Home / Headline / Pers Sumatera Selatan, Pers Perjuangan 1925- 1950 (Bagian Pertama)

Pers Sumatera Selatan, Pers Perjuangan 1925- 1950 (Bagian Pertama)

Oleh:  Dudy Oskandar, Jurnalis,

Peminat Sejarah Sumatera Selatan

 

SEBENARNYA  tidaklah banyak yang dapat diuraikan tentang perkembangan pers dan jurnalistik di Sumatera Selatan ini. Karena perkembangannya sebenarnya baru saja dimulai sejak kemerdekaan ini.

Kalau kita katakan demikian, bukanlah berarti dalam masa sebelum itu, di zaman penjajahan Belanda dan Jepang, belum ada pertumbuhan ini.

Memang sejak  sekitar tahun 1925 masyarakat di Sumatera Selatan dan dikota Palembang ini khususnya sudah mulai mengenal adanya  koran Indonesia, yang diterbitkan oleh orang Indonesia dengan memuat kejadian sehari, kritik dan humor didalam lingkungan masyarakat disini.

Namun pandangan masyarakat yang masih tebal diliputi awan penjajahan  ketika itu, sangatlah lain sekali terhadap pekerjaan persurat-kabaran ini.

Wartawannya yang di zaman itu banyak dikenal dengan  nama  Jurnalis” atau tukang koran  dipandang masyarakat tidak lebih dari pada seorang yang pekerjannya membuat berita tentang suatu kecelakaan, pencurian, perkara-perkara pembunuhan, perkelahian, dll.

Kejadian sehari, disamping menulis tentang tetek-bengek mengorek kesalahan atau perbuatan’ orang lain dalam korannya. Kalau dipihaknya orang juga  menjadi sasaran kadang menerima tulisan demikian sebagai suatu perbuatan ,,schandaal” dipihaknya pembaca lainnya tulisan ini dianggap sebagai suatu perbuatan kelucuan yang kadang menarik sekali.

Tidak heran kalau sering-sering terjadi perang pena (polemik) antara jurnalis-jurnalis atau dibeberkannya tulisan-tulisan yang bersambung tentang diri atau perbuatan seseorang lantas jumlah langganan korannya bertambah.

Selaras pula dengan mutu jurnalistik dan pandangan masyarakat terhadapnya ketika itu, tidak heran kalau sementara jurnalis atau koresponden dizaman itu disamping mencari  berita, kadang-kadang  juga mencari bahan’ dan bukti  untuk melakukan suatu ,,chantage” (pemerasan)  terhadap seseorang.

Dengan melakukan ,,chantage” ini dia akan mendapatkan sesuatu keuntungan yang diinginkanya.

Dalam ceritera pengalaman rekan tua di zaman itu ada diceritakan konon seorang jurnalis telah dapat membuktikan  rahasia pribadi seorang  residen Belanda. Hal ini dijadikannya suatu ”chantage”, sehingga suatu waktu residen kolonial yang biasanya garang itu terpaksa tunduk kepadanya . ………..

Sementara itu dunia persurat-kabaran sangat sempit sekali. Di Palembang hanya ada diterbitkan surat kabar harian  Pertja Selatan oleh Percetakan Meru”, yang redaksinyan berturut-turut  dipimpin oleh Mas Arga, Bratanata, Nungtjik Ar. dan Kgs. Mas’ud.

Disamping itu pernah diterbitkan SK Berita Pagi, tetapi tidak lama umurnya karena tidak mendapat sambutan rakyat. Masyarakat Belanda dan orang  Indonesia yang berbahasa Belanda ketika itu mengenal pula adanya sebuah surat kabar Belanda bernama Palembangsch Nieuwsblad  yang dicetak dan dikeluarkan oleh Drukkery K.A. Ebeling.

Pernah pula untuk waktu yang pendek dibulan Oktober 1927 diterbitkan suatu surat kabar Melaju T‘hoa bernama  Bintang Sumatera” oleh Kwee Tjin Hong dan Tan Bun Kim.

Lain-lain penerbitan yang dapat dicatat terbit sebelum perang, adalah: majalah  Mutiara  dari percetakan Krakatau  Pelita dipimpin oleh R. Achmad Azhari, ,,Suluh Marga”, dipimpin olch Arga, Suluh Peladjar“. kemudian berganti nama ,,Suluh Masjarakat”, yaitu majalah untuk murid-murid dipimpin oleh Tjik Man Ar. dan K.M. Zen Mukti.

Langkah Pemuda dipimpin oleh  Hambali Usman, ,,Kedjora” dipimpin oleh  Husin Mu‘in, SK  Obor Rakja  dibawah pimpinan  Dr. A.K. Gani, Nungtjik Ar. dan A.S. Sumadi.

Kiao Paou dibawah pimpinan  Lim,  Tjanang  dibawah pimpinan M. Jahja, Al-Balagh” kemudian berganti nama ,,Penerangan” terbit dalam masa pendudukan Belanda 1950, dibawah pimpinan  Husin Muin dan K.M. Zen Mukti.

Kesukaan masyarakat dalam membaca  surat  kabar ketika itu hanyalah terbatas kepada mengikuti berita tentang proses sesuatu perkara di pengadilan misalnya , sentilan-sentilan atau polemik mengenai diri orang.

Disamping itu ada juga yang suka memperhatikan berita-berita pasar, ataupun berita-berita sekitar pergolakan Internasional.

Surat kabar sebagai pembawa pendapat umum, sebagai pendorong masyarakat berpikiran kritis dan sebagai bahan-bahan pendidik yang murah, belum dikenal orang. Ini tak mengherankan justru karena tingkatan kecerdasan dan pendidikan masyarakat kita pada umumnya ketika itu masih sangat rendah sekali.#

 

 

Sumber:

  1. Republik Indonesia, Propinsi Sumatera Selatan, Kementrian Penerangan , Siliwangi-Jakarta, Agustus 1954

 

x

Jangan Lewatkan

Dikira Pelaku Penodongan, Polisi Dihajar Warga

Palembang, BP Akibat aksinya, Bripka Muhammad Reza terbaring lemah di ruang Instalasi Gawat Darurat RSUD Bari. Anggota Unit Ranmor Satreskrim ...