Home / Headline / Kisah Leluhur SMB IV Yang Sempat “Terusir” Dari Palembang

Kisah Leluhur SMB IV Yang Sempat “Terusir” Dari Palembang

BP/DUDY OSKANDAR
Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo RM Fauwaz Diraja SH Mkn

Palembang, BP

Pulang ke Palembang setelah sebelumnya dibuang pemerintah kolonial Belanda ke Ternate, tidak seperti yang dibayangkan orang mudah dan tanpa halangan, tapi tidak bagi leluhur dari Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo RM Fauwaz Diraja SH Mkn, mereka harus mengalami masa-masa sulit dimana dan terpaksa “terusir” dari Palembang.

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jayo Wikramo RM Fauwaz Diraja SH Mkn masih mengingat dengan jelas kisah-kisah yang di ceritakan leluhurnya dan membaca dari catatan-catatan leluhurnya bagaimana leluhurnya harus “terusir” dari Palembang ketika kembali dari pengasingan di Ternate.

Menurut pria yang berprofesi sebagai notaris ini menceritakan bagaimana leluhurnya setelah wafatnya Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II di negeri ternate (tempat pengasingannya Sultan Palembang).

Para Leluhurnya yang ingin kembali tidak bisa masuk ke Palembang dan terpaksa bermukim di Singapura.
Menurut SMB IV, Pada Tahun 1852 Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II wafat di Ternate sebagian besar ada masih tetap tinggal disana dan ada yang disuruh kembali ke Palembang, para keturunan dari SMB II ini.

“Diantaranya leluhur saya, buyut saya, Pangeran Prabu Diraja, rombongan yang dipimpin oleh Pangeran Prabu Diraja bertujuan untuk pulang Palembang Darussalam beberapa istri SMB II banyak balik ke Palembang juga,” katanya kepada sejumlah wartawan di Istana Adat Kesultanan Palembang Darussalam , Jumat (13/3).

Dituturkan kembali bahwa rombongan Pangeran Prabu Diradja kembali ke Palembang sekitar tahun 1860an atau sekitar 8 tahun setelah SMB II wafat.

Namun di Palembang menurutnya terjadi konflik kedua dimana mulai ada keributan kembali antara darah putih yang merupakan orang pro Belanda yang tidak mau keturunan SMB II maupun keturunan Suhunan Husin Dhiaudin kembali ke Palembang.

“Salah satu titik kulminasinya ketika Pangeran Prabu Diraja wafat ternyata tidak boleh dimakamkan di kawah Tengkurep, yang merupakan pemakaman buyut beliau sehingga di makamkan di Talang Kerangga atau di tempat mertuanya di Ungkonan (Pemakaman) Kironggo Wiro Sentiko,” katanya.

Akibatnya keluarga Pangeran Prabu Diraja, dan keluarga lainnya merasa tidak aman berada di Palembang lalu melakukan pengungsian kedua ke beberapa tempat hingga ke negeri tetangga di Singapura.

“Jadi buyut saya, kakek saya lahir di Singapura, akibat terusir, jadi Pangeran Prabu Diraja, Abdul Hamid dan Abdul Syarif serta keluarganya hidup di pengungsian di Singapura,” katanya.

Kenapa harus ke Singapura menurutnya karena Singapura wilayah jajahan Inggris dimana Belanda tidak bisa berbuat apa-apa dengan Singapura.
“ Kalau di Singapura kita tinggal di Istana Kuning bergabung dengan Kesultanan Singapura dulu keluarga kami diterima dengan baik di sana, makanya Abdul Habib yang lahir di Ternate, dia seorang penulis yang banyak tulisan-tulisan dijadikan rujukan oleh kita saat ini, termasuk tulisan biografi SMB II saat diusulkan menjadi pahlawan nasional dan beberapa penelitian lainnya yang sedang kita teliti. Ada catatan silsilah dan sejarah Palembang, ada salinan syair perang menteng, ada juga sulalatis salatis yang dia tulis ulang,” katanya.

Sedangkan ayah SMB IV , RM Syafei Prabu Diraja lahir di Palembang.

“Karena kita sudah merdeka tahun 1950, kalau saya lihat kemungkinan tapi saya belum selesai baca buku Abdul Habib, kalau menurut penelitian saya sekitar 1820an kita masuk ke Palembang karena sudah ada politik etis Belanda dan cengkraman Belanda mulai berkurang,” katanya.

SMB IV mengakui banyak memegang peninggalan seperti buku-buku, manuskrip kuno termasuk cap SMB II juga ada.#osk

x

Jangan Lewatkan

Debat Publik Kedua Bupati Muratara , Kandidat Tawarkan  Kesejahteraan Rakyat

Palembang, BP Debat publik kedua pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Musi Rawas Utara (Muratara) digelar Senin (23/11). Pemilihan kepala daerah ...