Sumsel Cegah Karhutla Melalui Aplikasi Si Pakar Hutan

7

BP/IST
Kepala Seksi Pengendalian Karhutla Dinas Kehutanan Sumsel, Syafrul Yunardi

Palembang, BP

Dinas Kehutanan (Dishut) Sumatera Selatan (Sumsel) membangun aplikasi Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (Si Pakar Hutan) sebagai upaya pencegahan dan penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) di provinsi Sumsel.

Aplikasi ini pun dapat diunduh secara gratis di Play Store dan iStore.

Kepala Seksi Pengendalian Karhutla Dinas Kehutanan Sumsel, Syafrul Yunardi, mengatakan, aplikasi Si Pakar Hutan ini merupakan solusi untuk menjawab kebutuhan pemerintah provinsi terhadap penguatan sistem peringatan dini karhutla.

“Dalam aplikasi ini memuat berbagai sumber data. Termasuk pula data konsesi perusahaan kehutanan yang mengantongi izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (IUPHHK),” kata Syafrul pada pengenalan aplikasi melalui rapat virtual yang digelar oleh Dishut Sumsel pada Rabu (9/9).

Dia mengatakan, pembangunan aplikasi Si Pakar Hutan didasarkan pada tidak adanya sistem informasi yang berisi peringatan dini karhutla dalam sistem kebencanaan di tingkat daerah dari bencana karhutla sepanjang 2015-2019.

“Kami akui kami luput. Bencana sebelumnya itu yang menjadi pertimbangan kami membuat sistem ini.

Di samping itu, aplikasi ini untuk mendukung keterbukaan informasi publik sehingga masyarakat dapat memantau pengendalian karhutla,” katanya.

Dia menyebutkan, dampak karhutla dinilai bakal lebih besar bagi masyarakat terutama di sektor kesehatan selama masa pandemi Covid-19. Risiko terkena penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pun akan lebih rentan dialami masyarakat jika bencana asap akibat karhutla terjadi.

“Ketika ada pandemi Covid-19 dampaknya jauh lebih besar menyerang paru-paru. Kami sudah menjelaskan ke masyarakat risiko apa saja yang bakal terjadi,” katanya.

Syafrul melanjutkan, tak hanya dari segi kesehatan, dampak secara ekonomi terhadap karhutla juga besar.

Dia pun pernah mengukur besaran dampak karhutla yang tertuang dalam jurnal penelitiannya.

Adapun kerugian ekonomi secara total akibat karhutla mencapai Rp 753 juta, dengan asumsi kurs dolar terhadap rupiah nilai Rp14.000. Kerugian ini untuk setiap hektare lahan yang terbakar.

Berdasarkan penelitian tersebut, pihak yang mengalami kerugian apabila hutan dan lahan terbakar mayoritas merupakan masyarakat (sebesar 59 persen), kemudian perusahaan sebesar 29 persen dan pemerintah sebesar 14 persen.

“Dampaknya akan lebih besar jika terjadi di lahan gambut sehingga kami selalu melakukan sosialisasi soal karhutla dan betapa besar dampaknya, karena balik-balik masyarakat juga yang paling terdampak,” kata Syafrul.#osk