Rekonstruksi Pembunuhan Sopir Taksol Ricuh

20

BP/IST
Rekontruksi pembunuhan Ruslan Sani (43) warga RSS-C Griya Harapan, Blok 3 E, Kecamatan Sako Palembang yang berprofesi sebagai sopir taksi online (taksol) pada 28 Desember 2019 lalu digelar oleh pihak Polrestabes Palembang, Selasa (4/2). Rekonstruksi sempat ricuh.

Palembang, BP

Rekontruksi pembunuhan Ruslan Sani (43) warga RSS-C Griya Harapan, Blok 3 E, Kecamatan Sako Palembang yang berprofesi sebagai sopir taksi online (taksol) pada 28 Desember 2019 lalu digelar oleh pihak Polrestabes Palembang, Selasa (4/2). Rekonstruksi sempat ricuh.
Sejumlah keluarga korban secara tiba-tiba menyerang kedua pelaku, Abib Samudra alias Abi alias Iwan (40) dan Sulaiman (36), ketika berjalan di lobi hendak menuju halaman depan Polrestabes Palembang.
Beruntung anggota yang mengawal sigap dan mengamankan kedua pelaku serta pihak keluarga korban. Kemudian rekontruksi 33 adegan segera digelar, sedangkan puluhan keluarga korban menyaksikan dari kejauhan dengan pengamanan aparat kepolisian.
Usai rekontruksi, keluarga korban langsung mendekati Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Sumsel, Ursula Dewi. Adik bungsu korban, Teta (39), warga Talang Bali, Sungai Rebo, meminta kedua pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai dengan perbuatannya.
“Kami minta mereka dihukum seberat-beratnya, bila perlu kami minta dihukum mati. Karena perbuatan mereka sangat keji, kalau mau ambil mobil, ambil saja mobilnya, jangan kakak kami dibunuh seperti itu,” ujarnya didampingi puluhan kerabat dan kekurga lainnya sambil menangis.
Menurut dia, korban merupakan tulang punggung dan sosok yang baik serta tidak banyak ulah, sayang dan perhatian dengan keluarga.
“Perbuatan mereka sudah sangat kejam, makanya kami memohon sama ibu jaksa supaya mereka dihukum yang seberat-beratnya,” katanya.
“Iya bu, biarkan hukum yang menentukannya. Kami akan bekerja sesuai dengan hukum yang berlaku,” jawab Ursula Dewi.

Baca:  Demo Penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja di DPRD Sumsel Berakhir Ricuh

