Home / Headline / Ini Alasannya Kenapa Hari Jadi Kota Palembang Bukan Tanggal 16 Juni

Ini Alasannya Kenapa Hari Jadi Kota Palembang Bukan Tanggal 16 Juni

BP/DUDY OSKANDAR
Sejarawan Sumsel yang juga dosen Sejarah Universitas Sriwijaya (Unsri) Drs Syafruddin Yusuf M.Pd, Ph.D

# Masih Dimungkinkan Dikembalikan Ke Tanggal 16 Juni

 

Palembang, BP
Kota Palembang adalah ibu kota provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) . Palembang adalah kota terbesar kedua di Sumatra setelah Medan.
Kota dengan luas wilayah 400,61 km ini dihuni oleh lebih dari 1,6 juta penduduk pada 2018.

Diprediksikan pada tahun 2030 mendatang kota ini akan dihuni 2,5 Juta orang. Banyak kemajuan dan fasilitas yang dimiliki Palembang, namun banyak orang tidak tahu kalau berdasarkan prasasti kedukan bukit hari jadi kota Palembang harusnya 16 Juni namun berubah menjadi 17 Juni.

Sejarawan Sumsel yang juga dosen Sejarah Universitas Sriwijaya (Unsri) Drs Syafruddin Yusuf M.Pd, Ph.D menegaskan kalau kenapa hari jadi kota Palembang yang harusnya 16 Juni berdasarkan penanggalan prasasti Kedukan Bukit tapi berubah menjadi 17 Juni.

Menurut Syafruddin, dalam Prasasti Kedukan Bukit tertanggal 16 Juni 682 M, atas prasasti kedukan bukit itulah harusnya ditentukan hari jadi kota Palembang.
“ Tapi hari jadi kota Palembang berubah dikit dari 16 Juni menjadi 17 Juni, nah ini banyak tidak tahu kenapa hari jadi kota Palembang berubah jadi 17 Juni,” katanya, Senin (27/1).

Syafruddin mengaku dirinya masih memegang risalah rapat penentuan hari jadi kota Palembang.
” Waktu diskusi tentang hari jadi kota Palembang itu tim perumus hari jadi kota Palembang menyebutkan tanggal 16 Juni itu berdasarkan prasasti kedukan bukit, tapi untuk menentukan hari jadi kota Palembang dipersilahkan Walikota Palembang menentukan tanggalnya, walikota waktu itu Tjek Yan, jadi atas keputusan Walikota Tjek Yan ditetapkan 17 Juni sebagai hari jadi kota Palembang,” katanya.

Menurut Syafruddin, alasan Walikota Palembang Tjek Yan waktu itu menentukan hari jadi kota Palembang 17 Juni untuk mudah mengingat.

“Alasannya sederhana, untuk mudah ingat karena katanya 17 itu angka sakral, 17 rakaat, 17 Agustus, “ katanya.
Selain itu Syafruddin mengaku beberapa bulan lalu bertemu dengan salah satu anak Walikota Palembang Tjek Yan, dia bercerita waktu itu ayahnya Tjen Yan tanya dengan salah satu tim penentuan hari jadi kota Palembang dan diputuskan Tjek Yan hari jadi kota Palembang ditentukan tanggal 17 Juni.
Jadi menurut Syafruddin , tanggal 17 Juni itu tidak di karang-karang tapi berdasarkan keputusan walikota .
Namun menurut Syafruddin hari jadi kota Palembang idealnya sesuai dengan penanggalan prasasti kedukan bukit ditanggal 16 Juni.

“ Memang idelanya tanggal 16 Juni tapi harus merubah ketetapan Walikota sebagai konsekuensinya, karena itu ketetapan Walikota, kalau diubah ya.. ubah semuanya,” katanya.
Namun karena sekarang hari jadi kota Palembang sudah ditetapkan dan sudah diperingati dari tahun 1972 bisa saja hari jadi kota Palembang tetap dengan tanggal 17 Juni.

“ Namun masyarakat perlu tahu , sebab jika diubah menjadi tanggal 16 Juni takutnya menimbulkan masalah baru ngapo bisa berubah seperti itu, nanti yang disalahkan walikota, pula, tapi bisa saja berubah hari jadi kota Palembang menjadi tanggal 16 Juni tapi surat keputusan walikotanya harus baru dan dasar perubahan tanggal kenapa , harus dijelaskan,” katanya.

Namun penentuan 17 Juni sebagai hari jadi kota Palembang diakui Syafruddin bukan berdasarkan kajian sejarah namun supaya mudah diingat oleh Walikota Palembang Tjek Yan saat itu.

“ Kalau hari jadi kota lain di Indonesuanya itu penentuannya sesuai dengan keputusan diskusi , kalau kita waktu itu keputusan diskusi untuk menentukan hari jadi kota Palembang diserahkan ke Walikota, jadi Walikota Tjek Yan mengambil tanggal 17 Juni sebahai hari jadi kota Palembang,” katanya.#osk

x

Jangan Lewatkan

Hari ini, DPRD Sumsel Mulai Bahas APBD Perubahan Tahun 2020

Palembang, BP Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) MF Ridho memastikan pembahasan APBD Perubahan (P) Tahun 2020 mulai ...