Ultimate magazine theme for WordPress.

Masalah di Tengah Corona

Oleh HERLIANSYAH

Mahasiswa UIN RAFA Palembang Ikatan Mahasiswa Empat Lawang (IMEL) Palembang

SEJAK 2 Maret yang lalu saat Presiden Jokowi mengumumkan dua warga Indonesia positif corona, kepanikan dan kecemasan yang luar biasa dari ancaman dan eksistensi wabah tersebut menjangkiti penyebarannya secara massal. Sontak saja sedari penampakannya di permukaan begitu banyak korban jiwa berjatuhan dan aktivitas yang tersendat oleh keganasan virus yang dinamai corona virus desease 2019 (covid-19).
Sebelumnya paparan wabah memang sudah memberikan pengalaman buruk bagi umat manusia. Setidaknya, pada dekade 1330 yang dinamai Maut Hitam telah membunuh 75 juta sampai 200 juta jiwa penduduk Asia, Eropa, dan Afrika Utara . Kemudian dilandah ledakan wabah potensial seperti pada tahun 2002/2003 wabah SARS, tahun 2005 flu burung, pada tahun 2009/2010 flu babi dan Ebola pada tahun 2014 (Harari, homodeus).
Belajar dari pengalaman tersebut dan perolehan kemenangan melawan wabah pada tahun 1967 cacar yang telah menjangkiti 15 juta orang didunia dan membunuh 2 juta diantaranya. Kemudian pada tahun 1976 Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengkampanyekan vaksin cacar dan mendeklarasikan bahwa manusia telah menang melawan cacar, dan dibuktikan pada tahun 2014 tidak seorangpun yang terjangkit atau terbunuh oleh cacar. Ditambah dengan adaptasi perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan sekarang ini. Umat manusia mempunyai peluang dan harapan yang besar untuk segera keluar dari keterpurukan penyebaran wabah virus covid-19.
Terlepas dari sebuah peluang dan harapan tersebut umat manusia terindikasi besar mengalami masalah yang lebih kompleks ditengah penyebaran wabah covid-19 yang tengah melanda. Masalah tersebut adalah HOAX (berita bohong). Tidak dapat dipungkiri ditengah duka yang dialami masih banyak oknum-oknum menyelam sambil minum air. Sebagai gambaran, berita hoax dapat hadir berupa informasi saran-saran yang terlalu mudah dilakukan untuk menghadapi wabah. Akibatnya, kabar hoax tersebut memberikan rasa aman palsu dan menyingkirkan kewaspadaan yang semestinya karena merasa sudah menjauh dari paparan wabah tersebut. Kemudian kabar hoax yang bombastis menakut-nakuti masyarakat awam. Sehinga menimbulkan kepanikan yang luar biasa dan berujung dari kepanikan tersebut membuat masyarakat lebih rentan terjangkit wabah covid-19 kerena kepanikan.
