Ultimate magazine theme for WordPress.

Pemerintah Daerah dan Kepolisian Harus Bersama Memberantas Tradisi Tujah Di Masyarakat

BP/DUDY OSKANDAR
Sejarawan Sumsel Kemas Ari Panji saat menyampaikan materinya dalam Focus Group Discussion ( FGD) bertempat di Ballroom Aston Grand Palembang, Kamis (6/2).

Palembang, BP

Polda Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar Focus Group Discussion ( FGD) bertempat di Ballroom Aston Grand Palembang, Kamis (6/2).

Diadakannya Focus Group Discussion yang merupakan gagasan dari Kapolda Sumsel Irjen Pol Drs. Priyo Widyanto S.H.M.H. dengan tema” Tujah Apakah Budaya”.

Yang dihadiri Gubernur Provinsi Sumatera Selatan H. Herman Deru, Walikota Palembang Harno Joyo, Forkopinda Propinsi Sumatera Selatan, Para Pejabat Utama Polda Sumsel, Para Kasatwil jajaran Polda Sumsel, Para Bupati wilayah Sumatera Selatan, Tokoh agama, Tokoh Masyarakat, utusan Mahasiswa.

Sejarawan Sumsel Kemas Ari Panji melihat dikalangan masyarakat Palembang ada pisau yg sangat legendaris yang suka dibawa kemana-mana, baik ketika masih di Sumatera Selatan maupun saat merantau ke luar pulau, yakni

“Lading Cap Garpu”. Banyak orang yang menduga bahwa pisau garpu itu adalah senjata orang kampung yg miskin yakni terbuat dari garpu yang dipipihkan dan dibuat tajam.

Selain tajam pisau ini terkenal kuat tidak mudah gompel atau patah, Untuk menguji kekuatan dan keasliannya cukup letakan sepotong paku dibawahnya lalu pukul pisau dengan palu sehingga paku putus dua, jika gompel pisau tersebut dijamin palsu. yang asli tidak akan pernah gompel.
Lading Cap Garpu sangat dikenal di Sumatera Selatan, terutama di Palembang.

“Pisau ini mudah dijumpai dipasar bebas dan dijual dimana mana. Fungsinya umumnya pisau, yakni dipakai untuk bekerja didapur. Bentuknya sangat sederhana dan simple, finishing nya kasar dan apa adanya,” katanya.

Namun, selain dipakai untuk didapur, dalam satu abad ini dia kemudian berkembang fungsinya menjadi alat lain yakni untuk berkelahi dijalanan. Tindak kriminal akibat pisau Cap Garpu sangat banyak.

Sedemikian banyaknya, sampai ini membuat pusing polisi diwilayah setempat. Bisa dibilang, separuh isi penjara diwilayah tersebut dipenuhi kasus kriminal yg melibatkan Lading Cap Garpu. Korbannya berakhir di Rumah Sakit, cacat atau mati akibat tusukan benda ini.

Baca Juga:  Polisi Gadungan Kuras Harta Teman Kencannya Ditembak

“Dengan selesainya kegiatan FGD ini diharapakan Pihak Polda Sumsel dan jajaran harus lebih gencar lagi, untuk merangkul semua lapisan masyarakat, tidak boleh berhenti hanya sebatas FGD ini saja, Terus lakukan kegiatan sosialisasi tentang Bahaya dan Fungsi Sajam. Lakukan kerjasama dengan semua pihak serta pemanfaatan Medsos dan sarana lainnya, sebagai alat sosialisasi : #Cap Garpu bukan untuk ”Nujah”, #Lading bukan untuk Nujah, tapi untuk di dapur. #Nujah bukan budaya kita. dan tema-tema lainnya,” katanya.
Sosiolog, Saudi Berlian mengatakan, tujah, bukanlah merupakan budaya di Sumsel. Tujah justeru menjadi bagian dari penyakit dalam tradisi dan masyarakat.

“Restorasi Sistem Kemit sebagai penjagaan keamanan bersama sampai tingkat pedesaan (kerjasama kepolisian dengan pihak pemerintahan desa/kelurahan). Mengembalikan ruang komunikasi personal melalui ruang publik seperti pondokan, pance, atau nama lainnya,” katanya.

Lalu menerapkan aturan tentang Sajam dan menanggulangi tindak kekerasan, khususnya Tujah, disertai literasi melalui simpul-simpul masyarakat maupun aneka ragam media dengan cara sesuai tradisi sosial yang pernah ada.

Sedangkan Sekretaris Umum MUI Sumsel KH Ayik Farid Alaydrus melihat kearifan Lokal (Budaya Lokal) perlu di arahkan pada prilaku positif menilai pencegahan terhadap budaya tujah perlu kerja sama semua pihak (lurah/RT dan Dinas Instansi terkait serta pihak kepolisian setempat.

“Pembinaan dan penyadaran para remaja (ABG) yang terjebak tindak Kriminal penganiayaan berat dan Narkoba bekerja sama Dinas/Instansi terkait dengan ormas kepemudaan. Pemahaman Agama secara utuh merupakan faktor dominan untuk mencegah prilaku kriminal,” katanya.

