Harapan Baru Periode Kedua Jokowi

5

Oleh : Junaidi, SE., M.Si.

(Mahasiswa Program Doktor Ilmu Akuntansi Universitas  Pajajaran)

 

DALAM  perjalanan pemilu bangsa Indonesia, kita telah merasakan pertarungan politik sejak lima tahun yang lalu, dimana kental kita rasakan seolah tidak kunjung selesai; perang argumen, media sosial dari kubu Jokowi-JK maupun Prabowo-Hatta sampai akhirnya kita tiba pada pemilu tahun 2019 juga telah kita lalui dan kita laksanakan dengan baik, namun perjalanan ini tentunya menjadi catatan emas bagi perjalanan demokrasi kita yang seolah mengulang pemilu sebelumnya pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 ini serupa dengan pemilu tahun 2014 yang hanya menyajikan dua pasang calon, jika dibenturkan seolah kita dipaksa apple to apple.

Maka tentu ini dapat kita rasakan menjadi benturan bagi masyarakat, yang terbelah baik terhadapa pasangan yang satu maupun lainnya. Seperti buah apple tersebut maka tidak ada yang diuntungkan bagi bangsa ini selain sama-sama hancur dan tidak berguna jika tidak kita siasati dengan baik dan bijaksana.

Tapi, dalam catatan tersebut itu pula kita dapat melihat goresan tinta emas sejarah perjalanan bangsa Indonesia perlahan-lahan semakin maju dan berperadaban. Pada periode pertama lima tahun Pemerintahan Jokowi-JK, terlihat telah banyak kemajuan yang lahir; utamanya infratruktur, pembangunan LRT, jalan, jembatan, bandara telah kita rasakan.

Tapi, satu sisi seperti menara gading pembangunan yang kita lihat dan kita rasakan tersebut belum memberi makna dan yang luas menyentuh bagi seluruh rakyat Indonesia. Kini, dalam beberapa pekan lagi, kita akan menyaksikan periode kedua Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Periode 2019-2024.

Baca:  Gugatan Terkait Diskualifikasi Pasangan Ilyas Panji Alam-Endang, Bawaslu Sumsel Persilahkan Sepanjang Diatur

Dengan Visi utamanya yaitu Pembangunan Sumber Daya Manusia. Patut kita review kembali visi dan misi secara garis besarnya, baik dengan melanjutkan pembangunan pada lima tahun periode sebelumnya yang belum diselesaikan begitu juga dengan jargon periode kedua ini yaitu Maju Indonesia Unggul.

Ada beberapa catatan penting untuk kita simak dan menjadi pengingat kembali bagi Pemerintahan Jokowi-Makruf di periode yang akan datang yaitu; pertama. Bahwa Sumber Daya Manusia itu adalah kata kunci sebuah pembangunan yang berkelanjutan; kedua. Indonesia, Korea, Jepang memiliki sejarah yang hampir sama dalam perjalanan bangsanya namun kedua negara tersebut jauh lebih baik dalam Pembangunan Infrastruktur, sarana prasarana tetapi juga selaras dalam mengelola Sumber Daya Manusia.

Kedua negara tersebut seimbang dalam mengelola Sumber Daya Manusia maupun Infrastruktur, sebagai bangsa yang terus belajar dan menempa diri kita tidak boleh terlena, sebagai salah satu negara yang memiliki populasi terbanyak keempat dan jumlah umat muslim terbesar di seluruh dunia kita masih memiliki waktu dan Sumber Daya Alam.

Baca:  Diduga Lakukan Politik Uang, Caleg DPR RI dan Kabupaten Banyuasin dari Partai Golkar Dilaporkan ke Bawaslu Sumsel

Presiden dan Wakil Presiden terpilih harus betul-betul melakukan pembangunan Dari hulu ke hilir, dari hulu; mulailah dengan membentuk manusia unggul itu dengan diberi gizi yang cukup bukan hanya sejak bayi lahir, namun sebelum itu, saat calon ibu mengandung, negara telah berpihak dan turut di dalamnya, memberikan asupan gizi mulai dari imunisasi, vitamin maupun yang lainnya guna memantapkan calon-calon Sumber Daya Manusia yang unggul tersebut.

Begitu pula setelah anak tersebut telah lahir dan beranjak. Negara hadir dan bertanggung jawab memberikan  pendidikan yang cukup baik informal maupun PAUD, tidak hanya diperkotaan  tapi juga di pelosok desa. Peran negara tersebut utuh dan menyentuh, tidak ada lagi sekolah, jalan dan jembatan yang rusak dan sebagainya. dari hilir; manusia-manusia yang berprestasi tersebut diarahkan sesuai dengan minat dan bakat mereka, penyaluran kompetensi ini tidak lepas dari pengawasan negara, sehingga Sumber Daya Manusia yang unggul tersebut juga terwujud kepada dukungan negara kepada guru dan dosen.

Agar menjadikan pendidik ini handal dan mumpuni, profesional dan berkarakter sehingga menguasai bidangnya, mempermudah guru dan dosen dalam mendapatkan beasiswa, memberikan hak dan pendapatan yang lebih baik, serta membuka seluas-luasnya peluang agar pendidik ini dapat mendapatkan pekerjaan sesuai dan seharusnya. Begitu pula dengan kurikulum yang telah ada di sekolah, tidak menjadi bias dan terdapat banyak sekali isi di dalamnya sehingga siswa tidak mendapat fokus dalam mendapatkan pelajaran. Siswa dibebankan mata pelajaran semuanya dan tidak  di khususkan   di bidang-bidang tertentu.

Baca:  Pasca Pendaftaran Bapaslon Ke KPU, Bawaslu Sumsel Tetap Lakukan Pengawasan Melekat

Sehingga setengah dari apa yang telah kita lakukan sebetulnya belumlah tepat dan mengenai sasaran. Kita perlu belajar dan melihat dengan seksama bagaimana negara-negara yang telah maju itu selaras dengan kemajuan pendidikan yang ada di sekolahnya. Negeri kita saat ini belumlah sampai pada titik itu, apalagi yang swasta, Pemerintah pun harus memperhatikan sekolah-sekolah swasta di bawah yayasan, seperti halnya NU, Muhammadiyah dan atau Yayasan Pendidikan lainnya, pendidikan saat ini juga masih jauh dari nilai moral, budi pekerti, masih fokus pada hasil dan bukan proses.

Pada akhirnya dalam Periode Kedua Pemerintahan Jokowi-Makruf nanti kita tidak ingin kembali terlalu banyak teori, marilah kita bersama-sama mengawal dan memberi koreksi jika diperlukan, sehingga Maju Indonesia Unggul tersebut bukan hanya jargon semata tetapi telah menjadi kerja nyata bagi Pemerintahan ini kedepan. Bangunlah menara air yang indah terlihat tapi juga dapat dirasakan, air akan terus memberi hidup dan memberi kehidupan. Harapan Baru Periode Kedua Jokowi adalah harapan besar bagi seluruh bangsa Indonesia.#