Sebab Kita Adalah (Per)Pustaka(an)

10

Oleh Desy Arisandi, S. Pd.

MESKIPUN Living Library bukan pendekatan baru dalam pendidikan mandiri dan alternatif, tak berarti ia sudah diterapkan—dengan maksimal—di tengah masyarakat lewat lembaga pendidikan atau komunitas kebudayaan dan literasi di Tanah Air, baik karena kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang konsep perpustakaan bergerak, maupun karena tiap gerakan lambat-laun menciptakan eksklusivitasnya masing-masing—yang justru menjadi antitesis bagi living library.

Mendekatkan, bukan menjauhkan

Menurut southernhealth.nhs.uk., living library is a chance for you the Reader to borrow a Book to fi nd out about a certain topic, only in this case the books are real people, with real life experiences for you to find out alias perpustakaan hidup adalah lingkungan dengan orang-orang yang berilmu yang senantiasa berbagi sebagai Buku dan orang-orang yang membutuhkan informasi sebagai Pembaca. Karena tiap orang memiliki kecakapan berbeda-beda, seseorang yang pernah menjadi buku, bisa saja menjadi pembaca ketika ia membutuhkan atau mendapatkan informasi dari orang lain yang mungkin saja pada mulanya adalah pembacanya. Living library alias perpustakaan hidup atau perpustakaan bergerak memberikan banyak kemungkinan, fleksibel, dan menghadirkan interaksi timbal-balik yang harmonis. Kelebihan penting living library di era ini adalah sifat sosialnya yang tinggi karena mensyaratkan interaksi, tidak seperti Internet yang cenderung menjauhkan kita satu sama lain.

Dalam The Big Book Literacy Nancy Akhavan, dikemukakan bagaimana living library dijadikan sebagai model pembelajaran dalam menjaring ilmu, pengetahuan, wawasan, ragam kebudayaan, pernak-pernik kesenian, dan hal-hal lainnya melalui perspektif manusia yang khas (genuine). Hal ini berangkat dari pemahaman bahwa tiap orang belajar dan berproses kreatif dengan caranya masing-masing. Dan cara yang ditempuh tiap orang tidaklah sama. Kalaupun mirip, teknis dan detailnya pasti berbeda.

Oleh karena itu menangguk ilmu pengetahuan dengan cara mendatangi orang-orang yang memiliki kapasitas di bidang tertentu, merekam perbincangan mereka (baik dalam bentuk teks maupun audiovisual), lalu menyiarkannya di Internet—baik kanal Youtube, laman pribadi, akun media sosial, atau menyebarkannya lewat surel, WhatsApp, atau aplikasi komunikasi lainnya secara tidak langsung membuat tiap orang bisa menciptakan-sekaligus-menjadi buku itu sendiri.

Tiap orang bisa menyimak konten living library sebagai alternatif pembelajaran, baik dengan menjadikannya sebagai rujukan mayor, second opinion atau pemerkaya data. Tapi, poin tak kalah penting dari living library adalah tiap orang—dengan niat mencari sumber-sumber ilmu pengetahuan yang beragam—bisa menjadi pembaca dan buku alias tiap orang bukan hanya bisa menjadi penyebar konten bermanfaat itu, tapi juga menjadi living library itu sendiri.

Living library telah ada ...

Tulang belakang aktivitas living library adalah berbagi, menghadirkan alternatif ilmu pengetahuan, dan mengembalikan fungsi teknologi informasi hari ini kepada jalur dan lajurnya. Gerakan ini mengajak kita membangun ekosistem pendidikan dan kebudayaan yang literat dan tidak asosial. Seabad sebelum Revolusi Industri, para penulis dan penyair Inggris yang memprovokasi publik melalui satir, puisi, dan pamflet-pamflet politik di bawah panji Scriblerus Club. Perkumpulan itu untuk menjadi alternatif atas hegemoni penyair kerajaan yang mendapatkan perlakuan istimewa, padahal hanya memproduksi syair-syair yang memuja-muji para bangsawan. Jonathan Swift, dkk. merilis living library ala Scriblerus untuk menjadi alternatif karya-karya sastra agar masyarakat memiliki banyak pilihan.