Dalam rekonstruksi terlihat korban sempat memberikan perlawanan terhadap pelaku dan meminta pertolongan warga sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP) di dekat Perumahan Griya Asri, Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus, sebelum menghembuskan nafasnya dalam perjalanan ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Palembang.
Hal ini terlihat dalam adegan 10 hingga adegan ke 21 yang langsung diperankan kedua tersangka Abib Samudra alias Iwan (36) warga Jalan KH Azhari, Lorong Amal RT 11, Kelurahan 11 Ulu Palembang dan Sulaiman (37) warga Jalan Untung Suropati RT 47, Jelutung Kota Jambi.
Dalam adegan yang dipergakan, korban memberontak menahan jeratan tali pelaku Iwan yang duduk di belakang korban dengan menggunakan kedua tangan, kemudian korban mengambil senjata tajam (Sajam) jenis pisau dalam tas selendang milik korban dan mengarahkannya ke pelaku Iwan tapi pelaku berhasil menghindar.
Kemudian, korban mengarahkan sajamnya ke arah pelaku Sulaiman yang kemudian berhasil direbut pelaku Sulaiman dan langsung menusuk perut korban, sedangkan pelaku Iwan masih menjerat korban.
Tidak hanya menusuk pada adegan 14 dan 15, pelaku Sulaiman mengeluarkan senjata api jenis Softgun dan memukulnya berulang kali ke wajah korban, lagi-lagi korban memberikan perlawanan dengan mengambil pisau yang terjatuh di bagian dasbor mobil.
Lantas, pisau tersebut diarahkan kembali ke pelaku Iwan, namun pelaku Iwan memutar genggaman tangan korban dan mendorongnya ke arah dada korban. Ketika korban hendak dipindahkan ke bagian tengah, korban kembali memberontak dan berhasil membuka pintu mobil milik korban yakni Toyota Avanza BG 1442 RP.
Namun, korban berhasil ditarik ke dalam mobil oleh pelaku Sulaiman, tapi korban kembali membuka pintu dan berhasil keluar dengan meminta tolong warga di sekitar TKP. Melihat warga yang datang kedua pelaku berusaha kabur dengan mobil korban.
Tapi malah masuk ke dalam parit, kemudian pelaku Iwan berhasil lolos dengan membawa softgun, sementara pelaku Sulaiman berhasil diamankan warga, kemudian pelaku Iwan berhasil diamankan di dalam rawa-rawa yang tidak jauh dari TKP.
Kasat Reskrim Polrestabes Palembang, AKBP Nuryono, melalui Kanit Pidum Iptu Ginting mengatakan, rekonstruksi yang digelar dengan menghadirkan langsung pelaku ini digelar di halaman Mapolrestabes Palembang dengan 33 adegan.
“Rekonstruksi dilakukan guna melengkapi berkas penyidikan dari CPU ke JPU. Alhamdulillah dalam rekonstruksi maupun penyidikan pelaku sangat kooperatif, walaupun sempat terjadi kericuhan dari pihak korban tapi rekonstruksi berjalan lancar,” katanya.
Menurut Ginting, Aksi keji hingga membuat korban tewas itu, Menurut pengakuan pelaku, mereka menyimpan dendam dengan pemilik mobil Toyota Avanza BG 1442 RP, yang diduga pernah menabrak keponakan pelaku saat berjalan kaki di dekat flyover simpang Jakabaring.
Kemudian, setelah mengenal dan bercerita dengan pelaku Sulaiman setuju untuk membantu Abib mencari sopir taksi online dengan melakukan pesanan menggunakan ponselnya. Bahkan selama empat jam sejak pukul 16.00 WIB hingga 20.00 sempat 20 kali membatalkan pesanan sampai orderan tersebut masuk ke ponsel korban.
Dirinya menuturkan, karena banyak membatalkan pesanan, aplikasi milik Sulaiman sempat dua kali di blok oleh aplikator dan harus menunggu sekitar 10 menit sampai kembali bisa dipakai lagi untuk melakukan pesanan dan beberapa kali pindah tempat.
Akhirnya pesanan dengan titik penjemputan di Jalan Kolonel Atmo tersebut masuk ke aplikasi korban, setelah naik dan mobil sampai ke dekat Perumahan Griya Asri, Kelurahan Pulokerto, Kecamatan Gandus yang menjadi lokasi tujuan, Iwan yang duduk di kursi belakang menanyakan perihal kejadian yang pernah dialami keponakannya kepada korban.
Saat pelaku bertanya, korban malah marah dan lehernya langsung di jerat pakai tali, tapi korban melawan sampai terlepas. Lalu korban mengambil pisau dari tas dan mencoba menusuk Sulaiman, tapi bisa ditangkap dan di tusukkan ke korban
“Tapi informasi yang kita dapatkan korban tetap melawan sampai beberapa kali ditusuk dan setelah itu korban keluar dari mobil sehingga ada warga yang melihat dan membuat kedua pelaku panik lalu berusaha kabur,” katanya.
Sementara, Adik bungsu korban, Teta (39), warga Talang Bali, Sungai Rebo, meminta kedua pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai dengan perbuatannya.
“Kami minta mereka dihukum seberat-beratnya, bila perlu kami minta dihukum mati. Karena perbuatan mereka sangat keji, kalau mau ambil mobil, ambil saja mobilnya, jangan kakak kami dibunuh seperti itu,” jelas dia didampingi puluhan kerabat dan keluarga lainnya sambil menangis,” katanya.#osk