Teras Narang: Kemajuan Tercapai Jika Dilandasi Kebersamaan

7

Anggota MPR Teras Narang saat memberikan penjelasan soal kebersamaan di negara Pancasila.

Jakarta, BP–Anggota MPR RI Teras Narang menegaskan, para perintis kemerdekaan kita sudah membuka pintu, sehingga kita harus mengisi dan berjuang membangun agar negara lebih maju dan rakyat lebih sejahtera.
“Kemajuan tidak akan bisa terlaksana dengan baik tanpa dillandasi kebersamaan. Saya telah melakukan itu 10 tahun di Kalteng saat menjadi gubernur. Keinginan pemerintah dan rakyat harus sama tanpa membedakan latar belakang, suku, agama dan golongan,” kata Teras di ruangan wartawan DPR Jakarta, Rabu (6/11).
Menurut Teras, hidup rukun, menghormati satu sama lain dan gotong royong merupakan budaya bangsa Indonesia yang telah diwariskan leluhur kita.
Teras mengakui, dari era orde baru ke era reformasi terjadi perubahan luar biasa, satu pergeseran dari satu sistem kedautan negara menjadi kedaulatan rakyat. Saat itu, Presiden dan Wakil Presiden dipilih MPR sebagai lembaga tinggi negara. Sedangkan Guberbur, Bupati, Walikota dipilih DPRD.
Setelah Orde Baru berganti ke era reformasi, presiden, gubernur, bupati dan walikota dipilih langsung rakyat. Kedaulatan di tangan rakyat. Hanya saja, pemilihan langsung menimbulkan persoalan di tengah masyarakat. Politik uang tidak bisa dihindari dan tidak teekontrol.
Dia berharap, partai politik melakukan sistem rekruitmen dengan baik untuk dicalonkan menjadi kepala daerah maupun anggota dewan.
“Jika kita hanya beeambisi untuk menang tanpa memikirkan kepentingan rakyat akan terjadi konflik dan tidak ada kemajuan di daeeah tersebut,” jelas Ketua Komite I DPD RI tersebut..
Sebagai pejabat atau kepala daerah kata Teras, harus bersikap adil, merata dan tidak membedakan latar belakang orang tersebut. “Perbedaan itu merupakan kekayaan, kita tetap satu di bawah panji Pancasila yang telah dirintis pendahulu bangsa,” kata mantan Gubernur Kalteng ini..
Anggota MPR Jazilui Fawaid mengatakan, di era kecanggihan teknologi digitalisasi sekarang ini, nilai-nilai Pancasila seharusnya bisa dilakukan dalam bentuk aplikasi, agar mudah dipahami generasi melenial, murah dan cepat bisa diakses. Seperti berita hoaks yang anti Pancasila selama pilpres 2019 juga dilakukan secara masif melalui aplikasi WhatsApp (WA).

Baca:  Teras Narang Setuju Pemilihan Bupati Dikembalikan ke DPRD

“lima nilai-nilai Pancasila iselalu relevan dan mudah dicerna generasi muda jika diartikulasikan dalam bentuk aplikasi. Sehingga meski Pancasila terus digoyang dari masa ke masa tetap kokoh sebagai ideologi bangsa,” kata Jazilul.
Jazilul berharap Pancasila bisa dikemas sedemikian rupa sehingga mudah diakses dan dipahami generasi melenial. “Kalau tidak mengikuti perkembangan teknologi akan tertinggal,” jelasnya.
Dikatakan, agar Pancasila bisa membentuk karakter generasi milenial, MPR RI akan meminta pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebduayaan (Kemendikbud) RI masuk ke dalam kurikulum pendidikan. Baik pendidikan dasar (SD) hingga perguruan tinggi.
” MPR RI akan berbicara dengan Kemendikbud RI dan pihak terkait untuk memasukkan kurikulum Pancasila tersebut ke dalam kurikulum pendidikan,” tuturnya..
Dia menambahkan, aplikasi Pancasila belum ada dan inilah yang menjadi tantangan MPR RI ke depan. “Budayawan Pancasila perlu memikirkan untuk memberikan energi positif untuk kepentingan bangsa dan negara. Bukan budayawan yang selalu nyinyir pada pemerintah,” paparnya.#duk

Baca:  Anggota MPR Harap Biaya Pilkada Tidak Bebani APBD