Home / Headline / Proyek di Tengah Hutan Karet, Gunakan Agregat Kelas C

Proyek di Tengah Hutan Karet, Gunakan Agregat Kelas C

#Pengerasan Jalan Ruas Tanjung Agung, Banyak Tanah Hitam daripada Batu Split

Inderalaya, BP–Proyek pengerasan jalan di tengah hutan karet dan sawah di Desa Tanjung Agung Kecamatan Inderalaya Kabupaten Ogan Ilir (OI) dekat SMPN 3, menggunakan agregat kelas c, selain itu tidak ada papan proyek yang dipasang di areal proyek. Jalan tersebut menghubungkan Desa Ulak Segelung-Desa Tanjung Agung.

Proyek pemeliharaan jalan paket 1 ruas Tanjung Agung Ulak Segelung, dengan nilai pagu Rp 1miliar, dengan HPS Rp 975.000.0000,proyek dikerjakan oleh  CV Muara Sakti Grup yang kantornya terletak di Jalan raya no 051 Desa Lubuk Sakti, Kecamatan Inderalaya.

Pengerasan jalan yang menggunakan agregat kelas C merupakan campuran matreal batu split ini sering disebut batu asalan. Batu split jenis agregat C ini merupakan campuran antara beberapa jenis ukuran baru split. Bahan campurannya terdiri dari tanah, abu batu, pasir, batu split apa saja dan dengan komposisi yang tidak beraturan. Batu split jenis agregat C ini pada umumnya digunakan untuk bahan timbunan untuk pengurukan lahan, reklamasi dan lain-lain.

“Masak pengerasan seperti ini, banyak tanah hitam dari batunya. Pasti banyak itu untung pemborongnya. Apalagi proyek di tengah hutan karet ini. Walaupun pengerasan harusnya gunakan batu split kelas A yang harga per kubiknya Rp420ribu, kalau sekarang ini kelas murah, agregat C itukan untuk penimbunan, bukan untuk pengerasan. Kalau banyak tanah otomatis saat pengaspalan akan susah. Selain itu karena pengerasan tidak tinggi  akibatnya ketika hujan datang pasti banjir, seharusnya ini menjadi perhatian,” kata Ar warga Desa Tanjung Agung.

Kades Tanjung Agung Nuzuli mengatakan kalau pengerjaan proyek tersebut terkesan asal jadi, “ya memang beberapa titik ada yang landai, bahkan terkesan asal jadilah pengerjaan proyek tersebut. Kami ingin proyek itu dikerjakan dengan baik, kualitasnya harus bagus jadi daya tahannya bisa sampai 5 tahun. Sehingga tak mudah bonyok saat musim hujan, tak berdebu saat kemarau,” harapnya.

Sementara Pengawas Proyek dari CV Muara Sakti Grub bernama Dedek mengatakan tidak tahu soal proyek teraebut, “Saya tidak tahu, saya hanya menghitung berapa truk agregat datang. Yang jelas jalan ini tidak banjir kan sudah ditinggikan. Soal agregat kelas apa saya tidak tahu, cuma menghitung saja berapa truk yang datang. Soal nilai proyek saya juga tidak tahu. Coba tanya saja ke PUPR OI,” jelasnya.

Kadis PUPR OI Juni Edi belum bisa dimintai keterangan terhadap hal tersebut. #hen

x

Jangan Lewatkan

Pengungkapan Kasus 3C di Sumsel Menurun

Palembang, BP Minggu III September 2020, jajaran Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Sumatera Selatan dan Kepolisian Resor/Kota Besar hanya ...