Home / Headline / “Kita Sendiri Yang Harus Lestarikan Alat Tradisional Asal Sumsel “

“Kita Sendiri Yang Harus Lestarikan Alat Tradisional Asal Sumsel “


BP/IST
 Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa kembali menggelar webinar seminar hasil kajian koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan. Kali ini tema yang diangkat ‘Teknologi Tradisional Pengolahan Hasil Bumi Sumatera Selatan’, yang berlangsung di Aula Museum Negeri Sumatera Selatan, Selasa (29/9).

Palembang, BP

Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa kembali menggelar seminar hasil kajian koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan (Sumsel) . Kali ini tema yang diangkat ‘Teknologi Tradisional Pengolahan Hasil Bumi Sumatera Selatan’, yang berlangsung di Aula Museum Negeri Sumatera Selatan, Selasa (29/9).

Tiga narasumber yang dihadirkan, yakni budayawan Sumsel, Yudhi Syarofie, Saudi Berlian, sosiolog dari Universitas Sumatera Selatan, dan Adhitya Rol Asmi, dosen Program Studi Sejarah dari Universitas Sriwijaya (Unsri).

Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa Chandra Amprayadi menjelaskan minimnya pengetahuan anak-anak masa kini terhadap alat-alat tradisional yang ada di Sumatera Selatan sehingga pihaknya menggelar kegiatan ini.

“Oleh karena itu perlunya untuk kita ikut menyalurkan pengetahuan yang sudah kita miliki kepada mereka salah satunya dengan menggelar kegiatan seminar ini,”katanya.

Budayawan Sumsel  Yudhi Syarofie dalam paparan berjudul “Teknologi Tradisional Pengolahan Hasil Bumi Sumatera Selatan Dalam Perspektif Budaya.” Mengakui saat ini masyarakat tidak dapat menahan laju tehnologi  karena itu sebuah keniscayaan tapi kecintaan yang dapat melestarikan alat-alat tradisional tersebut.

“ Yang pasti kita sendiri yang harus melestarikan alat-alat tradisional asal Sumsel tersebut,” katanya.

Selain itu dia menjelaskan secara tradisi masih ada kelompok masyarakat di Sumsel dimana ketika ada hajatan keluar alat-alat tradisional seperti  parutan, lumpang dan lain-lain.

“ Kadang orang tidak sreg kalau bumbunya di giling di pasar jadi mereka biasanya numbuk atau giling, itu masih di pakai itu kembali kepada nilai-nilai kepada peralatan tersebut, nilai pemikirannya yang masih di pakai tapi kalau sehari-hari alat-alat tradisional ini tidak di pakai orang sekarang,” katanya.

Sosiolog Sumsel Saudi Burlian yang mengangkat judul materi  Teknologi Tradisional Pengolahan Hasil Bumi Sumatera Selatan Dalam Perspektif Sosial” menjelaskan petani tidak dapat dilepaskan dari keberadaannya sebagai makhluk social yang melakukan aktivitas sambil terikat dalam nilai sosio-kultur setempat.

Selai  itu ada norma yang mengikat individu dalam siklus exchange ini. Berupa etika dan moral yang diungkapkan dengan istilah “dak lemak”, “dak pacak idak” (sine qua non) dan gambaran sosial psikologis lainnya

Apalagi nilai Sosial Budaya  menurutnya menjadi unsur penting diterapkan dalam setiap aktivitas, terutama dalam kegiatan pertanian serta pengolahan hasil pertanian.

Hasil Bumi diolah dengan cara bersama-sama (melalui proses gotong-royong, ambek ari, atau menyerahkan pada panggung yang ahli); juga diolah secara individu.Pengolahan hasil bumi, melalui proses relatif panjang, dan tahap terkadang unik. Aneka ragam hasil bumi diolah menjadi hasil final sebagai bahan pangan, obat, dll.

“Proses pengolahan sampai final melibatkan perlengkapan yang terkadang khas pula. Paling populer adalah padi/beras.Selain makanan pokok padi atau beras dapat menurunkan banyak jenis hasil final. Padi atau beras selain pangan, mengemban fungsi sososial dan ritual, pengobatan, perawatan tubuh, dan lain—lain. Sebagai pengobatan seperti pembuatan param, bedak, dan sebagainya.

Sebagai bagian prosesi sosial, menjadi unsur material pada proses tepung tawar, sedekah lebung, bahan zakat fitrah dan sebagainya,” katanya.

Sedangkan dosen program studi sejarah dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Adhitya Rol Asmi dalam paparannya berjudul ‘Kearifan Lokal Dalam Pengolahan Hasil Bumi Sumatera Selatan’, memaparkan sejumlah peralatan tradisional untuk mengolah hasil panen. Yakni lesung batu.

“Salah satu lesung batu dari zaman prasejarah yang masih bisa dilihat sampai saat ini terdapat di Pagaralam dan Lahat,” ujarnya.

Kemudian isaran padi, yang berguna melepas padi dari batangnya. Cara kerjanya adalah dengan memasukkan batang padi ke dalam lubang di bagian atas. Kemudian, alat ini diputar dengan menggerakkan gagang.

“Meskipun kukuran kelapa semakin dilupakan oleh penduduk kota, yang cenderung menggunakan peralatan moden. Namun di pedesaan, alat ini masih bisa dijumpai,” katanya.#osk

 

 

 

 

 

x

Jangan Lewatkan

Tambah Hampir 100 Kasus, Pasien Covid-19 di Sumsel Jadi 7.328

Palembang, BP Pasien positif Covid-19 di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) bertambah 99 orang. Hal ini diketahui berdasarkan laporan media harian ...