Ekonomi Tumbuh Jika Pandemi Covid-19 Bisa Diatasi

13

Anggota MPR RI Herman Khaeron dan Hendrawan serta Rektor Universitas Paramadina Firmanzah dalam diskusi terkait pandemi Covid-19 dan ekonomi di ruangan wartawan DPR RI Senayan, Jakarta.

Jakarta, BP–Anggota MPR RI, Herman Khaeron mengatakan, UMKM dan koperasi merupakan pilar perekonomian bangsa. UMKM merupakan jangkar perekonomian. Meski demikian sektor ini bukan menjadi sektor utama pertumbuhan ekonomi.
“Ada ketimpangan dalam pertumbuhan UMKM dan perusahaan besar. Jumlah UMKM kita mencapai puluhan juta,” ujar Herman di ruangan wartawan DPR Jakarta, Senin (31/8).
Data yang menyebut jumlah sektor itu mencapai 27 juta hingga 60 juta kata Herman perlu di up date. Dan
Krisis pada tahun 2020 berbeda dengan krisis tahun 1998. Pada 1998, yang terpukul hanya sektor perekonomian. “Beda dengan krisis saat ini. Saat ini yang terdampak tidak hanya sektor ekonomi namun sektor kesehatan,”tuturnya.
Hal demikian lanjut dia, dialami seluruh negara di dunia. Bila tahun 1998, di tengah krisis ekonomi, masyarakat masih bisa jalan-jalan, ngobrol dengan tetangga serta aktivitas lain. Aktivitas seperti itu tidak bisa dialami masyarakat masa sekarang. “Antar tetangga pun sudah saling curiga, jangan-jangan menularkan Covid-19,” jelasnya.
Diakui semua usaha mengalami goncangan. Meski demikian ada sektor yang masih bisa berjalan pada masa pendemi Covid-19. Sektor itu bidang pangan, farmasi, dan kesehatan.
Herman menegaskan, untuk menumbuhkan sektor ekonomi dan usaha, pemerintah dan masyarakat harus menyelesaikan masalah yang ada tidak boleh segmentasi. “Kalau mau menumbuhkan usaha dan perekonomian, pandemi Covid-19 harus bisa diatasi. Harus ada kerja komprehensif untuk mengatasi pandemi serta memulihkan UMKM maupun usaha yang besar,” tambahnya. Sedangkan faktor penurunan ekonomi sambungnya, karena penurunan daya beli. Untuk mengatasi demikian perlu meningkatkan aktivitas dunia usaha.
Rektor Universitas Paramadina Firmanzah menuturkan, UMKM mempunyai peran sangat besar dalam pertumbuhan ekonomi. Kontribusi terhadap PDB mencapai lebih dari 60 persen. Sektor ini juga mampu menyerap banyak tenaga kerja. “Model perekonomian Indonesia berbeda dengan model perekonomian yang berkembang di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Di negara itu, model perekonomiannnya orientasi ekspor.
Sedang model perekonomian di Indonesia berupa perekonomian kerumunan. Model perekonomian seperti ini, yakni 99 persen UMKM, maka menjadi penopang perekonomian, “tegas Firmanzah.
Menurut dia perekonomian tumbuh atau tidak, tergantung sektor ini. Meski demikian, model perekonomian seperti ini memiliki sisi positif dan negatif. “Ekonomi kerumunan kalau satu gulung tikar masih banyak yang menopang,” ujarnya. Berbeda dengan ekonomi berbasis konglomerasi. Satu konglomerasi gagal akan berpengaruh pada ekonomi lain seperti tahun 1998,” katanya.
Untuk optimalisasi UMKM lanjut Firmanzah, yang perlu dilakukan pemerintah, memberi stimulus. Dana yang sudah dianggarkan harus segera direalisasikan. Stimulus yang ada harus tepat sasaran. Jangan sampai salah sasaran. Harus kontekstual, artinya ada daerah di mana populasi UMKM-nya perlu menjadi fokus dari kebijakan stimulus.
Dari model perekonomian kerumunan, Firmanzah mencontohkan negara Aljazair. Pada 1998, negara itu memformalkan ekonomi kerumunan. Agar ekonomi kerumunan bisa terstruktur adalah formalisasi dunia usaha. Ia yakin bahwa Covid-19 akan berlalu, karena menangani Covid-19 sederhana, tinggal menunggu vaksin datang.
“Bila sudah divaksinkan maka masyarakat terbebas Covid-19, “paparnya.
Anggota MPR Hendrawan Supratikno memaparkan, ada UMKM memiliki prospek berkembang baik, ada pula yang pasarnya stagnan atau mandeg.
” Masyarakat masuk dalam dunia UMKM lantaran mereka tidak bisa masuk ke sektor formal, “tegasnya.#duk