Home / Headline / Jazilul Fawaid: Nasib Purna Pekerja Migran Perlu Diperhatikan

Jazilul Fawaid: Nasib Purna Pekerja Migran Perlu Diperhatikan

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid dan Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Ramdhani Ramdhani dalam diskusi di ruangan wartawan DPR.

Jakarta, BP–Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid mengatakan, kita bukan bangsa kuli dan bukan kuli di antara bangsa-bangsa. Tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan layak bagi kemanusiaan.

“Ini menunjukkan bahwa pekerjaan adalah hak dasar manusia,” ujar Jazilul di ruangan wartawan DPR, Jakarta, Jumat (10/7).
Menurut Jazilul, suatu negara bisa dikatakan maju atau tidak, diukur dari jumlah pengangguran. Bila pengangguran di suatu negara tinggi maka negara itu bisa dikatakan tidak maju.

Diakui banyak warga Indonesia bekerja di luar negeri sebagai pilihan, sebab lapangan pekerjaan di dalam negeri terbatas.

“Orang Indonesia bekerja di luar negeri, mayoritas kaum perempuan. Sehingga istilah kali pertama yang muncul untuk orang Indonesia bekerja di luar negeri TKW (tenaga kerja wanita),”kata Jazilul.

Dia menambahkan, istilah TKI kemudian berubah menjadi Pekerja Migrant Indonesia (PMI).
Keberadaan pekerja migrant di luar negeri mengirimkan uang ke kampung halamannya membuat mereka disebut pahlawan devisa.

“Nah menjadi pertanyaan apabila mereka kembali ke Indonesia masih disebut sebagai pahlawan? Saya berharap pekerja migran kembali ke tanah air tetap diperhatikan sebab nasib mereka selepas bekerja dari luar negeri belum tentu sukses.
Dia berharap nasib purna pekerja migran diperhatikan. Mereka didorong mendapat pelatihan ketrampilan sehingga saat kembali bekerja di tanah air menjadi lebih baik.

“Apakah ada anggaran untuk memberi pelatihan dan perhatian kepada pekerja migrant yang kembali ke tanah air,” tanya dia.

Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Ramdhani menjelaskan, dalam waktu dekat, akan membentuk Satgas Pemberantasan Sindikasi Penempatan PMI nonprosedural sebagai bentuk memerdekakan PMI dari praktik oknum sindikasi.

Memberantas praktik mafia Sindikasi Penempatan PMI nonprosedural kata Benny, BP2MI sudah menjalin komunikasi dengan beberapa pihak termasuk Kemenlu, Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman dan Investasi, Kemenaker, BUMN, Polri dan TNI.

“Selain Kementerian dan lembaga, kita juga sudah menjalin komunikasi dengan beberapa ormas keagamaan seperti PBNU, Muhammadiyah, PGI dan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) untuk memerangi kejahatan pengiriman pekerja migran ilegal ke luar negeri,” tandasnya.

Untuk itu, dia minta dukungan dari Pimpinan MPR dan Komisi IX DPR RI, agar harapan tersebut terlaksana. “Ini tugas berat, BP2MI tidak bisa sendirian. Yang pasti, ‘Bendera Merah Putih’ tidak boleh berkibar lebih rendah di bawah posisi bendera perusahaan yang selama ini mengambil keutungan secara ilegal,” tegas Benny

Dia yakin untuk memberantas mafia tidak bisa lembaga tersendiri, karena ada Komisi IX yang akan membantu melalui alokasi anggaran.

Benny berjanji, BP2MI akan membebaskan biaya penempatan PMI Agustus mendatang sebagai hadiah HUT Kemerdekaan RI.

“Selain pemebentukan Satgas Mafia, saya juga akan meluncurkan PMI bebas dari biaya penempatan, karena mereka selama ini terbebani praktik rente sehingga harus membayar bunga 21 hingga 27 persen,” ujar Benny.

Ditambahkan, oknum jahat yang memanfaatkan pekerja migran selama ini adalah oknum yang menamakan koperasi atau lembaga non perbankan yang secara licik meminjam di bank.

“Bank juga terlibat kejahatan itu dengan bunga enam persen ketika dipinjamkan ke PMI membengkak 21 hingga 27 persen,” katanya.

Dikatakan, BP2MI era kepemimpinannya memerangi sindikasi PMI non prosedural. “Kita sudah mendeklarasikan perang melawan mafia, sindikat dan penjahat pengirim PMI ilegal,” paparnya. #duk

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
x

Jangan Lewatkan

150 Personil Bintara Kodam II Sriwijaya Ikuti MTT Pengetahuan Intelijen

Palembang, BP Sebanyak 150 prajurit jajaran Kodam II/Swj, mengikuti Mobile Training Team (MTT) Pengetahuan Dasar Intelijen bagi Bintara Intelijen dan ...