Partai Gelora Tawarkan Gagasan Bangun Indonesia Untuk Jadi Kekuatan Dunia

17

Ketua DPW Partai Gelora Indonesia Sumsel Erza Saladin didampingi Reni Bendahara Umum DPW Partai Gelora Indonesia Sumsel, dan Sekretaris DPW Gelora Indonesia , Amril Sudiono dan tokoh pers Sumsel Bangun Lubis, Kamis (14/11).

Palembang, BP–Partai Gelombang Rakyat atau Partai Gelora Indonesia merupakan partai baru yang digagasi oleh mantan panglima Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah dan Muhammad Anis Matta.
Partai Gelora baru saja mendeklarasikan struktur partai Gelora pada 10 November 2019 yang bertepatan dengan Hari Pahlawan.
Ketua DPW Partai Gelora Indonesia Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Erza Saladin mengaku bersyukur kalau kini sudah banyak orang yang mengapresiasi lambang dan logo Partai Gelora Indonesia ini.
Logo Partai Gelora sendiri memiliki dasar warna biru langit. Lambangnya seperti gelombang mencerminkan semangat, motivasi dan keseriusan. Di ujungnya ada lidah gelombang bermakna narasi kekuatan dan merah putih adalah identitas bumi NKRI. Ideologi Pancasila dan tagline INDEKS: Islam (agama), Nasionalisme, Kesejahteraan, Kemanusian.
“Kami bersyukur, kalau sudah banyak yang mengapresiasi lambang ini, berarti lambang ini menarik untuk dilihat, dan kami mendapatkan penjelasan dari DPN, warna biru turkish ini warna dari sisi marketing, warna yang paling disukai di muka bumi saat ini, kami bersyukur, salah satu sampelnya adalah club Manchester City, kebetulan saya senang juga bajunya itu,” kata Erza Saladin didampingi Reni Bendahara Umum DPW Partai Gelora Indonesia Sumsel dan Sekretaris DPW Gelora Indonesia Amril Sudiono serta tokoh pers Sumsel Bangun Lubis kepada wartawan, Kamis (14/11).
Warna ini juga menurutnya, membuat orang ingin tahu, warna apa ini , walaupun pihaknya disebut sama dengan partai lain namun itu tidak masalah.
“Filosofinya ini gelombang yang mencerminkan semangat, motivasi, keyakinan rakyat mencerminkan , rakyat ini pelaku utama dari proses pembangunan Indonesia lebih baik kedepan bukan hanya sekadar objek, rakyat menjadi pelaku itu harus berkarakter , agamis, berpengetahuan dan sejahtera dan , lidah gelombang itu narasi, merah putihnya dalah NKRINya , lingkarannya bumi, nanti kita share brand identitynya , tapi mungkinya file,” katanya.
Selain itu , menurut Erza Partai Gelora Indonesia (Gelombang Rakyat Indonesia) juga menawarkan gagasanya dalam membangun Indonesia, yang selama ini punya potensi dan kekuatan besar untuk menjadi kekuatan dunia.
Hal itulah menjadi alasan sejumlah mantan kader PKS yang terdepak selama ini dikepengurusan, bergabung dengan partai Gelora Indonesia.
Apalagi, mayoritas penggagas partai ini mantan pimpinan Partai Keadilan Sejahtera.
Mulai dari mantan Presiden Partai Keadilan Sejahterah (PKS) Anis Matta, bersama mantan wakil ketua DPR RI Fahri Hamzah dan eks kader PKS lainnya.
“Memang sebagian pengurus di Gelora termasuk di Sumsel, merupakan eks kader PKS itu betul, dan tidak dimenafikkan itu, karena kami pernah di sana,” katanya.
Menurut mantan anggota DPRD Sumsel ini, pihaknya membuka seluas- luasnya bagi masyarakat, termasuk kader PKS yang ingin bergabung dengan partai Gelora demi mencapai tujuan menjadikan Indonesia jadi kekuatan dunia.
Mengingat dirinya dan rekan- rekan lainnya sudah tidak nyaman lagi sehingga mendirikan partai baru.
“Kami menyakinkan, memilih parpol adalah pilihan dan kita menawarkan gagasan. Kalau gagasan kami lebih baik jangan disalahkan, dan jika parpol lain mampu atau lebih baik juga kita persilahkan,”
“Kita miliki rumah tangga masing- masing, kebetulan partai Gelora lagi move on bisa saja jadi banyak partai khawatir,” tuturnya.
Erza Saladin sendiri mengaku, jika kepengurusan sudah terbentuk termasuk di tingkat Kabupaten/ kota se Sumsel.
“Sekarang, kami harus fokus menjadikan partai Gelora lolos di Kemkumham RI. Mengingat di Sumsel sudah 15 dari total 17 Kabupaten/ kota terbentuk pengurusan, artinya sudah 88 persen.Kemudian untuk tingkat Kecamatan yang sudah mencapai 50 persen dan akan terus dimatangkan,” capnya, seraya hanya Kabupaten OKU dan OKU Selatan yang belum terbentuk,” katanya.
Ditambahkan mantan ketua DPW PKD Sumsel ini, jika partai Gelora berazaskan pancasila dan secara terbuka sepakat dengan ide- ide besar untuk menjadikan Indonesia berpangaruh di dunia dan muka bumi.
“Jadi kami silahkan bergabung, partai Gelora tidak kotomi SARA, kita tidak membedakan partai nasionalis dan agamis, atau mau jadi partai kiri, tengah atau kanan. Tapi membuat Indonesia lebih berpengaruh kedepannya,” katanya.
Sementara Yuzwar Hidayatullah yang sejak bergabung pada 2010 ternyata tidak memiliki jabatan startegis di PKS Sumsel, sehingga memilih mengikuti jejak rekannya lain untuk bergabung ke partai Gelora karena dinilai lebih baik.
“Ini masalah pilihan saja, untuk memberikan konstribusi. Saya sejak 2010 di PKS tidak ada peran strategis di struktur Wilayah,” katanya.
Ia pun menilai partai Gelora merupakan partai yang cocok baginya, karena memiliki ide-ide terobosan kedepan untuk Indonesia menjadi kekuatan dunia.
“Zaman, waktu dan kondisi berubah, perlu pemikiran dan lagkah baru. Cita-cita reformasi dan bangsa ini menjadi kuat dan sejahtera juga belum maksimal. kita perlu pemikiran baru dan arah baru menuju Indonesia yang kuat, dengan melibatkan eleman rakyat,” pungkas mantan anggota DPRD Sumsel ini.
Sedangkan Sekretaris DPW Gelora Indonesia Sumsel, Amril Sudiono menambahkan dalam beberapa kasus justru teman-teman disebelah itu yang mengajak pihaknya berdiskusi seperti di Betung , Banyuasin, mereka mengundang untuk sharing tentang ide besar Gelora Indonesia.
“Mereka juga selama ini tidak terfasilitasi akhirnya mereka memutuskan sendiri, kami dari awal sudah tegaskan kalau teman-teman PKS pindah ke kita, tolong dengan semua pemahaman bukan dengan emosi,” katanya.#osk