Respon Atas Wacana Penyederhanaan Kurikulum Yang Tidak Berpihak Pada Sejarah

17

Presiden AGSI Sumardiansyah Perdana Kusuma

Jakarta, BP–Menghancurkan sebuah bangsa tidak harus melalui pertempuran fisik, melainkan hilangkan ingatan mereka akan sejarahnya, maka kehancuran tinggal menunggu waktunya.

Bangsa yang tidak mengenal sejarahnya dapat diibaratkan seorang individu yang kehilangan memorinya, ialah orang yang pikun atau sakit jiwa, maka dia kehilangan identitas atau kepribadiannya.

Menurut Presiden Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI)  Sumardiansyah Perdana Kusuma, mata Pelajaran Sejarah adalah media yang paling ampuh untuk memperkuat jatidiri dan karakter manusia, ia juga merupakan alat pemersatu kita sebagai sebuah bangsa.

Baca:  AGSI Sumsel Tolak Pengembangan Wisata Pulau Kemaro Angkat Keluhuran Kerajaan Sriwijaya

Sedangkan Guru Sejarah adalah ujung tombak sekaligus benteng dari peradaban. Bagaimana memori kolektif kita sebagai sebuah bangsa dan nilai-nilai positif yang terkandung didalamnya ditransformasikan melalui pembelajaran serta keteladanan diruang-ruang kelas.

“Mari kita selamatkan generasi muda kita dari amnesia sejarah, mari kita selamatkan bangsa ini dari gerbang kehancuran. Sesungguhnya belajar dari sejarah adalah sebuah keharusan, bukan merupakan pilihan,” katanya, Selasa (15/9).

Baca:  AGSI Sumsel Pertanyakan Permasalahan Mapel Sejarah Hingga Sertifikasi Guru ke Komisi X DPR RI

Menurutnya, tempatkan mata pelajaran sejarah di struktur kurikulum dalam kelompok mata pelajaran dasar/umum yang wajib diajarkan kepada seluruh anak bangsa di semua tingkatan kelas (X, XI, XII) dan jenjang (SMA/SMK/MA/MAK).#osk