Ultimate magazine theme for WordPress.

Pers Sumatera Selatan, Pers  Perjuangan 1925- 1950 (Bagian Empat)

Oleh : Dudy Oskandar

(Jurnalis, Peminat Sejarah Sumatera Selatan)

 

#Lahirnya Harian Suara Rakjat  Hingga

Berakhirnya KB Antara Dan Harian Fikiran Rakjat  

 

SELAMA masa pendudukan kolonial Belanda hingga masa negara federal, Suara Rakjat  mengalami beribu kesulitan akibat tekanan yang dilakukan baik oleh pihak militer Belanda, maupun kaum reaksi  yang anti Republik.

Akibatnya  Suara Rakjat  beberapa kali harus menukar tempat mencetak,  berubah-rubah  format hingga  akhirnya terpaksa menjadi stensil saja. Kendatipun  bantuan materil mengalir terus dengan diam-diam  dari daerah Republik, dari Pemerintah Republik.

Disamping itu harian Fikiran Rakjat  diterbitkan terus dibawah pimpinan RA. Hakky, Samidin dan Rachman Thalib dengan juga tidak kurang mengalami tekanan pihak tentera Belanda dan reaksi orang Indonesia yang sedang sibuk ketika itu menyusun persiapan untuk mendirikan  negara Sumatera Selatan.

Sementara itu, didaerah Republik yang dibatasi oleh garis  “Renville” yang terkenal, pers merdeka dengan menghadapi 1001 macam kesulitan materil dilanjutkan terus. Alat percetakan yang dipakai tidak lebih dari stensil

Baca Juga:  2018, Perbankan Harus Pacu Pertumbuhan Kinerja

Sebagai sumber penerimaan dan pengiriman berita dari dan keluar daerah. Kantor Berita  Antara  bekerja dengan giat.

Curup dijadikan kantor pusat Antara  Sumatera Selatan, dibawah pengawasan Nungtjik Ar dan dipimpin oleh B.C. Samah dan Hb. Azhari.

Untuk daerah Selatan,  Sumatera Selatan, diterima dan dipancarkan berita Antara  oleh K.B. Antara   Cabang Tanjung Karang dibawah pimpinan sdr. MJ. Sjamsuddin cs.

Ketika Belanda melancarkan aksi militernya yang kedua pada 19 Desember 1948 yang kemudian sampai menduduki kota Curup dan Tanjung Karang, tamatlah riwayat kantor berita gerilya Antara ketika itu, sebagai juga yang dialami oleh kantor berita  Antara di Jogja dan  kota di Jawa dan Sumatera.

Baca Juga:  Pers Sumatera Selatan, Pers  Perjuangan 1925- 1950 (Bagian Enam )

Kemudian untuk kedua kalinya  MJ. Sjamsuddin ditangkap Belanda, terus ditawan dalam kamp tawanan militer di Boom Baru Palembang selama 6 bulan, hingga saat penyerahan kedaulatan.

Di kota Palembang sendiri, serentak dengan penyerbuan yang dilakukan tentera Belanda menerobos demarkasi  Renville, surat’ kabar pro-Republik dibredel dan para wartawannya dikumpulkan dalam kamp tawanan di kampung Suro 30 Ilir Palembang.

Yang menjadi korban ketika itu adalah Suara Rakjat dan ,,Fikiran Rakjat sedangkan  wartawannya yang ditawan adalah Idrus Nawawi, RA. Hakky, Rahman Thalib, juga A.A. Harahap yang menjadi koeresponden surat kabar Republikein di Medan .

Warta Berita yang ketika itu banyak dibaca orang di Palembang. Wartawannya  mengalami 1 sampai 2 bulan penawanan sampai akhirnya mereka dibebaskan kembali dan surat kabarnya tidak dilarang untuk diterbitkan kembali.

Hanya wartawan AA. Harahap masih tetap ditahan hingga kemudian dibeslitkan pengusiran keluar daerah Sumatera Selatan bersama-sama beberapa pemimpin Republik lainnya.

Baca Juga:  Pers Sumatera Selatan, Pers Perjuangan 1925- 1950 (Bagian Tiga)  

Akan tetapi entah karena apa, ketika kapal yang akan membawa Dr. Selamet. Dr. Karimuddin dan R.S. Josodipuro akan berangkat, A.A. Harahap yang sedianya ikut juga diberangkatkan, tidak kunjung tiba.

Terhadapnya kemudian tidak diambil tindakan apa-apa hingga kemudian dia aktif kembali melakukan perkerjaan kewartawanannya.

Suara Rakjat  kemudian oleh Idrus Nawawi diteruskan kembali penerbitannya dengan mengalami kesulitan hingga akhirnya hanya dengan distensil saja.

Juga Fikiran Rakjat  pada bulan Oktober 1949 diterbitkan kembali atas usaha R.A. Hakky, Rahman Thalib dan Hamid Husin dengan A.A. Harahap sebagai pemimpin redaksinya. Penerbitan ini tidak lama umurnya, hingga terpaksa berhenti diakhir tahun 1949.#

Sumber:

  1. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan , Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954
Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...