Home / Headline / Mengapa Menulis Biografi Syekh Muhammad Azhari Al-Palimbani?

Mengapa Menulis Biografi Syekh Muhammad Azhari Al-Palimbani?

Oleh : Abdul Azim, M.Hum, (Ketua Yayasan Najahiyah 3-4 Ulu Palembang)

Sejarah dan kebudayaan Islam terbagi dalam tiga periode; klasik, pertengahan dan periode modern. Periode klasik terdiri dua masa; masa Kemajuan Islam I (650-1000 M); sebagai masa ekspansi, integrasi, dan keemasan Islam.; dan masa Disintegrasi (1000-1250 M); Sesungguhnya, terjadi masa disintegrasi dalam bidang politik ini, telah berlangsung lama, sejak akhir zaman Bani Umayyah di Damaskus (Nasution, 1974: 56-89).

Demikian pula periode Pertengahannya, juga terdiri dua masa; masa kemunduran Islam I (1250-1500 M); pada masa ini, Jengis Khan dan keturunannya membawa penghancuran ke dunia Islam; dan masa Tiga Kerajaan Besar Islam/ TKBI (1500-1800), namun dalam masa TKBI ini, dibagi lagi menjadi dua fase; fase kemajuan – Islam II- (1500-1700); dan fase kemunduran – Islam II (1700-1800); Sedangkan terakhir adalah periode Modern (1800-), merupakan periode kebangkitan Islam (Nasution, 1974: 56-89).

Memasuki periode modern di penghujung abad ke-18 Masehi, yakni alam fase kemunduran Islam II ini, menurut Badri Yatim (Historiografi Islam; 1997: 217-223), negeri Mesir sudah memperlihatkan tanda-tanda kebangkitan (Islam) itu yang dimulai dengan munculnya beberapa orang penulis Mesir dalam berbagai disiplin ilmu.
Selanjutnya, ia mengutip pendapat Prof. DR. H. A. Mu’in Umar, bahwa faktor yang mempengaruhi kebangkitan penulisan sejarah di Mesir pada abad ke-19 M itu antara lain karena adanya gerakan pembaharuan menjelang akhir kekuasaan Ismail Pasya pada pertengahan abad ke-19 M.

Ikut pula mempengaruhi perkembangan ilmu sejarah adalah percetakan yang pertama pada tahun 1798 M. Percetakan ini dibawa pulang ke Prancis ketika pendudukan mereka berakhir. Pada tahun 1822 M, Muhammad Ali Pasya mendirikan satu unit percetakan Bulaq.

Adapun kondisi negeri di wilayah Kepulauan Nusantara pada masa ini, terutama pada sebagian besar daerah di pulau Jawa sudah mengalami fase penindasan oleh bangsa Barat asal benua Eropa, sementara keadaan umat Islam di negeri Palembang dibawah pimpinan Sultan yang didampingi Ulamanya, menurut penulis, sedang mengalami fase perluasan kekuasaan jajahan bangsa Eropa tersebut.

Dalam menghadapi kondisi tersebut guna mempertahankan kedaulatan negerinya itu, baik dengan memperkokoh rohani umat, maupun dengan mengobarkan semangatmelawan kaum kafir harbi atau inadi, maka tampillah beberapa ulama Jawi (Melayu) yang berjuang melalui sejumlah tulisannya dalam berbagai disiplin ilmu, diantaranya mengembangkan disiplin ilmu fiqh dalam aspek jihad fi sabilillah dan ilmu tasawuf dalam aspek ro`yu Allah sebagaimana dilakukan oleh Syekh Abdus Shomad al-Falimbani (1150/1736-1200/1785) ulama penulis kelahiran negeri Palembang yang hidup pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Baha`uddin dan Sultan sebelumnya. Diantara kitabnya yang terkenal adalah
نصيحة المسلمين و تذكرة المؤمنين فى فضائل الجهاد فى سبيل الله و كرامة المجـاهدين فى سبيل الله

Dalam pandangan al-Falimbani tentang konsep jihad yang berlandasan al-Qur`an dan al-Ahadis sebagai sumber rujukannya itu ada dua pemikirannya; pertama, sebagai muslim diwajibkan memerangi orang-orang kafir (harbi, pen) di medan peperangan, yakni memerangi (para) penentang Islam, itulah disebutnya sebagai jihad muthlaq; kedua, jihad yang dianjurkan oleh al-Falimbani adalah melawan hawa nafsu (takut mati, pen) baik (harus berani hidup, pen) untuk dirinya sendiri, maupun (untuk/karena) orang lain.

