Home / Headline / Sisa-Sisa Kejayaan Masa Lalu Uluan  Palembang Berada di Rumah Hj Rukimah Malisin

Sisa-Sisa Kejayaan Masa Lalu Uluan  Palembang Berada di Rumah Hj Rukimah Malisin

BP/IST
Suasana Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Chandra Amprayadi bersama Sejarawan Sumsel, Kemas Ari Panji melihat koleksi dari Hj Rukimah Malisin (72).

Palembang, BP

Daerah otonom di uluan  Palembang  dulu  terpilah-pilah dan terpisahkan satu sama lain dalam bentuk pemerintahan kemargaan, marga. Marga ini berbentuk sebuah wilayah yang lebih banyak ditentukan berdasarkan wilayah administrasi genealogis, seketurunan.

Wilayah uluan Palembang dikuasai oleh elit-elit para “orang besar” dan “orang kaya” yang umumnya berasal dari satu kekuatan saja, yakni para pasirah. Mereka ditempatkan sebagai “orang besar” karena struktur politik dan “orang kaya” karena sistem ekonomi yang terbentuk sedemikian rupa. Sebagai “orang besar” pasirah memiliki dua peranan dalam masyarakatnya, yakni sebagai kepala pemerintah, kedudukannya adalah pemimpin politik marga dan sebagai kepala adat, kedudukannya sebagai pemimpin sosial. Kemakmuran komersial didaerahnya masing-masing menyebabkan mereka dapat tumbuh sebagai agen perdagangan, selain penguasa lokal, dalam proses melibatkan arus barang dan jasa ke ibukota Palembang.

Sisa –sisa kejayaan masa lalu di uluan Palembang terlihat saat Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Chandra Amprayadi melakukan survei ke sejumlah lokasi, dari Kabupaten Ogan Komering Ilir hingga OKU Selatan, rabu (14/10).

Di Kota Kayuagung, Kabupaten OKI, tepatnya di Kelurahan Sidakersa, Kecamatan Kayuagung, ia mengunjungi rumah Hj Rukimah Malisin (72). Ibu ini memiliki banyak barang peninggalan keluarga turun temurun. Mulai dari keramik, meja batu, lemari bari, peti kayu, pedang dan keris, hingga peralatan rumah tangga. “Barang-barang di rumah ibu ini terawat dan terpelihara dengan baik,” katanya, Rabu (14/10).

Koleksi yang dimiliki  Hj Rukimah berusia sangat tua. Berasal dari zaman Kerajaan Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang Darussalam seperti lemari bari diperkirakan dari zaman Kesultanan Palembang. Lalu piring-piringnya kemungkinan dari zaman Sriwijaya dan kesultanan, yang dibawa oleh pedagang Cina.

Selain melalui jalur perdagangan, barang-barang antik yang dimiliki Hj Rukimah  merupakan pemberian dari orangtua.   Tak semua orang bisa memiliki barang-barang antik tersebut. Melainkan hanya mereka yang punya kedudukan penting pada masa pejajahan Belanda.

“Kemungkinan orangtua dari ibu ini pejabat pada zaman pemerintahan Belanda. Makanya bisa memiliki barang-barang tersebut,” kata Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Chandra Amprayadi.

Sejauh ini, ia mengatakan, pihaknya baru sebatas melihat-lihat barang antik milik warga, apakah sesuai dengan kriteria koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan.

“Kami masih studi koleksi. Dilihat dulu kira-kira mana yang cocok untuk jadi koleksi museum dan mana yang belum ada di museum. Saat ini kita sedang melakukan pendekatan,” katanya sembari mengatakan dalam pembicaraan dengan ibu tersebut, ia mendapat kesan ibu itu bersedia menghibahkan koleksinya kepada Museum Negeri Sumsel.

Kunjungan lanjutan Kepala Museum Negeri Sumsel yang ditemani seorang stafnya dan sejarawan Kemas Ari Panji, melanjutkan perjalanan ke OKU Selatan dengan mengunjungi  Candi Jepara dan Candi Lesung Batu di Desa Subik, Kecamatan Buay Pematang Ribu Ranau Tengah, Kabupaten OKU Selatan. Lokasi situs cagar budaya ini berada di dekat Danau Ranau yang belum banyak di ekspose ke publik.#osk

x

Jangan Lewatkan

11 Penambang Batubara di Muaraenim Tewas Tertimbun  Longsor

Palembang, BP 11 orang pekerja tambang batu bara rakyat di Desa Tanjung Lalang Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muara Enim, Sumsel, ...