Home / Headline / 1 Tahun Tanjak Palembang Ditetapkan Sebagai Sebagai  WBTB Indonesia

1 Tahun Tanjak Palembang Ditetapkan Sebagai Sebagai  WBTB Indonesia

BP/IST
R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir saat menerima Sertifikat Tanjak Palembang  sebagai  warisan budaya tak benda (WBTB)  Indonesia bernomor 103612/MPK.E/KB/2019 tertanggal  8 Oktober 2019 ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI) Prof Dr Muhadjir Effendy dari Muttaqin SH Kasi Tradisi & Adat Dinas Kebudayaan Kota Palembang disaksikan Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Zanariah SIP Msi beberapa waktu lalu

Palembang, BP

Kamis (8/10) satu tahun Tanjak Palembang  ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI) sebagai  warisan budaya tak benda (WBTB)  Indonesia.

Sertifikatnya yang bernomor 103612/MPK.E/KB/2019 tertanggal  8 Oktober 2019 ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI) Prof Dr Muhadjir Effendy.

Menurut salah satu pelaku sejarah dimana Tanjak Palembang  ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI) sebagai  warisan budaya tak benda Indonesia,  R.M.Rasyid Tohir,S.H, Dato’ Pangeran Nato Rasyid Tohir bersyukur karena Palembang memiliki warisan budaya berupa tanjak  yang telah mendapatkan pengakuan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI) sebagai  warisan budaya tak benda Indonesia 8 Oktober 2019 yang lalu.

“ Pada waktu itu kita bisa lihat sendiri , kita menggunakan tanjak, namun apa yang kita gunakan tersebut belum mendapatkan pengakuan , walaupun banyak dan beragam  tanjak yang ada dan digunakan, berselang sebelum mendapatkan sertifikat itu, saya  diminta bantuan dari Dinas Kebudayaan kota Palembang , kebetulan saya kenal dengan pak Mutaqin , beliau minta agar Tanjak Palembang diusulkan, karena beliau sudah mendapat surat dari pusat agar segera mengusulkan Tanjak tersebut,” katanya  ketika di temui di Museum Sumatera Selatan Balaputra Dewa, Kamis (8/10).

Lalu pihaknya berupaya semaksimal mungkin saat itu  mulai dari mencari bahan sampai mencari cerita Tanjak dan upaya mendapatkan sertifikat pengakuan Tanjak tadi  ada hasil.

Apalagi menurutnya dari Kesultanan Palembang Darussalam juga ikut menyumbang data mengenai Tanjak Palembang sebagai  warisan budaya tak benda Indonesia.

 

“Kebetulan waktu itu juga data yang diperoleh dan bahan –bahan yang menjadi acuan untuk diusulkan Tanjak sebagai  warisan budaya tak benda Indonesia, itu saya dapat dari Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM. Fauwaz Diradja,S.H.M.Kn, dengan bahan yang minim dan usaha yang maksimal , kami dari Kesultanan Palembang Darussalam dan Dinas Kebudayaan kota Palembang  berupaya semaksimal mungkin mengusulkan Tanjak Palembang sebagai  warisan budaya tak benda Indonesia, ternyata apa yang diupayakan kami , maksudnya saya dan pak Mutaqin  bersama group-groupnya di Dinas Kebudayaan kota Palembang,  merupakan hasil yang tidak sia-sia sehingga terciptalah  suatu warisan budaya dan diakui secara nasional oleh Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Republik Indonesia,” katanya.

Dia berharap kedepan pihaknya mencari para pengerajin agar dapat melestarikan Tanjak Palembang sehingga kedepan Tanjak Palembang tidak hanya digunakan orang Palembang saja  tapi menjadi oleh-oleh dari kota Palembang dan dapat dipakai para tamu-tamu pulang kekampung.

Salah satu pelaku sejarah lain dimana Tanjak Palembang  ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (RI) sebagai  warisan budaya tak benda Indonesia yang juga  sebagai penggiat budaya dari Direktorat Jendral (Ditjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wanda Lesmana mengucapkan selamat kepada kota Palembang  atas ulang tahun Tanjak yang ke satu tahun  dimana Tanjak Palembang ditetapkan sebagai sebagai  warisan budaya tak benda Indonesia di  Jakarta pada saat pekan kebudayaan nasional.