Harkat dan martabat umat dijaga dengan membantu jatidiri dan kepribadiannya ; beriman, berislam dan berihsan; mukmin, bersifat berani dan berlaku jujur, muslim berdisiplin tinggi dan bekerja keras; berjuang dan dls, kokoh pendirian, berkemanusiaan tinggi; .

Pemikirannya ini dilatar-belakangi oleh kondisi umat Islam di kerajaan Siam atau sekitarnya pada masa itu, ternyata, beberapa tahun kemudian, setelah wafatnya, kondisi yang sama dialami pula oleh kaum Muslimin di negeri kelahirannya sendiri yang berada dalam fase intervensi, penetrasi, dan agresi dari bangsa Barat.
Semula, bangsa Barat ini berlaku wajar, sebagaimana para saudagar asal negeri India dan Cina, namun setelah Inggris Raya dan Belanda memiliki organisasi bisnis dan senjata modern, mulailah mengadakan campur-tangan, berupaya keras mempengaruhi kebijaksanaan sebagian Sultan, seperti terjadi di pulau Jawa, misalnya Sultan di daerah Cirebon, dls.

Dengan kerapian organisasi dan kekuatan militernya itu, bangsa ini berupaya keras memaksa/menekan para Sultan untuk memonopoli jalur perdagangan, dan menguras kekayaan sumber daya alamnya dengan sewenang-wenangnya pula tanpa batas, baik memonopoli dalam bidang angkutan, maupun dalam beberapa jenis komoditi yang laku keras di Eropa, sehingga dapat meraup keuntungan yang berlipat ganda.

Kondisi ini secara tak langsung telah mencegah umat Islam melalui para penguasanya untuk memperoleh hak-hak mereka sebagai rakyat pribumi yang sejahtera, terutama dalam menjalankan isi kitab Undang-undang Simbur Cahaya, dan tidak diberi kebebasan untuk melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam, termasuk dalam bidang bisnis/perdagangan yang telah dirintis dengan bangsa China Muslimin (baca: Risnaini, Skripsi; 9642029: 2001: 64-65).
Di negeri Palembang sendiri, Belanda telah lama mempengaruhi kebijaksanaan Sultan hingga masa Sultan Muhammad Baha`uddin, namun pada masa Sultan Mahmud Badaruddin bertahta, mulai ada ketegasan sikap dan tindakan berani tentang bagaimana menerapkan sistem ekonomi Islami.

Bukan mustahil, pengaruh pemikiran al-Falimbani ini menjadi landasan kebijaksanaan Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin dan para Menteri yang didukung ulama dan rakyatnya dalam melawan serangan bangsa Barat; pasukan Inggris, Belanda, Prancis, dan sekutunya. Dan adanya intervensi kaum penjajah ini terhadap kebijaksanaan Sultan ingin lepas dari pengaruh bangsa Asing, selanjutnya menimbulkan penetrasi dan agressi seperti diungkapkan dengan berbagai buktinya oleh Team Ahli Sejarah Islam dari MUI, bahwa berbagai khid’ah (tipu muslihat) untuk menguasai umat Islam telah digunakan bangsa Barat, maka sejak abad ke-16 Masehi sampai awal ke-20 Masehi, maka umat Islam dibawa para pemimpinnya menghadapi berbagai corak tantangan dan gangguan dari kekuatan-kekuatan Barat ini dalam beberapa fase sbb:

