Anna Kumari dan Tradisi Rebu Kasan

24

BP/IST
Hj Anna Kumari

Palembang, BP

Rebu Kasan atau tradisi yang berisi rangkaian shalat sunat safar, bekela, mandi safar yang hanya dilaksanakan pada hari rabu terakhir pada bulan safar masih dilaksanakan disejumlah tempat dan masjid di Palembang atau tanggal 14 Oktober.

Dimana tujuannya untuk menolak bala atau malapetaka dengan cara melakukan shalat sunat di masjid, masjid, mushola, langgar atau surau sekaligus berdoa memohon perlindungan dari Allah SWT.

Tradisi ini dimulai dengan shalat sunat safar dan dilanjutkan bekela.

Selain itu sejumlah masjid,langgar,musholah, yang dari dulu masih melaksanakan sholat sunat safar di kota Palembang antara lain : Mesjid Islah 14 ulu, Mesjid Jami’ di sungai lumpur 11 ulu, Langgar setia atau sabillah,langgar sepakat di kelurahan 9/10 ulu, Langgar kenduruaan di 7 ulu, Mesjid baitulrahman di silabranti, Langgar suka damai di 14 ulu, Musholah Sukalillah di 16ulu ( dilaksanakan malam Rabu lepas Magrib) , Musholah Amrullah di trikora .Dll, malahan Lr Kenduruan di 7 ulu juga melaksanakan bekela. .di lapangan dekat rumah. Mayoritas keturunan Arab dan Palembang.

Baca:  Maestro Tari Sumsel, Anna Kumari Hibahkan Satu Unit Alat Tenun Beserta Songket Bermotip Bungo Cino

 

Menurut Hj Masayu Anna Kumari yang merupakan pemilik Rumah Budaya Nusantara Dayang Merindu Palembang Sumsel Dan Sanggar, Hj Masayu Anna Kumari menjelaskan tradisi Rabu Kasan ada menyebutnya Rebu Akhir atau Akhir Rebu.

Menurut Anna Kumari, dibulan safar yang banyak musibah yang didatangkan oleh Allah SWT.

“Kita sudah lihat dimana-mana ada banjir, kebakaran, yang sakit, ada tanah longsor dan macam –macam musibah yang datang bulan safar, karena itulah kami ada tradisi shalat sunat safar empat rakaat dan tidak berimam , jadi acara ini sudah hampir punah dan saya berusaha untuk menghidupkan kembali yang telah hampir punah ini ,” kata Hj Anna Kumari, Rabu (14/10).

Baca:  Tradisi Rabu Kasan Harus di Lestarikan Atau Perlahan Dibiarkan Punah?

 

Menurut wanita kelahiran Palembang, 10 November 1945 ini , rangkaian kegiatan Rebu Kasan tersebut dimulai dengan shalat sunat safar dengan membaca doa tolak balak dan sebagainya dilanjutkan dengan bekelah ditepi sungai, danau atau ditempat yang sepi sambil makan-makan.

Setelah itu, dilanjutkan dengan bekelah atau makam bersama dan bergembira dan mengucapkan syukur kepada tuhan karena diberikan rahmat.

Dan terakhir adalah mandi safar tapi saat ini susah dilaksanakan , karena tempat mandinya susah saat ini karena sungai-sungai di Palembang sudah kering dan kotor.

“Kadang bawa air sendiri seperti dari shalat sunat safar tadi bawa air lalu di minum , habis shalat safar dan dimandikan atau membersihkan diri, “ kata peraih Penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto (1993), Penghargaan Perkumpulan seni Singapura (1991), Penghargaan seni dari Gubernur Sumatera Selatan (2001), Panghargaan Kebudayaan Kategori Pelestari (2015) ini.

Baca:  Maestro Tari Sumsel, Anna Kumari Hibahkan Satu Unit Alat Tenun Beserta Songket Bermotip Bungo Cino

Anna menyayangkan, tradisi ini hampir punah dan sebagian masyarakat Palembang tidak tahu dengan tradisi ini .
“Jadi maksud saya mengadakan kegiatan ini setiap tahun agar masyarakat tahu , apa itu Rebu Kasan, jadi tujuan saya untuk memperkenalkan kepada mereka yang belum tahu , memberitahukan, kita angkat kembali tradisi yang hampir punah ini, karena ada hubungannya dengan agama,” katanya.

Anna mengaku, berusaha sekuat tenaga dengan keluarganya untuk tetap dan terus melestarikan tradisi ini dengan dana sendiri.
“ Umur saya sudah di ujung senja tapi saya masih mau berbuat mengangkat tradisi yang hampir punah ini,” kata pencipta Tari Tepak Keraton tahun 1966 .

Anna berharap, agar agar tradisi Rebu Kasan dapat dilestarikan di kota Palembang dan berharap pemerintah dalam melestarikan tradisi ini agar bisa lestari di kota Palembang.#osk