Kabar bohong juga dapat berupa salah menyelahkan kerena tendensi tertentu. Dimana terjadinya kecurigaan satu-sama lain yang berujung debat dan mempengaruhi kebijakan bahkan penolakkan. Kalau masih berkutik pada menyalahkan lantas siapa lagi akan berupaya untuk memperbaiki keadaan ini? Bukankah kita sama-sama mengharapkan keadaan yang membaik? Tanpa kita kecam dan menyalahkan, situasinya sekarang ini sudah mencengkam dan memperihatinkan. Lantas kita masih hadir dengan memperkeruh keadaan? Maka kita butuh kerjasama antara semua elemen pemerintah dan masyarakat. Selain tidak menyebarkan rumor yang belum terkonfirmasi kejelasanya, dengan mematuhi dan mengikuti himbauan pemerintah atau lembaga kesehatan juga merupakan langkah yang efektif untuk menganggulangi penyebaran wabah covid-19. Dan tentunya masih banyak lagi kabar bohong menyusupi rumor ditengah masyarakat yang memperburuk keadaan.
Konsumsi informasi dalam situasi mencengkam di tengah wabah yang melanda menjadi langkah efektif untuk memutus mata rantai penyebaran wabah covid-19. Dari informasi masyarakat mengetahui banyak hal agar tehindar dari terjangkitnya virus dan mengetahui langkah kongrit yang harus dilakukan sesuai anjuran pemerintah dan lembaga kesehatan. Namun demikian dari maraknya kabar bohong yang beredar menjadi tantangan masyarkat untuk memilah, memilih, dan mengolah informasi yang melimpah.
Andil cendikiawan dalam membersamai budaya literasi amat diperlukan untuk turun gunung. Jika sebaran kabar bohong begitu masif mewarnai beredarnya informasi maka perlunya tandingan lebih komprehensif atas informasi yang benar. Cendikiawan bersama media informasi baik cetak, televisi, dan radio menjadi pion terdepan untuk tandingan fenomena merebaknya kabar bohong.
Dalam buku `Media Sosial Agama Baru Masyarakat Millenial` karya Nurudin mengelompokkan dua kontrol informasi yang beredar, yaitu masifikasi dan demasifikasi. Masifikasi dapat diartikan sebagai kontrol informasi oleh media informasi. Sedangkan demasifikasi kontrol informasi oleh individu. Dalam era sekarang akses sebuah informasi mempunyai banyak pilihan. Dari sinalah maraknya kabar bohong dapat merebak dengan luas. Maka disarankan konsumsi informasi selayaknya melalui media informasi yang tentunya dapat dipertanggung jawabkan dan terkonfirmasi kejelasan suatu informasi tersebut agar tehindarnya kabar bohong yang amat merugikan.
Selain kabar bohong dan wabah virus covid-19 yang menjadi musuh kita bersama. Tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan, bukankah kita semua mengkhawatirkan masalah yang sama dan berupaya dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Jadi jangan menaruh kecemasan lagi terhadap apa yang sedang kita alami bersama, ini hanya perkara waktu dan kepercayaan satu-sama lain. Jika masih ada anggapan ada oknum yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan atau hal lain yang tidak sesuai, maka yakinlah semuanya pasti ada pertanggung jawabanya dan tidak ada yang bisa lari dari itu.

