Ultimate magazine theme for WordPress.

TPKS Gandus,  Jadi Sampel Pertama Digital Culture And Social Design

BP/DUDY OSKANDAR
Hari kedua, Kamis (19/12).  kegiatan workshop dengan tema Digital Culture And Social Design yang diselenggarakan Ikatan Ahli Perencanaan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) bekerjasama dengan Fakultas Adab dan Humaniora (Fahum)  Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang dilanjutkan di Gedung Ampitheater Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), Gandus, Palembang.

Palembang, BP

Hari kedua, Kamis (19/12).  kegiatan workshop dengan tema Digital Culture And Social Design yang diselenggarakan Ikatan Ahli Perencanaan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) bekerjasama dengan Fakultas Adab dan Humaniora (Fahum)  Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang dilanjutkan di Gedung Ampitheater Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), Gandus, Palembang.

Sedangkan nara sumber Prof June -Hao Hou, Sheng – Kain Sky Tseng, Chia- Jung Andy Wen dan Chi Li Cheng dari NCT University Taiwan didampingi Lektor (Assistant Professor) Waseda University Japan Prof Riela Drianda PhD dan Sekjen Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAPI) Sumsel  Avanidin

Baca Juga:  Ketua Fraksi PKS: Jangan Sampai Presiden Termakan Janji Sendiri

Sekjen Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAPI) Sumsel  Avanidin mengatakan, sampel pertama yang akan dicoba untuk program digitalisasi adalah Museum Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), di dalamnya menyimpan koleksi informasi terkait Kerajaan Sriwijaya sebagai brand utama Kota Palembang dan Sumsel.

Berbagai informasi terkait koleksi, catatan dan peninggalan di TPKS akan coba di konversi menjadi informasi virtual yang otomatis timbul ketika pengunjung mengarahkan gadgetnya ke sebuah koleksi, teknologi ini berbeda dari  “scan barcode”  yang biasa menempel di dekat koleksi museum.

Baca Juga:  Buruh Serabutan Jadi Bandar Sabu

“Pengunjung dapat melihat bentuk suatu koleksi secara lebih sempurna dalam bentuk 3D, karena koleksi-koleksi telah diprogram dengan teknik photogrammetry yang memberikan pengalaman berbeda dibanding hanya melihat koleksi secara monoton lalu dilupakan,” katanya.

Menurutnya,  Virtualisasi museum sudah banyak diterapkan museum-museum di Eropa dan negara-negara maju di Asia, dampak dari penggunaanya bisa mendatangkan lebih banyak pengunjung serta menghapus kesan ‘kuno’ sebuah museum.

Baca Juga:  Baru Dimulai, Rekapitulasi di KPU Sumsel Diinterupsi

“Di Indonesia sepertinya baru Kota Palembang yang akan menerapkannya, sehingga dibutuhkan peran semua pihak agar rencana ini terealisasi,” kata Avanidin.#osk

 

Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...