Home / Headline / Peranan Santri Pra dan Post Kemerdekaan

Peranan Santri Pra dan Post Kemerdekaan

Palembang, BP

Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) DIY bekerjasama dengan Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) menggelar Seminar Nasional Virtual Sejarah dengan tema Politik Santri Antara Konfrontasi dan Akomodasi: Sebuah Refleksi Kemerdekaan, Sabtu (15/8).

Dalam seminar itu menampilkan Prof. Peter Carey yang mengusung tema Peranan Ulama dan Santri dalam Perang Jawa. Sedangkan Prof. Anhar Gonggong membawakan tema Peranan Kelompok Islam Kebangsaan dalam Kemerdekaan. Seminar ini semakin menarik karena kedua sejarawan tersebut didampingi oleh Dr. Sumardiyansyah Perdana Kusuma (Presiden AGSI) dan Dr. M. Iqbal Birsyada (sejarawan UPY). Keduanya mendukung satu sama lain dalam membahas peranan santri dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Bahkan sesudah kemerdekaan dalam upaya mempertahankan kemerdekaan.

Kegiatan seminar nasonal ini memang diadakan bertepatan dengan perayaan HUT Republik Indonesia yang ke-75. Untuk itulah tema yang diangkat terkait dengan pencapaian kemerdekaan bangsa ini. Untuk mengawali diskusi Rektor Universitas PGRI Yogyakarta Dr. Ir. Paiman, MP, memberikan pengantar jalannya diskusi sebagai pembicara utama (Kynote Speaker).

Dengan adanya seminar nasional ini diharapkan akan terbentuk penegasan tentang peranan santri dan ulama dalam pencapaian kemerdekaan negara Republik Indonesia. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa peranan santri dan ulama dalam merintis kemerdekaan bahkan sampai mempertahankan kemerdekaan tidak bisa diabaikan begitu saja apalagi dilupakan.

Perang Jawa (1825-1830) misalnya, Dipenegoro semakin kuat keyakinannya untuk memporakporandakan hegemoni Belanda di keraton Yogyakarta dan Jawa setelah mendapat dukungan dari santri dan ulama bahkan mereka terlibat langsung dalam perang Jawa.

Kerusakan moral di keraton Yogyakarta karena pengaruh budaya Belanda membuat Diponegoro menjadi geram bahkan berjanji akan menghancurkan keraton sampai batu bata terakhirnya.

Visi suci Diponegoro inilah yang kemudian mendapat simpati dari para santri dan ulama untuk terlibat dalam perang suci. Mereka itu misalnya Kiai Mojo dan Nyai Mojo, Kiai Taptojani dari Melangi, Mas Lurah Majasto pemimpin pesantren dari tempat keramat Tembayat yang merupakan tempat leluhur ibunda Diponegoro, Raden Ayu Mangkorowati. Bahkan dukungan juga datang dari Jeddah Arab Saudi yaitu Syeh Abdul Ahmad bin Abdullah al-Ansari dan menantunya Sarif Samparwedi (Hasan Munadi) yang merupakan komandan resimen kawal pribadi Diponegoro.

Sementara itu santri dan ulama peranannya terus ditunjukkan dalam pergerakan kemerdekaan yang terorganisir dalam kelompok Islam misalnya KH. Amad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan KH. Hasjim Asy’ari pendiri Nathatul Ulama. Kelompok lain yang tidak bisa diabaikan misalnya Sarekat Islam yang didirikan RM.

Tirtodisurya. Peranan mereka sudah tidak diragukan lagi sehingga mentor-mentor itu memperkokoh keinginan kuat para pejuang pergerakan untuk Indonesia merdeka. Tidak itu saja disaat kolonial ingin menjajah lagi, peranan santri dan ulama juga sangat menentukan. Peranan ini dapat dilihat pada peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya  yang digelorakan oleh KH. Abd. Wahid Hasyim (putra KH. Hasjim Asy’ari) dalam resolusi jihatnya membela tanah air adalah jihat fisabililah “Jihat di jalan Allah” sehingga memompa semangat santri-santri dan ulama di Jawa Timur untuk berjuang membela tanah air.

Seminar yang dipandu oleh Lilik Suharmaji (Kepala Dep. Litbang AGSI DIY) dan Fahruddin (Dosen UPY) ini diikuti oleh dosen, guru sejarah dan IPS se-DIY, guru sejarah dan IPS se-Indonesia, mahasiswa, pemerhati sejarah, komunitas pecinta sejarah, sejarawan, pelajar, masyarakat umum, dan civitas akademika Universitas PGRI se-Indonesia.

Kurang lebih 2.000 peserta berpatisipasi dalam diskusi ini. Dalam sambutannya ketua AGSI DIY Wahyudi, S.Pd berharap semoga kerjasama AGSI DIY dengan UPY tetap berlanjut di masa yang akan datang dan AGSI DIY membuka diri bekerjasama dengan lembaga manapun untuk memasyarakatkan dan menambah ilmu kesejarahan.#osk

x

Jangan Lewatkan

11 Penambang Batubara di Muaraenim Tewas Tertimbun  Longsor

Palembang, BP 11 orang pekerja tambang batu bara rakyat di Desa Tanjung Lalang Kecamatan Tanjung Agung Kabupaten Muara Enim, Sumsel, ...