anak-anak muda yang ikut cawisan terutama anak-anak di pesantren dan para santri, termasuk orang-orang tua sekarang masih banyak mendengarkan cawisan ini,” katanya.

Sedangkan sejarawan kota Palembang Rd Moh Ikhsan menilai kalau cawisan adalah murni masalah agama yang disampaikan ulama.

“Tapi apa yang disampaikan ulama dulu murni soal agama di mana apa yang disampaikan tidak ada yang berkaitan dengan kebohongan. Saya dulu waktu kecil sering ikut cawisan, itu tadi yang disampaikan soal agama saja,” katanya.#osk

 

 

 

x

Jangan Lewatkan

Pria di Palembang Tega Pukul Kepala Ibu Kandung karena Tak Diberi Uang

Palembang, BP Seorang pria muda di Palembang tega menganiaya ibu kandungnya dengan memukul kepala dan menendang perut. Perilaku tak terpuji ...