Ultimate magazine theme for WordPress.

SMB IV Djayo Wikramo, RM Fauwaz Diraja Gelar Zikir Ratib Samman

BP/DUDY OSKANDAR
Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV , Djayo Wikramo, RM Fauwaz Diraja SH Mkn menggelar acara zikir ratib Samman bersama Majelis Dzikir Ratib Samman jamaah Masjid Sultan Agung, 1 Ilir, Palembang, Selasa (29/1) pimpinan Ustad Ahmad Fauzi Bin KH Abdullah Zawawi Idzom.

Palembang, BP

Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV , Djayo Wikramo, RM Fauwaz Diraja SH Mkn menggelar acara zikir ratib Samman bersama Majelis Dzikir Ratib Samman jamaah Masjid Sultan Agung, 1 Ilir, Palembang, Selasa (29/1) pimpinan Ustad Ahmad Fauzi Bin KH Abdullah Zawawi Idzom.
Kegiatan ramai diikuti terutama jemaah masjid Sultan Agung 1 Ilir Palembang dan masyarakat umum.
Dalam catatan sejarah , kemunculan Tarekat Sammaniyah bermula dari kegiatan pendirinya, yaitu Syekh Muhammad bin Abdul Kan’m as-Sammani al-Hasani ai-Madani Al -Qadiri aI-Quraisyi. la adalah seorang fakih, ahli hadits & sejarawan pada masanya. Dilahirkan di Kota Madinah tahun 1132 H / 1718 M. Keluarganya berasal dari suku Quraisy.
Pada masa kesultanan Palembang Darussalam segala urusan pemerintahan kesultanan tentunya diatur menurut ketentuan syari’at Islam Salah satu Tarekat di Palembang adalah Tarekat Sammaniyah. Tarekat Sammaniyah dinisbahkan kepada penggagasnya Syekh Muhammad Samman bin Abdul Karim al-Madani (1718-1776) seorang ulama sufi, waliyullah di Madinah.
Salah satu zikir terpenting dalam Tarekat Sammaniyah adalah Ratib Samman. Banyak ulama Palembang yg berguru langsung dan mendapat ijazah Ratib Samman dari Syekh Muhammad Samman, di antaranya: Syekh Abdus Somad al-Palembani (1737
1832), Syekh Kemas Ahmad bin Abdullah (1735-1800) dan lainnya.
Para ulama Palembang ini berdakwah menyiarkan Ratib Samman pd masyarakat dan di kalangan istana, sehingga Sultan Palembang pun mendapat ijazah mengamalkan Ratib Samman tersebut.
Pada pemerintahan Sultan Muhammad Bahauddin tahun 1776-1803 M, Sultan turut andil memberikan wakaf bantuan mendirikan zawiyah (pondok) Sammaniyah di Jeddah tahun 1777 dengan biaya sebesar 500 Riyal yan g beliau transfer melalui Syech Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin 2 tahun setelah Syech Muhammad Samman wafat.
Zaman Sultan Mahmud Badaruddin ll tahun 1803-1821 M terjadi peristiwa perang Palembang melawan Belanda tahun 1819 dikenal perang Menteng yang dimenangkan oleh Kesultanan Palembang.
Atas kemenangan perang menteng tersebut Sultan Mahmud Badaruddin ll menitahkan kepada seluruh rakyatnya untuk zikir Ratib Samman menjadi amalan resmi di Kesultanan Palembang Darussalam.
Selain sebagai ibadat, Ratib Samman juga menjadi adat dan tradisi di Palembang hingga banyak jamaah serta pengikut yang menerapkan tradisi ini di Palembang hingga sekarang.
“ Hari ini, kegiatan zikir Ratib Samman yang memang punyo wong Plembang nian yang diajarkan Syech Abdul Somad Al Palembani, “ kata sejarawan Sumsel Kemas Ari Panji di sela-sela acara.
Kegiatan ini menurutnya adalah agenda Kesultanan Palembang Darussalam dalam setahun minimal satu kali di gelar .
“ Tadinya tiap bulan tapi banyaknya yang minta dari anggota majelis ini , dia keliling kerumah Sultan , ke rumah kiyai ini, tergantung permintaan, tapi majelis zikir Ratib Samman Masjid Sultan Agung ini setiap minggu, selasa malam rabu tetapi karena anggotanya memang banyak dia keliling, kebetulan Kesultanan Palembang Darussalam ini satu atau dua kali dalam setahun, “ katanya.#osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...