Ultimate magazine theme for WordPress.

Tempoyak, Makanan Legendaris Dari Sumsel

BP/DUDY OSKANDAR
Nampak tempoyak tengah disantap

Palembang, BP

SEJARAWAN Palembang , Kemas Ar Panji nampak menikmati  makan makan malamnya dengan di campur Tempoyak atau tempuyak yang menjadi kuliner khas Sumatra Selatan (Sumsel).

“ Nah kuat nian kau ri,, makan tempoyak, nak aku rubah nama awak jadi Ari Tempoyak“ kelakar rekan Kemas Ar Panji bernama Sudarto Marelo dalam sebuah makan malam di rumah rekannya Fir Azwir di Kawasan Kalidoni, Palembang, Jumat (17/1) malam.
“Sape name, Ari Tempuyak,” timpal Ali Goik, rekan Kemas Ar Panji yang ikut hadir waktu itu sambil tertawa.

ITULAH bagaimana makanan legendaris yang bernama tempoyak ini menjadi pendamping sajian makanan masyarakat Sumsel yang sudah sangat akrab dan tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Sumsel.

Baca Juga:  SMB IV Ajak Masyarakat Palembang Hidupkan Kembali Budaya dan Sejarah  Palembang Yang Hilang

Tempoyak sendiri merupakan makanan olahan dari buah durian yang difermentasikan. Caranya dengan mengasinkan daging buah durian yang sudah matang yang dilepas dari bijinya, ditambah dengan garam dan disimpan dalam toples/wadah selama kurang lebih 3 hari.
Pengolahan durian menjadi tempoyak didasari oleh hasil durian yang berlimpah pada masa lalu. Untuk memanfaatkan keberlimpahan ini, orang-orang Sumsel kemudian mengolahnya menjadi makanan yang tahan lama, yaitu durian yang difermentasikan. Tempoyak merupakan makanan khas rumpun bangsa melayu diantaranya Palembang.

Tempoyak ini kemudian dapat diolah menjadi beberapa makanan atau sebagai pelengkap masakan. Makanan turunan tempoyak berupa : Sambel tempoyak mentah, Sambal tempoyak tumis, Iwak masak tempoyak, Pindang Patin Tempoyak dan Brengkes Tempoyak.

Tempoyak tahun 2010 lalu ditetapkan oleh pemerintah sebagai warisan budaya tak benda dengan Nomor Registrasi : 201900882

Baca Juga:  Berkaca Dari Konflik di Era Kesultanan Palembang, Sejarawan  Ingatkan Investasi Asing di Indonesia

“Tempoyak ini jadi pemacu selera makan. Sebab tempoyak bisa langsung dimakan bersama nasi ataupun dijadikan bahan campuran seperti untuk pepes tempoyak, pindang dan lain-lain,” kata budayawan Sumsel, Marta, Minggu (19/1).

Selain itu untuk yang dijadikan pepes pun bisa pakai ikan, ayam dan lain-lain.
“Untuk membuat tempoyak sendiri biasanya bahanya daging durian, garam dan cabai, lalu difermentasi.Namun kalau yang suka dicampur ada juga yang dicampur dengan pisang.Untuk fermentasi tempoyak ini membutuhkan waktu berhari-hari. Namun paling lama disarankan tiga hari, sebab jika sampai lama tingkat keasamannya akan tinggi,” katanya.

BP/DUDY OSKANDAR
Nampak tempoyak tengah disantap

Sebab tempoyak ini menurutnya memiliki citarasa asam dan manis. Untuk citarasa asam disebabkan fermentasi dari buah durian yang dibuat tempoyak.

Baca Juga:  Pemprov Sumsel dan DPRD Sumsel Dinilai Tak Miliki  Langkah Kongkrit  Terkait Tingginya Covid-19

“Untuk citarasa tempoyak ini juga dipengaruhi oleh buah durian yang dipilih.Misal kalau buah durian yang dipilih manis tentu rasanya enak. Kalau di Sumsel biasanya yang enak dibuat tempoyak itu durian tembaga.

Ciri dari durian tembaga seperti warnanya kuning pekat seperti tembaga dan aromanya harum serta rasanya manis,”katanya.

Di Sumsel ini banyak penghasil buah durian seperti di Ujan Mas, Muara Enim, Lahat, Linggau dan lain-lain.

“Kalau kebanyakan makan durian biasanya kulit durian dikasih air lalu diminum.” Katanya.Sementara itu terkait sejak kapan adanya durian dan tempoyak, ia pun mengatakan tak begitu tahu pasti sejak kapan.#osk

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...