Home / Headline / Penelitian dan Pengajaran Sejarah Lokal Bengkulu

Penelitian dan Pengajaran Sejarah Lokal Bengkulu

Palembang, BP

 Rangkaian kegiatan Asosiasi Guru Sejarah Indonesia dibulan Agustus ini dibuka dengan webinar dari Asosiasi guru Sejarah Indonesia Bengkulu dengan mengangkat tema “Penelitian dan Pengajaran Sejarah Lokal Bengkulu”.  Kegiatan ini melibatkan  dosen UHAMKA Jakarta, Dr. Rudy Gunawan, M.Pd. Drs. Muhardi, M.Hum dari Dinas dan Kebudayaan Propinsi Bengkulu dan Een Syaputra, S.Pd., M.Pd dari Tadris IPS IAIN Bengkulu, Sabtu (8/8).

Ketua AGSI Bengkulu mengungkapkan dengan mengangkat tema tentang Penelitian dan Pengajaran Sejarah Lokal Bengkulu,  berharap adanya peningkatkan semangat para guru untuk menyampaikan kepada siswa tentang sejarah atau peristiwa yang merupakan hasanah sejarah dan budaya Bengkulu.

Ilmanto juga berharap adanya bimbingan dari bapak Muhardi tentang budaya , tradisi dan warisan Bengkulu untuk memberi semangat dan wawasan kepada guru sehingga bisa disampaikan ke peserta didik di sekolah.

Sumardiansyah selaku Presiden Asosiasi Guru Sejarah Indonesia dalam pembukaan webinar kali menyatakan bahwa kegiatan webinar yang dilakukan sudah berkolabarosai  sesuai dengan undang-undang kebudayaan  yang ada dikarenakan peserta yang ikut tidak hanya dari kalangan guru tetapi juga mahasiswa, dosen dan juga dari jenjang SMA/SMK, Perguruan Tinggi dan lintas dinas.

Adanya kecendrungan identitifikasi sejarah sebagai hapalan harus kita hindari hal ini bisa kita atasi dengan cara penalaran dengan memperdalam konsep-konsep sejarah, ruang dan waktu, ungakap Sumrdiansyah lebih lanjut.

Warisan budaya sebagai sumber pembelajaran sejarah lokal Bengkulu tema yang dibahas oleh Drs. Muhardi, M.Hum disini ia mengungkapkan  bahwa dalam sejarah lokal nasional hanya sedikit yang membahas tentang sejarah lokal Bengkulu. Padahal saat kita upacara 17 Agustus akan ingat kota Bengkulu.  Bengkulu yang pernah dijajah Inggris telah meninggalkan budaya  jajahan Inggris dan peninggalan arkeologis telah ada sejak masa megalik muda.

Perlindungan pengembangan dan pemanfaatan dan upaya pembinaan merupakan kita dalam menjaga warisan-warisan budaya bangsa, ungkap lebih lanjut Muhardi.

Di Bengkulu ada 13 WTWB  yang diakui secara national jelas Muhardi. Keterbatasan ini dikarenakan kurangnya kajian secara akademik dan langkahnya kajian akademik yang tertinggal. Dan olehnya disarankan guru-guru bisa dilibatkan dalam kegiatan ini dengan memberikan pelatihan untuk terlibat secara akademis.

Penemuan arkeologis diawali masa  Megalitik Muda  telah ditemukan di Bengkulu yang tersebar ke seluruh kabupaten Bengkulu. Peninggalan situs Padang Sepan ditemukan tembayan kubur selain itu juga ditemukan  stampel Pangeran Cungkai yang pernah berkuasa di Kaur dan di daerah Tampayang ditemukan kapak-kapak megalik,  di Bengkulu Tengah ditemukan manik-manik dari batuan yang disebut Red Rafflesia. Manik-manik tersebut sudah dilobangi ternyata mereka cukup paham bagaimana pengolahan manik-manik. Dan nenek moyang kita tidak terkebelakang pada masa itu dan mereka mempunyai aturan yang menjadi kearifan lokal, jelas Muhardi.

Masyarakat Bengkulu pada masa Hindu-Budha sudah mengenal tulisan yang disebut dalam tulisan yang disebut akasara kaganga yang merupakan turunan dari Pallawa. Isinya ada tentang adat,istiadat, obat-obatan,kejadian alam dan lainnya. Pada Masa Islam telah ditemukan aksara Arab juga. Dan juga adanya tradisi Tabot.

Een Syahputra dosen Tadris IPS IAIN Bengkulu mengatakan sejarah lokal Bengkulu begitu banyak sehingga bisa dibagi-bagi dalam beberapa bagian dalam  penulisan sejarahnya antara lain berdasarkan periodesasi disini bisa kita kembangkan dari masa prasejarah; masa Hindu-Budha, masa Islam, masa penjajahan , masa pergerakan dan lainnya . sementara itu yang berdasarkan tema bisa dikaji dibidang ekonomi,sosial, budaya dan lainnya.

Unsur sejarah merupakan unsur lokalitas walaupun terbatas namun bukan berarti kita berhenti dalam mengkaji sejarah lokal, ucap Rudy Gunawan dosen Uhamka Jakarta.Dalam kegiatan webinar Bengkulu ini Rudy Gunawan memaparakan pembelajaran sejarah lokal.

Dalam sejarah lokal bisa kita rujuk dari keluarga, regional dan juga bisa dari komunitas walau data pendukungnya terbatas namun bukan berarti kita berhenti dalam sejarah lokal, ungkap Rudy.

Guru-guru harus menggali sejarah lokal agar siswa-siswa merasa dekat, empiris mereka rasakan, tegas Rudy.

Tradisis lokal, kebiasaan yang menjadi adat yang diikat oleh aturan yang mendapatkan sanksi sosial ,sanksi lokal. Dalam tradisi lisan bisa digunakan untuk mewariskan sejarah lokal, jelas Rudy.#osk

 

x

Jangan Lewatkan

KPK Desak PLN Sumbagsel Sertifikasi Asetnya Bekerja Sama dengan BPN

Jakarta, BP Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang diwakili Satuan Tugas (Satgas) Koordinasi Pencegahan Wilayah II, mendesak PT Perusahaan Listrik Negara ...