Produk Legislasi Tidak Perlu Banyak

6

Anggota Baleg menilai produk legislasi bukan dilihat dari banyaknya, namun kualitasnya.

Jakarta, BP–Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI, Christina Aryani mengatakan, produk legislasi bukan dilihat dari banyaknya namun kualitasnya. ” Buat apa banyak melahirkan undang undang jika berujung di Mahkamah Konstitusi (MK). Lebih baik sedikit namun berkualitas dapat dirasakan masyarakat manfaatnya,” ujar Christina di ruangan wartawan DPR Jakarta, Selasa (5/11).
Menurut Christina, sorotan terkait fungsi dan peran Baleg dianggap kurang produktif membuat dan melahirkan undang-undang merupakan pemahaman kurang pas.
Politisi Partai Golkar ini menambahkan, Baleg harus mempunyai acuan. Harus lebih realistis.

Dia menambahkan, setiap komisi akan membahas sekitar dua atau maksimal tiga RUU dalam satu tahun, “Kalau kita hitung dengan 11 komisi diperkirakan 110. Masih lebih baguslah dibanding periode alu hanya 89. Dan 89 itidak semua RUU Prioritas. Ada kumulatif terbuka,” tuturnya.

Christina mengaku sudah sudah mulai rapat dan diputuskan beberapa RUU yang didorong untuk masuk dalam prolegnas. Pertama RUU Perlindungan data Pribadi. “ Ketika kita mau membicarakan para meter, kita mau ngomongin dari mana. Kalau dibilang keinginan, keinginan itu gak akan pernah ada habis. Jadi keinginan itu tidak harus dipenuhi. Kita lihat dari kebutuhan dan kebutuhan juga banyak. Mana kebuuhan yang harus diprioritaskan,” katanya.

Dikatakan, harus dilihat apa yang menjadi kepentingan bangsa dan negara, masyarakat saat ini. “Nah, dari situ bisa dikategorikan, mana yang musti duluan jalan, mana yang mungkin bisa dipending.
Pimpinan Baleg Willy menjelaskan, agar tidak menimbulkan kekisruhan, pihaknya mengundang sejumlah pakar untuk.membahasnya. Dan sesuai keinginan presiden agar pertumbuhan ekonomi bisa melaju serra egulasinya tidak menjadi beban..
Bagaimana mengefisienkan serta menyederhanakan sehingga pelaku usaha bisa berinvestasi dengan gampang. #duk