Kinerja Merugi, DPR Ragu Pertamina Bisa Menjadi BUMN Khusus Hulu Migas

10

Wakil Ketua Baleg DPR RI Baidowi saat menjadi pembicara dalam seminar ‘Menyoal BUMN Khusus Hulu Migas Dalam Omnibus Law RUU Cipta Kerja’ yang digelar di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (27/8).

Jakarta, BP–Anggota Komisi VI DPR RI, Achmad Baidowi mempertanyakan kesiapan Pertamina jika ditunjuk menjadi BUMN khusus hulu migas seperti diwacanakan dalam RUU ‘Omnibus Law’ Cipta Kerja.
Pada semester I 2020, Pertamina membukukan kerugian hingga mencapai US$ 767,92 juta atau setara Rp 11,13 triliun
“Kalau Pertamina yang ditunjuk sebagai BUMN khusus Hulu Migas, perlu dibedah kesiapannya. Hal ini tidak terlepas dari kerugian yang dialami Pertamina sebesar US$ 767,92 juta atau setara Rp 11,13 triliun pada semester I-2020. Seharusnya dengan potensi yang ada, dan kewenangan yang dimilikinya, Pertamina dengan mudah untung. Bukan malah merugi dengan angka yang cukup besar seperti ini,” kata Baidowi saat menjadi pembicara dalam seminar “Menyoal BUMN Khusus Hulu Migas Dalam Omnibus Law RUU Cipta Kerja” yang digelar di Gedung DPR RI, Jakarta Kamis (27/8).
Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR ini menyebut ada keinginan pemerintah i membentuk BUMN khusus hulu migas. Ada tiga opsi yang berkembang yaitu membentuk BUMN baru yang mengurusi hulu migas, menunjuk Pertamina sebagai BUMN hulu migas, atau, meningkatkan status SKK migas untuk ditunjuk BUMN hulu migas.
“Jangan sampai potensi hulu migas Indonesia yang sangat besar diberikan kepada BUMN yang tidak memiliki kinerja yang baik,” kata Baidowi.
Pengamat perminyakan dari Center for Energy Policy, Kholid Syeirazi juga mengakui Pertamina selama ini mempunyai kinerja kurang bagus. Pertamina juga sering luput dari pengawasan.
“Agar mendapatkan lagi kepercayaan publik. Maka Pertamina harus bisa lebih akuntabilitas dan lebih transparan,” kata Kholid.
Khalid menambahkan, posisi Pertamina saat ini ambivalen. Di satu sisi menurut undang-undang Migas, Pertamina harus profit seeking, dia tidak lagi mengemban fungsi PSO (Public Service Obligation). Tapi menurut UU BUMN, Pertamina tetap harus menanggung beban PSO.
Agar bisa lebih kompetitif, Pertamina menutut Khalid harus mengubah mindset dengan fokus menjadi entitas bisnis.
“Tata Kelola dan mindset Pertamina harus diperbaiki. Pertamina harus betul-betul menempatkan diri sebagai entitas bisnis. Tidak boleh bermental ‘bohir’. Sektor hulu harus digenjot sehingga bisa ekspansif. Bukan hanya mengambil minyak dari dalam negeri, tetapi bisa mengambil minyak dari negara. Sehingga dia bukan hanya menjadi National Oil Company tetapi menjadi International National Company,” kata Kholid.#duk