“Pertama, dalam fase persaingan perdagangan, Demak melawan Portugis di Malaka (1512); Ternate (Sultan Khairun dan Sultan Babullah) melawan Portugis; Tidore melawan Spanyol; Aceh melawan Portugis di Malaka; dan Gowa Tallo (Sultan Hasanuddin) melawan VOC.; kedua, dalam fase penetrasi dan agressi, Sultan Agung Mataram menyerbu Batavia (1627 dan 1629); Sultan Ageng Titayasa dengan dukungan Syekh Yusuf Makassar melawan penetrasi VOC ke Banten (1680), Kesultanan Aceh melawan agressi Hindia Belanda (1873). Sejak ini bermulalah perang perang Aceh yang tak pernah berhenti menghadapi Belanda; ketiga, dalam fase perluasan kekuasaan jajahan, terjadi perang Diponegoro (1825-1830); Perang Paderi (1821-1837); Perang Antasari (1879) (MM. No. 112, 1986: 9). Dalam fase penindasan, terjadilah pemberontakan melawan penjajah.(MUI, 1986: 8-9)”.

Pada periode ini, dalam catatan sejarah Palembang yang ditinggalkan para tetuo, bahwa pada tahun 1227.H, terjadi serangan pasukan Inggris ke negeri Palembang.

Serangan dahsyat ini datang secara tiba-tiba, kemudian Sri Paduka Sultan Mahmud Badaruddin hijrah ke Muara Rawas.

Setelah itu datang pula serangan pasukan Belanda sekitar tahun 1814; dan sejak ini, tanpa henti-hentinya, serangan datang silih berganti dengan kapal perang bersenjata modern.

Puncak peristiwa ini terjadi pada fase agressi dan penetrasi dengan adanya serangan besar Belanda pada tahun 1819, tanggal 12 s/d 15 Juni, dan tgl. 9 s/d 21 Oktober, hingga tanggal 3 November 1819, sehingga muncul perlawanan heroik menghadapi pasukan gabungan; Belanda, Inggris/ Australia/Prancis dan sekutunya.

Saat berkobarnya perang sabil ini, guna mempertahankan kedaulatan Islam dan prinsip-prinsip ajaran Islam, maka salah seorang panglima perang sabilnya; Kiyai Demang Wirolaksana selaku Menteri Suhunan Mahmud Badaruddin dengan julukan Pangeran Natokeramo, gugur selaku syahid akhirat tahun 1819 M, karena dieksekusi oleh kaki-tangan Sulton Mudo, akibat politik belah-bambu yang dijalankan oleh Muting He.

Peritiwa terjadinya ekskusi ini diawali adanya perundingan, beliau bersama rombongannya yang didampingi pula oleh dua juru tulisnya; Kemas Abang dan Husin mewakili kepentingan pihak Kesultanan palembang Darus Salam, ditengah perundingan tertsebut, lalu beliau dipojokkan, diperdaya, setelah itu ditawan, kemudian disiksa di kambang keraton Benteng Kuto Lamo beberapa minggu karena tubuh beliau kebal. Kemudian baru dibawa dan dibunuh di dusun Belida.

Setelah beberapa tahun kemudian, kerangka jenazahnya dipindahkan oleh anaknya; Kiyai Demang Jayalaksana ke gubah keluarga di Talang Kerangga kampong Suro (30 Ilir) Palembang. Karena itu, tidaklah berlebihan, jika dikatakan, bahwa negeri Palembang dapat dikategorikan sebagai salah satu pusat gerakan Perlawanan Islam terhadap bangsa asing di Nusantara, meskipun selalu mengalami kegagalan.

Kondisi umat Islam pasca eksekusi Kiyai Demang Wirolaksano dan dua juru tulisnya ini, terus mengalami kelemahan. Politik belah-bambu yang dijalankan oleh Muting He ini, disempurnakan dan dilanjutkan oleh Mayor Jenderal Baron De Kock.

Sehingga mampu membuyarkan persatuan umat Islam, maka dalam kondisi saling curiga antara keluarga inilah, dengan mudahnya, Belanda dan pasukan sekutunya dapat menaklukkan umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa bulan Ramadlon 1236/ 1237 H, karena diserang kembali secara licik dengan dahsyatnya pula oleh pasukan Belanda Kafir Harbi ini dibantu oleh pasukan bayaran asal beberapa suku Ambon, Jawa, dan lainnya.
Diduga merupakan lanjutan perang salib yang dilancarkan oleh pihak penjajah bangsa Barat.