Baca Juga:  Pemuda dalam Pusaran Romansa Partai Politik

Sejak tertanggal 2 Maret yang lalu saat Presiden Jokowi mengumumkan dua warga Indonesia positif korona, membuat kepanikan dan kecemasan yang luar biasa dari ancaman dan eksistensi wabah tersebut dalam menjangkit penyebarannya secara massal. Sontak saja sedari penampakkannya dipermukaan begitu banyak korban jiwa berjatuhan dan aktivitas yang tersendat oleh keganasan virus yang dinamai corona virus desease 2019 (covid-19).
Sebelumnya paparan wabah memang sudah memberikan pengalaman buruk bagi umat manusia. Setidaknya, pada dekade 1330 yang dinamai Maut Hitam telah membunuh 75 juta sampai 200 juta jiwa penduduk Asia, Eropa, dan Afrika Utara . Kemudian dilandah ledakan wabah potensial seperti pada tahun 2002/2003 wabah SARS, tahun 2005 flu burung, pada tahun 2009/2010 flu babi dan Ebola pada tahun 2014 (Harari, homodeus).
Belajar dari pengalaman tersebut dan perolehan kemenangan melawan wabah pada tahun 1967 cacar yang telah menjangkiti 15 juta orang didunia dan membunuh 2 juta diantaranya. Kemudian pada tahun 1976 Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengkampanyekan vaksin cacar dan mendeklarasikan bahwa manusia telah menang melawan cacar, dan dibuktikan pada tahun 2014 tidak seorangpun yang terjangkit atau terbunuh oleh cacar. Ditambah dengan adaptasi perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan sekarang ini. Umat manusia mempunyai peluang dan harapan yang besar untuk segera keluar dari keterpurukan penyebaran wabah virus covid-19.
Terlepas dari sebuah peluang dan harapan tersebut umat manusia terindikasi besar mengalami masalah yang lebih kompleks ditengah penyebaran wabah covid-19 yang tengah melanda. Masalah tersebut adalah HOAX (berita bohong). Tidak dapat dipungkiri ditengah duka yang dialami masih banyak oknum-oknum menyelam sambil minum air. Sebagai gambaran, berita hoax dapat hadir berupa informasi saran-saran yang terlalu mudah dilakukan untuk menghadapi wabah. Akibatnya, kabar hoax tersebut memberikan rasa aman palsu dan menyingkirkan kewaspadaan yang semestinya karena merasa sudah menjauh dari paparan wabah tersebut. Kemudian kabar hoax yang bombastis menakut-nakuti masyarakat awam. Sehinga menimbulkan kepanikan yang luar biasa dan berujung dari kepanikan tersebut membuat masyarakat lebih rentan terjangkit wabah covid-19 kerena kepanikan.
Kabar bohong juga dapat berupa salah menyelahkan kerena tendensi tertentu. Dimana terjadinya kecurigaan satu-sama lain yang berujung debat dan mempengaruhi kebijakan bahkan penolakkan. Kalau masih berkutik pada menyalahkan lantas siapa lagi akan berupaya untuk memperbaiki keadaan ini? Bukankah kita sama-sama mengharapkan keadaan yang membaik? Tanpa kita kecam dan menyalahkan, situasinya sekarang ini sudah mencengkam dan memperihatinkan. Lantas kita masih hadir dengan memperkeruh keadaan? Maka kita butuh kerjasama antara semua elemen pemerintah dan masyarakat. Selain tidak menyebarkan rumor yang belum terkonfirmasi kejelasanya, dengan mematuhi dan mengikuti himbauan pemerintah atau lembaga kesehatan juga merupakan langkah yang efektif untuk menganggulangi peneyebaran wabah covid-19. Dan tentunya masih banyak lagi kabar bohong menyusupi rumor ditengah masyarakat yang memperburuk keadaan.
Konsumsi informasi dalam situasi mencengkam di tengah wabah yang melanda menjadi langkah efektif untuk memutus mata rantai penyebaran wabah covid-19. Dari informasi masyarakat mengetahui banyak hal agar tehindar dari terjangkitnya virus dan mengetahui langkah kongrit yang harus dilakukan sesuai anjuran pemerintah dan lembaga kesehatan. Namun demikian dari maraknya kabar bohong yang beredar menjadi tantangan masyarkat untuk memilah, memilih, dan mengolah informasi yang melimpah.
Andil cendikiawan dalam membersamai budaya literasi amat diperlukan untuk turun gunung. Jika sebaran kabar bohong begitu masif mewarnai beredarnya informasi maka perlunya tandingan lebih komprehensif atas informasi yang benar. Cendikiawan bersama media informasi baik cetak, televisi, dan radio menjadi pion terdepan untuk tandingan fenomena merebaknya kabar bohong.
Dalam buku `Media Sosial Agama Baru Masyarakat Millenial` karya Nurudin mengelompokkan dua kontrol informasi yang beredar, yaitu masifikasi dan demasifikasi. Masifikasi dapat diartikan sebagai kontrol informasi oleh media informasi. Sedangkan demasifikasi kontrol informasi oleh individu. Dalam era sekarang akses sebuah informasi mempunyai banyak pilihan. Dari sinalah maraknya kabar bohong dapat merebak dengan luas. Maka disarankan konsumsi informasi selayaknya melalui media informasi yang tentunya dapat dipertanggung jawabkan dan terkonfirmasi kejelasan suatu informasi tersebut agar tehindarnya kabar bohong yang amat merugikan.
Selain kabar bohong dan wabah virus covid-19 yang menjadi musuh kita bersama. Tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan, bukankah kita semua mengkhawatirkan masalah yang sama dan berupaya dengan tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Jadi jangan menaruh kecemasan lagi terhadap apa yang sedang kita alami bersama, ini hanya perkara waktu dan kepercayaan satu-sama lain. Jika masih ada anggapan ada oknum yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan atau hal lain yang tidak sesuai, maka yakinlah semuanya pasti ada pertanggung jawabanya dan tidak ada yang bisa lari dari itu.#

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...