Sejak Tahun 1907, Transportasi Sungai di Sumsel Beralih ke Transportasi Darat

20

BP/DUDY OSKANDAR
Suasana seminar hasil kajian koleksi  “ Sarana Transportasi Tradisional  Sumatera Selatan”  yang diselenggarakan Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Balaputra Dew , Kamis (3/9) di Gedung Auditorium Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Balaputra Dewa, Jalan Srijaya  I N0 288, Km 5,5 Palembang.

Palembang, BP

SUNGAI Musi merupakan urat nadi kehidupan Kota Palembang, dan menghubungan  daerah-daerah lain di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) melalui anak sungainya. Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, aktivitas warga tidak pernah lepas dari sungai itu. Tak heran jika jejak sejarah Palembang pada khususnya dan Sumsel umumnya banyak ditemukan di sepanjang sungai ini. Namun tradisi  transportasi sungai ketika zaman kolonial Belanda beralih menjadi tradisi transportasi darat, kini tradisi transportasi sungai di Sumsel lambat laun mulai ditinggalkan masyarakat.

Di Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan Balaputra Dewa, yang terletak di  Jalan Srijaya  I No. 288, Km 5,5 Palembang selama ini juga memamerkan sejumlah transportasi sungai dalam koleksinya.

Sejarawan Sumatera Selatan (Sumsel)  Dedi Irwanto SS MA menjelaskan beralihnya transportasi sungai di Sumsel dari Sungai ke darat dimulai sejak tahun 1907  ketika munculnya Jalan Trans Sumatera yang menghubungkan Muaraenim , Tebing Tinggi sampai ke Bengkulu dan  Fort De Kock di Bukit Tinggi.

“ Pada waktu yang bersamaan jalan itu dilanjutkan  tembus ke Padang lalu ke Lubuk Sikaping terus  sampai ke daerah Sibolga, itu Trans Sumatera awal dan bersamaan dengan itu dikenalkan mobil atau namanya autopark (mobil untuk mengangkut penumpang) tapi banyak juga mobil-mobil pribadi yang asalnya dari daerah Fort De Kock (Bukit Tinggi) kemudian masuk, tapi jalan Trans Sumatera belum terhubung dengan kota Palembang, untuk ke kota Palembang orang naik kapal Mari dari Muaraenim,” katanya usai seminar hasil kajian koleksi  “ Sarana Transportasi Tradisional  Sumatera Selatan”  yang diselenggarakan Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan  Balaputra Dewa , Kamis (3/9) di Gedung Auditorium Museum Negeri Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Balaputra Dewa, Jalan Srijaya  I No. 288, Km 5,5 Palembang.

Dalam seminar tersebut juga hadir nara sumber lain seperti Kepala Balai Arkeologi (Balar) Provinsi Sumsel Drs Budi Wiyana, sosiolog Sumsel Drs Saudi Berlian Msi .

Termasuk menurut Dedi,  jalan dari Bengkulu tembus ke Muara Keling, dari Muara Kelingi  ke Palembang dengan menaiki kapal Mari.

“ Itu sampai tahun 1913  transportasi  masih dipegang oleh Pemerintah Kolonial Belanda, jadi Dinas Angkutan Darat itu khusus dikelola oleh Pemerintah Kolonial Belanda, tapi kemudian timbul perkembangan terbaru ketika orang-orang Cina termasuk para pasirah di daerah uluan Palembang membuat agen-agen perjalanan, mobil-mobil autopark itu banyak di miliki orang cina dan juga oleh para pasirah untuk mengangkut para penumpang pertama sekali,” katanya.

Sejak tahun 1910, 1913 juga mulai di bangun jalan dari Kertapati ke Niru  (Prabumulih)  yang sekarang menjadi jalan Palembang-Indralaya , lalu diteruskan ke Muaraenim dan diteruskan sampai Baturaja ke Muaradua.

“ Tahun 1918 dibangun jalan dari Indralaya  (Ogan Ilir) sampai ke Tanjung Raja sampai ke Kayu Agung hingga ke daerah Komering kemudian saat bersamaan juga  tahun 1920 dibangun Jalan Tanjung Raja yang tembus ke Baturaja lewat Muara Kuang, Lubuk Keliat, Penyandingan itu jalan lama menyusuri sungai ciri khas jalan yang dibangun masa Belanda,” ujarnya.

Yang menariknya menurut dosen Universitas Sriwijaya (Unsri) ini, transportasi darat itu juga tidak seperti masa sekarang , jika orang mau ke Baturaja sekarang dari Kertapati ke Baturaja tapi dia memunculkan kota-kota terminal.