Konfrontasi dan perang sabil ini berakhir dengan gugurnya ribuan para syuhada’ dan sejumlah panglima perangnya, diantaranya ada yang diperdayakan, lalu ditawan, disiksa, dan dibunuh di dusun Belida saat mempertahankan kedaulatan Kesultanan Palembang Darus Salam dari intervensi bangsa Barat.

Berkaitan dengan lanjutan perang salib di atas, maka G.H. Jansen (terj. Sadeli, 1980: 63-64) menuliskan pada bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Nasional sbb:

“Usaha misi Kristen yang menggunakan dan membiarkan dirinya digunakan oleh kekuasaan imperium kolonial Eropa sekular inilah yang segera dikenal sebagai musuh oleh Islam… Konfrontasi dengan Islam tak dapat dihindarkan, ada enam daerah sasaran kegiatan misionaris: Cina, India, Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika Hitam, dan Afrika Utara. Di Indonesia khususnya, kait berkait kegiatan misionaris Kristen dan kegiatan kolonialis Belanda mudah dilihat sebab memang dari semula keduanya saling berkait”.
B. Peranan Haji Muhammad Akib Palembang

Melukiskan sejarah Islam dan kebudayaannya di negeri Palembang pada periode modern Islami, abad pertengahan ke-19.M., baik dalam fase perluasan wilayah jajahan Barat pasca perang sabil, maupun dalam fase penindasan Belanda pasca terbentuknya struktur masyarakat baru buatan Belanda dan pasukan sekutun, maka tidak dapat melewatkan riwayat hidup dua tokoh ulama yang sangat berpengaruh pada masa itu; Haji Muhammad Akib bin Hasanuddinالحاج محمد عاقب بن حسن الدين / dan Syekh Muhammad Azhari al-Falimbani اشيخ محمّد أزهرى ابن عبد الله الفالمبانى

Hal ini seperti diterangkan oleh Ki. H. M. Asyik Amir (Tanbieh, 1340/ 1921:2) sebagai berikut:
“…kami telah mendapat kabar (خبر) yang mutawatir,(متواتر) adalah pada zaman (زمن) dahulu-dahulu di negeri Palembang ini Pangeran penghulu punya aturan apabila berkehendak memutuskan sesuatu hukum (حكم) yang belum tahqiq (تحقيق) maka mereka itu menyuruh khotib (خطيب) penghulunya minta fatwa (فتوى) pada ulama (علماء) yang semasa dengan mereka itu seperti almarhum qudwatuna alhaj muhammad ‘akib ibnu hasanuddin (المرحوم قدوتنا الحاج محمد عاقب ابن حسن الدين) dan almarhum alsyaikh muhammad azhary bin abdillah (المرحو م الشيخ محمد أزهرى ابن عبد الله) maka apabila telah dapat nash dan fatwa dari ulama yang tersebut itu barulah mereka itu memutuskan hukum itu dengan fatwa ulama …”.

Zulkifli (1999:11-13) mengatakan, bahwa Haji Muhammad Aqib bin Hasanuddin الحاج محمد عاقب بن حسن الدين . Ini hidup antara tahun 1760-1849. Maka dapat diyakini, bahwa beliau ini merupakan salah seorang ulama senior di Palembang pada pascaperang sabil yang masih dan menjadi saksi hidup saat bergolaknya perang tersebut di Palembang selama hamper 10 tahun sejak tahun 1811 hingga tahun 1821 M.

Adapun mengenai ulama` Syekh Muhammad Azhari al-Falimbani الشيخ محمّد أزهرى ابن عبد الله الفالمبانى , beliau hidup antara tahun 1811-1874; Beliau ini dapat disebut sebagai ulama penerus cita-cita para pendahulunya, agar terbinanya umat Islam yang berkarakter dan memiliki jati-diri khas.

Dan patut diketahui, julukan قدوتنا yang digunakan umat Islam di Palembang pada masa itu untuk menyebut para ulamanya, tentu mengandung makna sangat dalam, berfunghsi ganda selaku Pendidik dan Penyiar Islam, sehingga menjadi panutan mereka. Tampaknya, Haji Muhammad Akib ini termasuk salah seorang ulama yang lolos dari eksekusi pihak Belanda dan pasukan sekutunya.

