Ultimate magazine theme for WordPress.

Gedung Walikota Palembang Bakal Jadi Destinasi Wisata

BP/DUDY OSKANDAR
Sekda kota Palembang Drs Ratu Dewa Msi

Palembang, BP

Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang berencana akan menjadikan gedung Walikota Palembang yang dikenal sebagai gedung ledeng atau water toren peninggalan kolonial Belanda sebagai salah satu destinasi wisata dan akan dibuka untuk umum.

“ Kemarin keinginan pak Wali itu dipucuk (lantai III)  ruang pak Romi Herton lamo mau difungsikan, karena masih jalan naik tanggo lingkar itu ada eskalator dinaikkan nanti ditengah ada musuem kecil yang menampilkan gambar Palembang lama ,mau difungsikan seperti itu,”kata Sekda kota Palembang Ratu Dewa, Selasa  (31/12) diruang kerjanya.

Selain itu menurut Ratu Dewa,  lift menuju lantai III akan diperbaiki dan diperbaharui sampai ke bawah.

” Selama ini lambat lift itu khan,  sudah ada rencana itu termasuk dibuat galeri industri kecil dibawahnya,” katanya.

Untuk itu tahun 2020 pihaknya akan segera realisasikan dengan mulai menganggarkan anggaran penataan ruang lantai III.

Baca Juga:  Lukisan Ratu Sinuhun Hiasi Koleksi Museum SMB II Palembang

Selain itu juga akan ditampilkan poto-poto lamo mengenai Palembang zaman dulu di dalam gedung Walikota Palembang ini.

Sebelumnya, Kantor Walikota Palembang yang terletak di Jalan Merdeka ini dahulunya dikenal dengan sebutan Menara Air (Water Tower) atau Kantor Ledeng. Tinggi bangunan yaitu 35 m dengan kapasitas air yang bisa ditampung mencapai 1.200 m3 dan dengan luas menara ini adalah 250 m2.

Menara Air (water toren) atau Kantor Ledeng merupakan bangunan buatan Belanda dan arsitek yang menangani pembangunan gedung ini adalah Ir. S. Snuijf.

Dipilihlah lokasi gedung di tepi Sungai Kapuran dan Sungai Sekanak. Sehingga pada masa itu, posisi Kantor Ledeng tepat di tepian air.

Namun kemudian, seiring dengan pembangunan jembatan yang melintasi Sungai Sekanak, Sungai Kapuran pun ditimbun. Akibatnya, jalan yang melintas di depan Kantor Ledeng itu pun mengalami banjir saat musim hujan disertai pasang naik Sungai Musi.

Baca Juga:   Ratu Dewa Jabat Sekda Palembang

Pada tahun 1929, setelah pembuatan master plan kota oleh Ir. Thomas Herman Karsten, dibangunlah sarana air bersih. Bangunan ini didirikan dengan gaya de stijl, yaitu memiliki bentuk dasar kotak dengan atap datar dengan menghabiskan biaya ± 1 ton emas .
Pendistribusiannya dikenal sebagai sistem gravitasi setinggi 35 meter dan luas bangunan 250 meter persegi. Bak tampungnya berkapasitas 1.200 meter kubik merupakan cara yang efektif pada saat itu untuk pendistribusian air sampai ke daerah kolonial dan daerah pasar 16 ilir, segaran dan sekitarnya.

Secara resmi Kantor Ledeng digunakan pertama kali pada tahun 1930-an. Bangunan Kantor Ledeng sendiri memiliki beberapa tingkatan dimana tingkat pertama sejak jaman Belanda telah digunakan sebagai pusat pemerintahan Belanda di Palembang dan tingkat paling atas digunakan sebagai tempat penampungan air bersih atau ledeng untuk semua warga yang tinggal di Palembang saat itu, terutama warga Belanda yang tinggal di sekitar Jalan Tasik saat ini dan Dempo yang lokasinya memang tak jauh dari menara Kantor Ledeng.

Baca Juga:  DPRD Sumsel Ajak Masyarakat Sumsel Jangan Lupakan Jasa Ratu Sinuhun

Menara air Kantor Ledeng ini dibuat sebagai upaya pemerintah Belanda Palembang saat itu untuk menyediakan air bersih.

Kantor Ledeng atau Menara Air ini sendiri telah beberapa kali berahli fungsi dimana pada saat pertama kali berdiri digunakan sebagai tempat penampungan air bersih dan pusat pemerintahan Belanda, kemudian saat jaman Jepang (1942-1945) dijadikan sebagai Kantor Residen Palembang jaman Jepang (Syuco-kan), lalu di jadikan balai kota hingga tahun 1956.

Hingga akhirnya sejak 21 Agustus 1963 Kantor Ledeng atau Menara Air digunakan sebagai Kantor Pusat Pemerintahan Kota Praja Palembang (Kantor Walikota Palembang) atau tempat berkantor orang nomor satu di Palembang sampai saat ini.#osk

 

 

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...