“ Misalnya dari Palembang untuk ke  Baturaja orang harus ke Tanjung Raja dulu, dari Tanjung Raja baru lewat Muara Keluang , Lubuk Keliat , begitu juga dari Tanjung Raja sampai ke Kayu Agung itu harus memunculkan kota-kota terminal tadi dan yang menariknya pembangunan infastruktur itu pada tahun 1920, 1921 diikuti dengan pembangunan infrastruktur jembatan seperti Jembatan Tanjung Raja , Jembatan Komering, Jembatan Muaraenim, Jembatan Endikat dan itu menghubungkan jalan-jalan utama yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda tadi,” katanya.

Dan lama kelamaan trasnportasi sungai di Sumsel mulai di tinggalkan masyarakat walaupun masih ada sejumlah menggunakan transportasi sungai hingga kini.

“ Yang menarik ternyata perkembangan transportasi itu dari ulu sedangkan untuk kota Palembang perkembangan jalan selanjutnya sekitar tahun 1912 sampai 1920 itu pembangunan jalan ke Palembang terutama ketika dibangun jalan-jalan darat di kota Palembang yang menimbun sungai itu,” ungkapnya.

Dia menilai beralihnya transportasi sungai ke transportasi darat di Sumsel dinilainya memang perkembangan dan perubahan zaman.

Sedangkan Kepala Balar Provinsi Sumsel Drs Budi Wiyana menambahkan, kalau transportasi sungai di Sumsel mulai beralih ke transportasi darat sejak pemerintah kolonial Belanda menguasai Sumsel.

“Lalu lebih ditekankan transportasi darat,” katanya.

Balar Sumsel menurutnya lebih banyak melakukan penelitian kapal-kapal yang tua terutama didaerah pesisir Sumsel.

“ Kalau transportasi sungai mulai ditinggalkan itu tidak aneh lagi , karena keterpihakan pemerintah itu cenderung ke darat, kalau pemerintah mau serius itu menarik tapi  harus holistik secara keseluruhan tapi kalau hanya pasrial berat,” katanya.

Dan ini sungai menurutnya dianggap masyarakat sekarang menjadi tempat membuang sampah walaupun dulu di Palembang ada wacana mengembalikan rumah ke arah sungai namun tidak jalan.

Sedangkan sosiolog Sumsel Drs Saudi Berlian Msi menilai, dalam hal fungsional di Sumsel sungai masih dipakai masyarakat untuk sarana transportasi dari Ulu ke Ilir lalu para pedagang melayani masyarakat lalu di Pasar 16 Ilir masyarakat masih menggunakan moda transportasi air ini.

“ Karena dulu water front itu memang benar-benar menghadap ke sungai,sekarang masih ada rumah rakit ,” katanya sembari mengatakan, kalau budaya transportasi sungai mulai berkurang sejak Belanda lebih fokus membangun transportasi darat di Sumsel karena dianggap murah dan dikenal .

Hal tersebut berdampak sosial dimana terjadi pergeseran tempat pemukiman  dan meninggalkan tempat pemukiman yang lama dan skalanya besar.

“Yang tidak terakses itu khan ketika dibuat jalan dan meramaikan pertemuan-pertemuan itu lalu menggalakkan moda transportasi darat yang 50-50 dia pilih darat yang memang agak terlalu sulit dia tetap di air,” ujarnya.

Untuk kembali ke transportasi sungai dia menilai banyak yang perlu di rombak terutama jembatan Ampera dibuat turun naik lagi dan tiga jembatan di sekitarnya harus naik sehingga akses ekspor bisa masuk.

“ Tinggal kita memanfaatkan yang ada sungai itu terkait dengan drainase, itu yang kita jaga , jika banyak sampah di bersihkan, sedimentasi lumpur dibersihkan sekarang beban sungai terlalu berat karena tidak berbagi  kalau dulu sungai berbagi dengan resapan-resapan kini resapan itu dipakai oleh gedung,” katanya.

Dia setuju ada program pembersihan sungai  dan perlu diteruskan, paling tidak menurutnya bukan atas nama sungai tapi atas nama lebih makro yaitu lingkungan hidup.

“ Untuk memotivasi masyarakat itu juga harus ada edukasi mengkomersilkan sampah, seperti tanaman enceng gondong bisa di manfaatkan menjadi hal yang lebih bermanfaat, daur ulang sampah plastik kalau ditemukan logam, logam di daur ulang,” katanya.

Baru-baru ini , pihak Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa telah mendapatkan hibah dari masyarakat sebuah kemudi kapal yang terbuat dari kayu yang telah diteliti pihak balai Arkeologi Sumsel diperkirakan peninggalan zaman Kerajaan Sriwijaya abad ke-9.

Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa, H Chandra Amprayadi mengatakan, benda bernilai sejarah tinggi tersebut, dipamerkan di Ruang Pamer II Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa.#osk