Dan dari daerah pedalaman hingga wafatnya, beliau sangat berperan meneruskan perjuangan menanamkan cita-cita luhur ke dalam hati dan benak kaum generasi muda Muslimin dengan mengajarkan agama Islam kepada mereka hingga dapat meneruskan pelajaran tingkat lanjutannya di pulau Jawa atau langsung ke tanah Hijaz.

Salah Seorang Ulama Berteologi Asy’ari
Saat terjadi serangan besar-besaran dari pihak Belanda dan pasukan sekutunya, terdiri dari etnis Arab dari kerajaan Siak, dibantu pula oleh serdadu bayaran dari kaum pribumi; Ambon, Mentok, dan Jawa terhadap pasukan Kesultanan Palembang Darus-Salam – Melayu Palembang dan Komering, dls- pada tahun 1819 dan 1821 M, diduga paham teologi selain Asy’ari berpeluang besar untuk dapat tumbuh di negeri Palembang pasca fase agresi dan perluasan wilayah jajahan oleh bangsa Eropa di Nusantara. Dan bukan mustahil pula, pihak Belanda memanfa’atkan pengaruh gerakan ulama yang dipelopori oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang mengklaim kelompoknya selaku kaum bermazhab ahlu l-haqq, dls.

Zulkifli (1999:41-42) juga mengatakan, secara umum, pemikiran keagamaan ulama Sumatera Selatan abad ke-19 M dan awal abad ke-20 M memiliki karakterisitk yang sama dengan karakteristik Islam tradisional yang berkembang di Indonesia. Karateristik pemikiran keagamaan tersebut adalah berpegang teguh kepada teologi al-Asy’ari dan al-Maturidi, fiqih Imam as-Syafi’i, tasawuf Imam Junaidi al-Baghdaddi dan al-Ghozali. Sebagaimana ulama-ulama` sebelumnya, dalam bidang tarekat kebanyakan masih tetap menjadi pengkut dan guru Tarekat Sammaniyah. Ketiga aspek tersebut telah membentuk suatu kesatuan system yang tidak terpisahkan, karena ketiganya memiliki kesamaan prinsip dasar dan aplikatifnya

Meskipun demikian, ada hal yang perlu dicermati tentang karaktersitik ulama` Palembang yang disebutkan diatas, terutama dalam bidang teologi dan tasawuf, karena, jika hanya berdasarkan kitab karangan Syekh Muhammad Azhari bin Abdillah bin Ma’ruf yang ditulis tahun 1892.

Sedangkan sebelumnya, 1842, Syekh Muhammad Azhari bin Abdullah bin Ahmad (1811-1874) telah menyataakan dengan tegas, bahwa dalam bidang tasawuf, bermazhab al-Junaidi al-Baghdadi, dan teologinya bermazhab al-Asy’ari, tanpa menyebut al-Ghozali dan al-Maturidi. yang (Zulkifli, 1999: 41).

Karakteristik Ulama` dan Golongannya
DR. Taufiq Abdullah (MUI, No.111,1986: 38-39), mengatakan, ada tiga pangkal tolak berfikirnya ulama Indonesia; pertama, bertolak dari keprihatinan teologis: yakni bertolak dari ajaran; yang terpenting adalah kejernihan menurut kitab, karena itu mereka sering digolongkan sebagai kaum tradisional.

Kedua, dari keprihatinan struktural: yakni bertolak dari realitas umat Islam yang seringkali berbeda dengan idealita yang terkandung dalam ajaran Islam, kondisi ini cendrung membuat mereka lebih aktivis, sekaligus dengan mendalami dan mengamalkan ajaran Islam. Golongan ini kemudian berpendapat, bahwa untuk memecahkan masalah tersebut adalah sangat penting mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan amal usaha.

Ketiga, dari kepenasaran intelektual. berawal dari kegiatan intelektual mereka, seperti membaca pembahasan-pembahasan karya orientalis atau muslim tentang Islam. Pada umumnya mereka bukan ahli kitab. Merdeka lebih menekankan perlunya prestasi yang hebat sambil menggugah segala macam kerutinan.