Dalam buku Gempa Literasi (KPG, 2012), apa yang dilakukan pegiat literasi Gol A Gong lewat gerakan Gempa Literasi sejak sepuluh tahun yang lalu dengan berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia dan mengajak banyak orang untuk mencintai buku, aktivitas menulis, dan giat meliterasi diri-keluarga-dan lingkungan adalah upaya menjadikan diri buku sekaligus melahirkan buku-buku yang baru di kemudian hari. Meskipun penulis yang telah menghasilkan ratusan buku, Gong percaya bahwa tatap muka dan wawancara langsung bisa memberikan sekaligus menularkan ilmu, pengetahuan, wawasan, energi kreatif, dan keterampilan. Ia, dengan sadar atau tidak, adalah salah satu contoh living library yang dengan sadar melakukannya.

Dalam sebuah kesempatan, ketika tak menemukan referensi yang cukup terkait Silampari, salah satu cerita rakyat masyhur di Lubuklinggau, kami menemui dan bertanya kepada para budayawan dan sejarawan di Lubuklinggau, Musirawas, dan Muratara. Hasilnya sungguh mencengangkan, 60% informasi yang kami dapatkan ternyata sangat berbeda dengan yang beredar—atau bahkan tidak ada sama sekali di—internet. Untung kami merekam semuanya sehingga akhirnya lahirnya film dokumenter kebudayaan Silampari, Setelah 2001 (Direktorat Sejarah, 2019) yang menjadi rujukan mayor bagi ketiga wilayah di Sumatra Selatan itu ketika mempelajari Silampari.

Berbeda lagi halnya ketika Mark Sybuss, seorang pemuda Amerika yang ditugaskan membuat kertas kerja terkait salah satu negara di Eropa Timur pada tahun 2015. Wawancara singkatnya dengan Doddy Skezafehrar, seorang tentara di Budapest justru memaparkan informasi baru terkait isu rasisme terhadap umat Islam di Assothalom, salah satu distrik yang di negara itu. Rekaman wawancara itu bahkan menjadi sumber penting untuk mengimbangi informasi arus utama yang beredar di tengah masyarakat yang sebagian besar di-supply oleh internet.

Kembali dari dalam negeri, forum diskusi berbasis paper di Lubuklinggau bernama Majelis Lingkaran adalah komunitas terbuka yang memberi ruang kepada mereka yang berkapasitas di bidang tertentu untuk berbagi (sharing) asalkan yang bersangkutan membuat paper dengan struktur ilmiah dengan gaya naratif atau bercerita. Yazir Kidum, ketua komunitas ini, mengatakan bahwa hal itu diberlakukan agar pemantik atau pembicara utama tiap diskusi bertanggung jawab secara teks, bukan sekadar lisan. Paper diperlukan agar para peserta diksusi dapat membaca buah pikiran narasumber dengan saksama. Paper-paper purnakoreksi akhirnya dirilis di laman komunitas untuk bisa diakses bersama. Dalam kacamata living library, Majelis Lingkaran bukan hanya menjalankan prinsip cross-check, lebih dari itu: menerapkan kurasi dan verifikasi ketat terhadap materi yang akan menjadi konsumsi publik agar terhindar dari hoaks.

Living library adalah kita

Living library adalah sebuah pendekatan pendidikan, kebudayaan, dan literasi dengan tidak menjadikan (kemajuan) teknologi informasi sebagai referensi mayor, sebab manusia-manusia yang hidup di muka bumi, dengan semua keunikan dan kekhasan pengalaman hidup, proses belajar, ide, dan sudut pandangngnya adalah kekayaan ilmu pengetahuan yang terus bergerak, mungkin diperbarui, dan dekat dengan kehidupan itu sendiri. Bila, tiap orang menyadari potensi menjadi perpustakaan-hidup ini, tiap kita akan terus mengisi diri karena menjadi buku yang terus dibaca atau panggung yang tak pernah sepi oleh pertunjukan adalah kegembiraan yang membuat hidup terus hidup.***
__________________________________________________
Desy Arisandi, S. Pd. lahir di Biaro Lama, Musirawas, 1 Oktober 1983. Aktif berliterasi melalui opini-opininya di Linggau Pos dan Majelis Lingkaran. Sehari-harinya mengabdi sebagai guru bahasa Indonesia di SMP L, Musirawas.