Home / Headline / Balar Sumsel Teliti Piagam Padang Ratu di Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan

Balar Sumsel Teliti Piagam Padang Ratu di Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan

BP/DUDY OSKANDAR
Jumat (2/10) Balai Arkeologi (Balar) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) bersama sejumlah mahasiswa dan dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang melanjutkan kegiatan penelitian dengan membaca ulang Piagam Padang Ratu yang merupakan peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam di Museum Sumatera Selatan Balaputra Dewa.

Palembang, BP

Setelah sebelumnya melakukan kegiatan penelitian dengan membaca ulang piagam-piagam yang menjadi koleksi Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Palembang, Kamis (1/10) lalu, kali ini, Jumat (2/10) pihak Balai Arkeologi (Balar) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel)  melanjutkan kegiatan penelitian dengan membaca ulang Piagam Padang Ratu yang merupakan peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam di Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan, Balaputra Dewa, Palembang.

Dua orang arkeolog senior Balar Sumsel turun langsung yaitu Retno Purwati dan Wahyu Rizky Andhifani dan dibantu sejumlah staf dari Balar Sumsel.

Mereka melakukan penelitian di ruang penyimpangan benda-benda koleksi milik Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan, Balaputra Dewa, Palembang yang terletak di bagian belakang  tak jauh dari Rumah Bari  yang masih dalam satu komplek Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan, Balaputra Dewa, Palembang.

Selain Piagam Padang Ratu, mereka juga mendata dan melakukan poto ulang sejumlah prasasti dan peninggalan milik koleksi Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan, Balaputra Dewa, Palembang.

“ Piagam Padang Ratu itu saja di poto dan diskripsi oleh Mbak Retno, Padang Ratu tahunnya 16 berapa  aku tidak ingat, itu infonya dari pak Masi Suhadi dari Puslit Arkenas dulu yang meneliti mengatakan,  Piagam Padang Ratu berasal dari Desa Sukabumi, Banding Agung, OKU Selatan,” kata Wahyu Rizky Andhifani  yang juga merupakan  ahli Epigraf Balar Sumsel , Jumat (2/9).

Dia mengaku,  entah kenapa Piagamnya di sebut Piagam Padang Ratu , padahal di temukan di Desa Sukabumi, pihaknya masih bertanya dengan peneliti lain Rafanie kenapa bisa berubah namanya.

“ Kemungkinan ini piagam yang dikeluarkan Sultan Palembang dan menggunakan huruf Jawa Tengahan, “ katanya.

Selain meneliti Piagam Padang Ratu , pihak Balar Sumsel juga mempoto koleksi Museum Sumatera Selatan Balaputra Dewa lainnya untuk melengkapi data prasasti yang ada.

“ Isi Piagam Padang Ratu berisi tentang Surat Keputusan tapi  tidak di sebutkan Sultan siapa , yang pasti Kesultanan Palembang, dibuat Prabu Anom di Desa Tanjung  di wilayah itu,” katanya.

Dia mengaku tertarik meneliti piagam Kesultanan Palembang ini , karena ada kurang lebih 20 piagam Kesultanan yang ada saat ini dan yang terdata baik dari Sumsel dan luar Sumsel.

“Yang diluar Sumsel itu  yang Piagam Kesultanan Palembang sudah dibaca seperti di Curup (Bengkulu) dan di Mandi Angin, Sarolangun, Jambi, Lampung juga ada, sekarang apakah masih tersimpan oleh mereka atau sudah berpindah  itu belum tahu, yang pasti  yang di sudah terdata di Museum Nasional ada 5 atau 6 piagam , di Museum Balaputra Dewa ada  satu, di Museum SMB II ada satu piagam  dan satunya dari masa Hindia Belanda,” katanya.

Selain itu menurut, Wahyu pihaknya melakukan poto ulang sejumlah prasasti dan peninggalan dari koleksi Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan, Balaputra Dewa, Palembang, salah satunya prasasti peninggalan dari Kedatuan Sriwijaya yaitu prasasti Bombaru.

Sebelumnya Kepala Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan Balaputra Dewa,  Chandra Amprayadi mengatakan, pihaknya terus berupaya menambah koleksi untuk lebih menarik minat masyarakat Sumsel, wisatawan lokal, dan mancanegara berkunjung ke tempat penyimpanan benda bersejarah itu.

Koleksi terbaru yakni satu kemudi kapal terbuat dari kayu yang telah diteliti pihak Balai Arkeologi diperkirakan peninggalan zaman Kerajaan Sriwijaya abad ke-9.

“Kami pada Agustus 2020 ini mendapat hibah dari masyarakat sebuah kemudi kapal peninggalan Sriwijaya dengan berat sekitar empat ton, panjangnya 10 meter dan lebar 50 cm,” katanya.

Dengan adanya hibah barang peninggalan sejarah itu, memperkaya koleksi Museum Balaputra Dewa yang berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya.

Beberapa barang peninggalan sejarah berkaitan dengan Kerajaan Sriwijaya berpusat di Kota Palembang yang sudah ada sebelumnya di museum tersebut, seperti artefak kerajinan gerabah, manik-manik, logam benda cor, dan prasasti.

Sebagian besar prasasti adalah replika, sedangkan yang aslinya sebagian besar ditempatkan di Museum Nasional Jakarta dan di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) Palembang.

Contoh prasasti replika yang bisa dilihat di Museum Balaputra Dewa Palembang berasal dari abad ke-7, yakni Prasasti Kedukan Bukit, Telaga Batu, Kota Kapur, Talang Tuwo, Boom Baru, Kambang Unglen, Kambang Unglen II, dan Siddhayatra.

Dalam tiga tahun terakhir, pihaknya telah menambah 2.000 koleksi baru yang diperoleh dari hibah masyarakat di berbagai daerah di Sumsel dan provinsi lainnya.

Dengan adanya tambahan koleksi peninggalan sejarah tersebut, Museum Balaputra Dewa Palembang memiliki 8.800 koleksi mulai dari zaman prasejarah, zaman Kerajaan Sriwijaya, zaman Kesultanan Palembang, hingga zaman kolonialisme Belanda.#osk

x

Jangan Lewatkan

171 Kilogram  Sabu dan Ribuan Butir Ekstasi Disita BNN RI dan BNNP Sumsel

  Palembang, BP Badan Narkotika Nasional (BNN) RI bekerjasama BNNP Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Sabtu (23/1) sekitar pukul  18.30, berhasil ...