Sedangkan Sayang Ajeng Mardhiyah, S.Psi., M.Si. Prodi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya menyarankan pendekatan yang terbaik untuk menghilangkan tradisi tujah dengan pendekatan komunitas.

Baca Juga:  Kendalikan Bisnis Narkoba dari Balik Lapas, Polda Sumsel Sita Aset Senilai Rp8,4 Miliar

“Tujah itu coba kita menjadi bahasa wong kito galo, yang penting ada kebersamaan, rasa kekeluargaan dan disini penguatan yang dilakukan adalah komunitas dan mulai dari pendidikan anak dulu dan masyarakatnya,” katanya sembari meminta pemerintah turun langsung untuk ikut dalam kegiatan masyarakat.
Sedangkan kriminolog Sumsel Sri Sulastri menilai pemerintah daerah harus berangkulan dengan kepolisian dalam memberantas pengguna pisau.
“ Tujah menujah ini gawe dari masyarakat, maka harusnya masyarakat itu kita bawa dan harus saling kerjasama semua pihak secara komperhensif untuk menanggulangi tujah ini,” katanya.

Wakapolda Sumsel Brigjen Pol Rudi Setiawan S.I.K, S.H.,M.H mengatakan, dengan diadakan kegiatan ini tekad niatan yang baik untuk merubah tampilan wajah Sumatera Selatan ini menjadi lebih baik lebih humanis lagi terutama terkait dengan kegiatan senjata tajam.

“Sebenarnya dengan ide kegiatan ini kapolda sangat ingin sekali peristiwa ini soal tujah menujah dapat ditekan tidak hanya oleh kepolisian semata tetapi oleh seluruh masyarakat seluruh komponen masyarakat di Sumatera Selatan tentunya Kita percaya sekali bahwa situasi yang kondusif ini akan menjadi prasyarat untuk Sumatera Selatan ini lebih baik lagi ke depan dan ini menjadi tanggung jawab kita semua. Selanjutnya dikatakan kita harus merubah apakah tujah ini menjadi suatu budaya,” katanya.

Menurutnya semoga FGD ini dapat menemukan akar permasalahan “Kita mencari solusi kemudian ada rekomendasinya buat kita semua kita bergerak bersama-sama menekan semuanya melindungi seluruh masyarakat Sumatera Selatan,” katanya.

Kabid Humas Polda Sumsel , Kombes Pol Supriyadi menuturkan, bahwa tingkat kejahatan dengan menggunakan senjata tajam cukup tinggi, sehingga Polda Sumsel berniat menekannya dengan cara membedah bersama-sama.
Ditambahkannya, membawa senjata tajam tersebut bukanlah budaya, tapi suatu kebiasaan orang-orang tertentu untuk membawa Sajam.
“Mungkin awalnya daerah tersebut adalah hutan, dan peruntukan sajam bukan untuk membunuh orang tapi untuk menjaga diri. Kita berharap seluruh komponen berperan aktif dalam menekan kasus sajam, dan menekan supaya tidak membawa Sajam,” katanya.

Baca Juga:  KPU Sumsel Bahas Peran Perempuan dan Partisipasi Politik

Gubernur Sumsel Herman Deru, menilai citra ‘tujah menujah’ atau aksi tindak kejahatan kriminal dengan senjata tajam jenis pisau, telah berkurang.

Hal itu dibuktikan dari nilai pertumbuhan ekonomi Sumsel yang mencapai 5,71 persen. Menurutnya, dalam menekan citra tujah menujah tersebut, semua aparat kepolisian, TNI dan para masyarakat juga telah ikut bekerja secara baik.
Mantan Bupati OKU Timur tersebut mengungkapkan, persepsi tujah menujah atau pagas yang sering dibincangian oleh sebagain orang tersebut bukanlah budaya.

“Kita rumuskan tentang tujah dan pagas ini budaya apa bukan di Sumsel, saya bisa simpulkan ini bukan budaya, tapi masalah manajemen tempramen atau emosi pribadi setiap individu,” katanya.

Dirinya mengimbau, agar masyarakat Sumsel berhenti membawa senjata tajam, dan harus percaya diri serta selalu berbuat baik kepada sesama. “Berhentilah uy bawak-bawak pisau itu, kito ni jadi wong yang percaya diri be, dan yakinlah kalau kita baik, wong akan baik jugo dengan kito,” imbaunya.
Wakapolda Sumsel diwakili Kabid Humas, Kombes Pol Supriyadi menuturkan, bahwa tingkat kejahatan dengan menggunakan senjata tajam cukup tinggi, sehingga Polda Sumsel berniat menekannya dengan cara membedah bersama-sama.

Ditambahkannya, membawa senjata tajam tersebut bukanlah budaya, tapi suatu kebiasaan orang-orang tertentu untuk membawa Sajam.

“Mungkin awalnya daerah tersebut adalah hutan, dan peruntukan sajam bukan untuk membunuh orang tapi untuk menjaga diri. Kita berharap seluruh komponen berperan aktif dalam menekan kasus sajam, dan menekan supaya tidak membawa Sajam,” katanya.#osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...