Mengenai Syekh Muhammad Azhari bin Abdullah bin Ahmad , belum juga diketahui secara jelas, apakah شيخ فالمبانى ini dapat digolongkan sebagai pelopor ulama` tradisonal, atau lainnya, karena beliau mampu dan menguasai isi sejumlah kitab standar, pada masanya, namun, setelah mengetahui bahwa beliau ini sebagai ulama pengarang dalam sejumlah kitab pula, maka penulis mencoba mengungkapkan riwayat hidupnya, sehingga dapat diketahui secara jelas, dan dikenal secara luas, siapakah beliau ini yang sebenarnya, dan dapatkah pula digolongkan sebagai pelopor ulama penasaran, atau struktural.

C. Syekh al-Falimbani Selaku Seorang Ulama Kultural
Kemas Haji Muhammad Azhari dijuluki Belanda sebagai Tuan Syekh. Kedudukannya selaku Ulama Palembang sejajar dengan Haji Muhammad Akib bin Hasanuddin ا لحاج محمد عاقب بن حسن الدين / . Kedua ulama` ini sangat dihormati kaum Muslimin Palembang dan sekitarnya dengan menjulukinya sebagai Qudwatuna “قدوتنـا /Kiyai Panutan Kita”. seperti diungkapkan oleh Kiyai Haji Muhammad Asyik bin Amir di atas.
شيخ فالمبانى

ini digolongkan oleh Zulkifli (1998: 96) selaku salah seorang ulama’ bebas. Penulis sangat setuju, karena penilaiannya cukup beralasan; tanpa adanya kebebasan, mustahil dapat melakukan sesuatu yang bermakna bagi perkembangan Umat Islam. Karena hidup pada fase penindasan kaum penjajah Belanda dan sekutunya itu, umat Islam boleh kehilangan sesuatu berupa harta-benda, namun, dijaga sekali keyakinan agamanya, sekalupun hidupnya msikin harta-benda, akan tetapi tetap berkerakter dan berjati-diri selaku Muslim Melayu.

Boleh saja kehilangan nikmat harta-bendanya sehingga mengalami hidup miskin, namun tidak hendak ditukar dengan kekufuran. Maka perlu sesuatu. Sesuatu itu hanya diketahui oleh para ulama`, diantaranya kebebasan yang menjadi syarat bagi pengembangan dan pembinaan karakter dan jati-diri penduduk negeri yang sedang kebingungan akibat adanya penjajahan kaun Kafir Harbi.

Adapun dasar dan sumber mengembangkan dan membina karakter itu adalah aqidah Islamiah. Aqidah ini harus dipahami, dihayati, dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga membuahkan sifat jujur, penuh disiplin, dan tidak pernah merasa putus asa akan rahmat Allah SWT.

Sedangkan tugas mengembanghkan dan membina jati-diri kaumnya diserahkan kepada pejabat/pemuka/ tokoh masyarakat lainnya. Diantaranya dilakukan oleh Kiyai Demang Jayalaksana; Babah Muhammad Najib dan saudaranya; Babah Abdullah bin Kiyai Demang Wirolaksana Babah Haji Abdul Khalik.

D. Tujuan dan Maksud Menulis Biografi Beliau

Mengingat, kontribusi bangsa Eropa; terutama bangsa Belanda selaku penjajah selama kurang lebih 128 tahun silam, dan telah pernah melakukan aksi terorismenya kepada penduduk Palembang selama kurang lebih tujuh tahun sehingga Sultan Mahmud Badaruddin diasingkan dan diusir dari negeri kelahirannya sendiri.

Penjajah Barat ini, dalam sejarahnya, bukan saja telah membelokkan arah cita-cita para leluhur umat Islam di Nusantara, termasuk di Palembang, melainkn juga, hingga kini, kontribusinya dalam turut mensejahterakan penduduk negeri Palembang (Sumatera Selatan) belum juga dapat dirasakan. Bahkan, upaya keras pembelokkan arah cita-cita para leluhur umat Islam itu, betul-betul telah mempengaruhi pemahman agama para pemuka msyarakat Islam, dan mengaiskan peran sertanya, sehingga dengan mudah, umat Islam dapat dibodohkan, dan dimiskinkan. Karena runtuhnya bangunan karakter, dan robohnya bangunan jati-dirinya.

