Suara Indonesia Di Dunia Internasional Tidak Terlalu Besar

14

BP/DUDY OSKANDAR
seminar nasional dengan tema “Ukhuwah Islamiyah dan Pembentukan Sistem Republik Islam Iran yang diselenggarakan Program Studi Politik Islam (Prodi Polis) – Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Raden Fatah (FAHUM UIN Rafah) Palembang, kerjasama dengan Konsuler Kebudayaan Iran di Jakarta ,di Aula Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah, Palembang, lantai III, Selasa (4/2).

Palembang, BP
Pengamat geo politik Timur Tengah dari Univesitas Pajajaran (Unpad) Dr. Dina Yoelianti melihat posisi real Indonesia dipergaulan internasional, dimana Indonesia bukan negara pusat dan bukan negara menegah, jadi dalam tatanan dunia Indonesia masih dalam tarap negara pinggir.

“ Kalaupun Indonesia berbicara itu efeknya tidak terlalu besar, untuk perubahan tatanan dunia tapi penting untuk bicara sebenarnya. Cuma seringkali ketika Indonesia mau bicara atau tidak bicara itu banyak pertimbangan politiknya, seperti kemarin penembakan Kasim Sulaimani dari Iran, Indonesia menahan diri untuk memprotes, Malaysia berani memprotes karena itu pelanggaran HAM luar biasa, bagaimana pejabat negara di bunuh begitu saja oleh Amerika,” katanya usai seminar nasional dengan tema “Ukhuwah Islamiyah dan Pembentukan Sistem Republik Islam Iran yang diselenggarakan Program Studi Politik Islam (Prodi Polis) – Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Raden Fatah (FAHUM UIN Rafah) Palembang, kerjasama dengan Konsuler Kebudayaan Iran di Jakarta ,di Aula Fakultas Adab dan Humaniora UIN Raden Fatah, Palembang, lantai III, Selasa (4/2).

Baca:  Gelar Festival English Show, Mahasiswa Fahum UIN RF Hadirkan Kuliner Tradisional Palembang

Untuk berbicara di PBB Indonesia masih melihat, apa kepentingannya, apa untung ruginya.
Mengenai Indonesia banyak membuka peluang bagi negara Cina , hal ini menurutnya membuat Amerika melakukan tekanan Indonesia , karena Amerika adalah negara ingin nominasi utuh dalam sebuah negara.

“ Bagaimanapun hubungan Indonesia dengan Cina bukan hanya soal idiologi lagi tapi ekonomi, mana negara yang melakukan investasi tanpa terlalu banyak syarat, kalau barat melakukan investasi syaratnya banyak, sementara ekonomi Amerika dan Eropa jauh melemah,” katanya.

Apalagi Amerika dan sekutunya selama ini telah lama melakukan eksplorasi minyak , gas dan berbagai mineral di Indonesia.

Baca:  PT Indosat Jalin Kerja Sama Dengan FISIP UIN

“Itu sejak zaman orde baru dulu ketika konfrensi Jenewa dengan membagi-bagi jatah,” katanya.

Dr. Dina juga dalam kesempatan itu juga memaparkan bahwa sejak abad 19 ada upaya untuk membuat timur tengah tidak kompak.

Selanjutnya menurut Dina, Tahun 1947 resolusi PBB Membagi 2 wilayah Palestina, dan Israel sendiri berdiri menjadi sebagai sebuah negara baru diatas tanah palestina pada tahun 1948-hingga saat ini.

Keinginan AS untuk mendirikan Israel sebagai kepanjangan tangan mereka di timur tengah telah membuat rakyat Palestina semakin dipojokkan oleh negara negara adidaya AS dan sekutu. Iran yang fokus terhadap pembelaan mustadh’afin seperti yg tercantum dalam konstitusinya, turut hadir untuk membela Palestina.

“Karena menurut Iran, Palestina merupakan bagian dari kekuatan Islam yang harus mendapatkan simpatik dan pembelaan dari negara negara islam,” kata Dina Yoelianti.

Baca:  Siaga Cegah Corona, 20.000 Mahasiswa UIN Dirumahkan

Sedangkan narasumber lainnya yaitu Endang rochmiatun memaparkan mengenai Human Development Indeks (HDI) yang terjadi di Iran.

Menurutnya setelah revolusi islam peran perempuan Iran semakin tinggi dan ini bisa dilihat dari perkembangan HDI-nya.

Hadir dalam seminar tersebut, Dr. Endang Rochmiatun, M.Hum selaku Wakil Dekan I, Dolla Sobari, M.Ag. selaku Wakil Dekan III, Otoman, M.Hum dan Niko Oktario Adityas, MA. selaku ketua dan Sekretaris Prodi Politik Islam UIN Raden Fatah Palembang. di Aula Fakultas Adab dan Humaniora lantai III, Selasa (4/2).

Kaprodi Polis, Otoman, M.Hum. dan dibuka oleh Wakil Dekan III, Dola Sobari, M.Ag. kemudian dilanjutkan dengan acara seminar Nasional yang dikuti 200 orang peserta dari mahasiswa serta tamu dan undangan.#osk