Home / Pemerintahan / Menggagas 23 Maret , Hari Masyarakat Adat Daerah/Nasional

Menggagas 23 Maret , Hari Masyarakat Adat Daerah/Nasional

Oleh: Benni Mulyadi, Ketua Umum Pimpinan Pusat

Angkatan Muda Pembaruan Sriwijaya /PP AMPS)

 

MASYARAKAT  Adat/Masyarakat Hukum Adat adalah Masyarakat yang Hidup disuatu Wilayah berdasar Kesamaan Leluhur,diatur oleh Hukum Adat atau Lembaga Adat, dan Memiliki Hak Atas Hasil dan Pengelolaan Wilayah Mereka, (Demikian ditulis dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Dalam UUD 1945 ASLI Sebagai Penjelasan Pasal 18 Bap Penjelasan VI Buti II tertulis : Dalam teritoir Negara Indonesia terdapat Kurang lebih 250 Zelfbesturande Lanschappen dan Volksgmen Schappen, Seperti Desa di Jawa dan Bali, Nagari di Minang Kabau, Dusun dan Marga di Palembang dan Sebagainya.

Daerah-daerah itu mempunyai Susunan Asli, dan Oleh karena nya dapat dianggap sebagai Daerah yang bersifat Istimewa Negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daerah-daerah Istimewa tersebut dan segala peraturan Negara yang mengenai daerah itu akan mengingat Hak-hak Asal Usul Daerah Tersebut.

Dengan Demikian Terang benderang Bahwa Dusun dan Marga di akui oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diyakini sebagai salah satu wujud pengejawantahan Nilai Luhur Bhineka Tunggal Ika Sebagai mana Rancangan BPUPKI/ PPKI dalam Mempersiapkan Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Maka MARGA dalam Bahasa MELAYU KUNO, MELAYU, Maupun Bahasa INDONESIA Sejatinya Menurut Penulis Serapan dari Bahasa PALI dan Bahasa SANGSEKERTA yang Arti Sebenar nya adalah JALAN” CARA” SYARIAT atau Filsafat Hidup dan Bukan Akronim dari Nama Keluarga, Walaupun Ada Keluarga Yang Menyandang Nama Marga.

Membaca Kamus Bahasa PALI dan Bahasa SANGSEKERTA Maka di Dapat Kata MAGGA dan didalam Bahasa Sangsekerta ditemukan kata Marga , baik dalam Bahasa PALI Maupun Bahasa Sangsekerta pada Hakekat nya Mempunya Arti Yang Sama Yaitu: JALAN” Titian, Jalur,Cara menempuh Sesuatu/Sistem.

Marga adalah Cara Menempuh Sesuatu Seperti YOGA atau SADHANA dalam Ajaran Hindu , JALAN Ajaran Pencerahan dalam Agama BUDHA””, SYARIAT DALAM AGAMA ISLAM.

BP/IST
Prasasti Talang Tuo

Kata Marga terdapat pada Prasasti kerajaan Sriwijaya Prasasti TELAGA BATU, Prasasti ini ditemukan pada tahun 1935 di Telaga Batu Sabokingking 2 ilir Palembang masuk Kawasan PT.Pupuk Sriwijaya terdiri dari 28 Baris dihiasi Ular Bidai/Ular berkepala Tujuh kini tersimpan di Musium.Nasional Jakarta dengan Nomer D.155 Pembacaan Prasasti ini pertamakalinya diterbitkan oleh Prof.Johannes Gijabertus de Casparis tahun 1956.

Prasasti Telaga Batu tiada bertarikh Namun dari Segi Bentuk dan Gaya Penulisan dengan Menggunakan Bahasa Melayu Kuno dan Aksara Sangsekerta diyakini berasal dari tahun 600 an Masehi Prasasti ini Se Jaman dengan Prasasti Kedukan Bukit dan Prasasti Talang Tuwo .

Pada baris ke 21-23 berikut kutipan dalam Bahasa Indonesia,: Kami akan memerintahkan menghukum kamu,tetapi sebelum kamu berpulang maka haruslah kamu membayar dosamu.

Walaupun demikian, apabila mengerahkan Keluarga Marga teman atau turunanmu melawan kita tanpa sebagai raja-muda kedua atau seorang pangeran lain yang telah diangkat menjadi seorang Datu dan apabila kamu bersalah maka kamu tidak akan dibunuh dimakan sumpah yang telah kamu minim itu, tetapi akan kita perintahkan menghukum kamu: bersama sama dengan marga dan turunan, yang akan kamu ampuni.

Pengakuan Keberadaan Masyarakat Adat, tidak bermaksud melestarikan masyarakat hukum adat dalam keterbelakangan, tetapi sebaliknya mereka harus tetap memperoleh kemudahan dalam mencapai kesejahteraan, menjamin adanya kepastian hukum yang adil baik sebagai subjek maupun objek hukumnya, jika perlu memperoleh pengakuan Istimewa ( affirmative action).

Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman san peradaban ( Pasal 281 ayat 3 UUD 1945) . Tidak dapat dihindari, karena pengaruh perkembangan ilmunpengetahuan dan teknelogi , masyarakat hukum adat cepat atau lambat juga akan mengalami perubahan, bahkan lenyap sifat dan tanda tanda nya.. Perubahan tersebut dapat berdampak positf maupun negatip bagi Masyarakat yang bersangkutan. Untuk mencegah terjadinya dampak negativ UUD 1945 Memerintahkan keberadaan dan perlindungan kesatuan masyarakat hukum adat supaya diatur dalam Undang – Ubdang agar dengan demikian menjamin adanya kepastian hukum yang berkeadilan.

Dari Fakta yang Ada Sumatera Selatan Sungguh Istimewa selain yang telah disebutkan di atas bahwa Sumatera Selatan memiliki 2 ( dua ) Macam Masyarakat Adat

Masyarakat Adat Solidaritas Organis dan Masyarakat Adat Solidaritas Mekanis.

 

1. Masyarakat Adat solidaritas Organis adalah 178 Marga dan 2129 Dusun Asli pada keadaan Tahun 1983 Sebelum di keluarkan nya SK GUB KDH TK I Sumatera Selatan Kep 142/ KPTS/ III / 1983 Tentang Pembubaran System Pemerintahan Marga dan Perangkatnya dan berlakunya Sistem Desa tertanggal 24 Maret 1983, dimana Masyarakat Dusun dan Marga telah mengenal berbagai pembagian kerja, kedudukan individu lebih menonjol, hukum lebih berkembang karena bersifat rational yang sengaja di buat untuk tujuan yang jelas.

2. Masyarakat Adat KUBU”/ Suku Anak Dalam yang menyebar di perbatasan Sumatera Selatan dan Jambi yang merupakan masyarakat solidaritas mekanis, hampir tidak mengenal pembagian kerja, mementingkan kebersamaan, individu tidak boleh menonjol,pada umumnya tidak mengenal baca tulis, mencukupi kebutuhan sendiri secara mandiri ( autachtan ), serta pengambilan keputusan -keputusan penting diserahkan kepada tetua masyarakat ( primus interpares ).

Mengingat Kepulian kepada Bangsa Negara dan Daerah Serta Masyarakat Adat Dusun dan Marga Itu Sendiri penulis Menggagas Kepada Bapak Gubernur Sumatera Selatan, Ketua DPRD Provinsi Sumatera Selatan Serta kepada Segenab para Pihak yang Peduli Kiranya Dapat diusulkan dan ditetapkan 23 Maret Sebagai HARI MASYARAKAT ADAT SUMATERA SELATAN ataupun Hari Masyarakat Adat Indonesia dengan Pertimbangan Sebagai Berikut :

1.Bahwa berdasarkan Fakta Sejarah Prasasti Kerajaan Sriwijaya yang ditemukan di sekitar Palembang di kenal dengan Prasasti Talang Tuwo bertarik 684 M dan tertanggal 23 Maret di mana Prasasti itu Mengisahkan Pembangunan Taman Sri Ksetra dan Prasati tersebut merinci tentang Hubungan Manusia dan Lingkungan Hidup, Jauh Sebelum ditetapkan nya Hari Internasional Masyarakat Adat Dunia Tahun 2007 M.

2.Bahwa tanggal 23 Maret 1983 Hari terahir berlakunya Sistem Pemerintahan Marga dan Perangkatnya di Sumatera Selatan sebelum.pada tanggal 24 Maret di terbitkan nya SK GUB KDH TK I SUMATERA SELATAN Tentang Pembubaran System Pemerintahan Marga dan Perangkatnya.

Bila tanggal 23 Maret ditetapkan oleh Pemerintah sebagai Hari Masyarakat Adat Sumatera Selatan/ Indonesia penulis berharap menjadi Pemicu dan Kesejahteraan,keadilan dan Kemajuan.Masyarakat Bangsa dan Negara Sebagai slah satu Wujud Pengamalan Empat Pilar Kebangsaan + Semangat Merah Putih
Terutama bagi Masyarakat Sumatera Selatan sebagaimana Motto Pembina Adat Sumatera Selatan “” BATANGHARI SEMBILAN BHUMI BETUAH ” dapat terealisasi karena Motto itu juga penulis Usulkan.pada saat berlangsungnya Musyawarah Daerah Pembinan Adat Sumatera Selatan tanggal 27 Desember 2019 bertempat di Hotel Swarna Dwipa Palembang yang Alhamdulillah penulis dipercaya Sebagai Ketua Bidang Keorganisasian Pembina Adat Sumatera Selatan masa bhakti 2019-2024.#

x

Jangan Lewatkan

Anggota DPRD Sumsel Dapil Sumsel II  Palembang Sampaikan Sejumlah Hal Yang Harus Ditingkatkan  Pemkot 

Palembang, BP Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan Daerah Pemilihan (Dapil) Sumsel II Kota Palembang, pimpinan H Budiarto Marsul  menggelar reses ...