“Saya ingat pad saat itu  pemerintah dalam hal ini Dinas Kebudayaan kota Palembang bersama masyarakat, Kesultanan Palembang Darussalam, tokoh budaya melakukan kajian kepada Tanjak untuk diusulkan Tanjak sebagai sebagai  warisan budaya tak benda Indonesia bersama  beberapa warisan lain seperti tempoyak dan tepung tawar,” katanya.

Menurut Tanjak memang merupakan suatu identitas  yang tidak bisa dilepaskan dari kota Palembang terutama diadopsi dari Kesultanan Palembang Darussalam.

“ Kita harus betul-betul melestarikan tanjak ini , setelah dikaji ternyata tanjak bukan dari songket saja yang kita pakai sehari-hari  bahkan tanjak Kesultanan Palembang Darussalam di masa Sultan Mahmud Badaruddin II pada saat itu terbuat dari batik  dan ada beberapa ciri khas yang membedakan dari tanjak-tanjak  di provinsi  dan kota yang lain, semoga Tanjak Palembang  tetap dilestarikan,” katanya.

Wanda mengaku awalnya tidak menyangka kalau Tanjak ternyata masuk dalam sebagai  warisan budaya tak benda Indonesia, karena pada waktu itu Tanjak disidang beberapa nominasi yang lain di Jakarta yang jumlahnya ada lima dan baru tiga yang diterima dari kota Palembang yaitu Tepung Tawar, Tempoyak dan Kelengkang (Selendang Munawaroh).

“ Belum selesai  ada beberapa syarat  dari Tanjak Palembang  yang belum mencukupi syarat pada saat  diajukan di Jakarta pada saat diti di Direktorat Warisan Budaya, alhamdulilah dilengkap oleh Pemerintah Kota Palembang  bersinergi dengan masyarakat dan  sejarawan dan Kesultanan Palembang Darussalam akhirnya Tanjak Palembang bisa memenuhi syarat pada saat pada hari H di Pekan Kebudayaan Nasional , Tanjak Palembang ditetapkan  sebagai  warisan budaya tak benda Indonesia,” katanya.

     Sedangkan Sejarawan Sumsel Kemas Ari Panji menambahkan pengusulan Tanjak Palembang sebagai sebagai  warisan budaya tak benda Indonesia dilakukan Dinas Kebudayaan Palembang melibatkan Kesultanan Palembang Darussalam termasuk masyarakat dan tokoh-tokoh tertentu.

“ Hari ini tepat satu tahun  peringatan Tanjak Palembang sebagai  warisan budaya tak benda Indonesia, untuk Tanjak sendiri ada berbahan songket , ada yang berbahan baku batik, banyak versi yang bisa menjelaskan ini , saran saya satu tahun ini  setelah diakui sebagai sebagai  warisan budaya tak benda Indonesia, dilakukan kajian mendalam dan perlu dianggarkan baik dari Dinas Kebudayaan  Palembang dan oleh lembaga terkait yang konsen bidang kebudayaan seperti Kesultanan Palembang Darussalam dan lembaga lain yang berminat, jangan sia-siakan setelah satu tahun  setelah ditetapkan  sebagai  warisan budaya tak benda Indonesia hanya hilang begitu saja dapat sertifikat dan tidak ada kelanjutannya  ,” katanya.

Dan perlu Tanjak Palembang ini dikembangkan dari sisi UKMK bagi masyarakat sehingga bisa menghidupkan ekonomi masyarakat hingga dibisa dibuat pelatihan dan work shop tanjak.#osk

x

Jangan Lewatkan

KPK Selenggarakan Sertifikasi Penyuluh Antikorupsi Secara Daring

Jakarta, BP Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Pusat Edukasi Antikorupsi membuka pendaftaran Sertifikasi Penyuluh Antikorupsi secara daring. Penyelenggaraan kegiatan dilakukan ...