Dalam kondisi demikan, muncullah tindakan umat Islam yang menyimpang, bahkan melakukan kejahatan dan kekerasan, karena karakter Islamya telah kabur, dan jati-diri Melayunya telah berbaur. Akhirnya, para pejabat Islamnya tergoda melakukan tindak korupsi; rakyatnya kecanduan membeli togel, meminum arak, dan mengambil sesuatu barang yang bukan miliknya. Akhirnya, satu – persatu, tanah pemukiman Islami (ada bangunan langgar atau pemakaman keluarga, pen), serta lainnya lagi sebagai peninggalan/harta warisan para leluhurnya itu mulai tergadai, dan terjual, bahkan, diatasnya didirikan pula bangunan tempat beribadahnya umat non Islam selaku kaum pemodal sekuler.

Berbeda dengan bangsa Jepang yang juga pernah melakukan kerja paksa kepada sebagian penduduk negeri Palembang, namun bangsa Jepang telah mendirikan salah satu sarana penting mendukung lajunya pembangunan negeri dengan mendirikan bangunan jembatan AMPERA, dls, tanpa bermaksud memurtadkan penduduknya.
Maka menulis riwayat hidup Tuan Syekh al-Falimbani ini ditujukan kepada kaum generasi muda Islam, khususnya para pelajar dan mahasiswa Islam agar dapat mengenang jasa almarhum Tuan Syekh al-Falimbani dan meneladani semangat juangnya membina karakter umat Islam di Nusantara dalam fase penindasan bangsa Barat.

Karena sebelumnya, ketika bangsa Belanda dan pasukan sekutunya mengadakan aksi terorismenya di Palembang, tidak sedikit jumlah ulama/pembesar Kesultanan Palembang Darussalam yang gugur selaku patriot kaumnya, diantaranya Kiyai Demang Wirosentiko. Beliau ini bukan saja selaku Menteri Sri Paduka Suhunan Mahmud Badaruddin, melainkan juga akhirnya menjadi mertua Tuan Syekh al-Falimbani.

Adapun maksud menuklis dan menerbitkan buku tentang riwayat hidup Tuan شيخ فالمبانى selaku ulama, agar dapat dikenal secara rinci oleh para pelajar dan mahasiswa Islam selaku calon muballigh, dan muballighot, ustaz dan ustazah, mu’allim dan mu’allimat, penghulu, khotib, lebai, dan lainnya, bahkan oleh para pemuka masyarakat Islam.

Dan dapat diketahui secara luas oleh umat Islam, khususnya kaum اهـل السـنة و الجمـاعة , serta dapat pula dipahami secara jelas oleh kaum generasi muda Islam etnis Melayu di bumi Nusantara mengenai keadaan kehidupan beragama Islam pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, khususnya pada fase penindasan umat Islam, sehingga diketahui bagaimana cara beliau membina karakter kaumnya itu, terutama fasal القضـاء و القـدر. Dengan demikian, usaha yang telah dirintis dan dilakukan oleh beliau secara maksimal selama lebih separuh dari usianya itu dapat dijadikan salah satu teladan kita semua dalam membina karakter umat Islam masa kini dalam rangka turut mengembangkan keperibadian bangsa yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Lain daripada itu, kiranya dapat menjadi sumbangan penulis/penerbit dalam memahami dinamika Islam di Palembang, sebagai menambah khazanah hasil-hasil penelitian oleh dosen-dosen, dan dapat pula menjadi salah satu buku bacaan mahasiswa/i dalam M.K. Sejarah Sosial Intelektual Islam; Islam dan Budaya Lokal, Filologi, dan serta MK.#

x

Jangan Lewatkan

Pemanfaatan Benda Cagar Budaya Bernilai Pertahanan  (Defense Heritage  Sebagai Media Bela Negara

Oleh: Gerald Theodorus L Toruan SH MH (Peneliti Ahli Muda , Balitbang Kemenhan RI    ** PROF  Dr. Susanto Zuhdi (Guru ...