Ultimate magazine theme for WordPress.

Kisah Dodi Reza Bangun Jembatan, Bertemu Suku Anak Dalam, dan Potong Dua Kerbau

Bupati Musi Banyuasin H Dodi Reza Alex

Palembang, BP–Bupati Musi Banyuasin H Dodi Reza Alex memiliki pengalaman bersama suku anak dalam di Desa Muara Medak, Kecamatan Banyung Lencir, Muba yang berbatasan dengan Provinsi Jambi saat membangun jembatan di kawasan tersebut.
Muara Medak dikenal sebagai kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan setiap tahun. Selama ini masyarakat desa itu kalau mau ke kota kecamatan di Muba harus memutar ke provinsi Jambi masuk ke Jalan Lintas Timur dan masuk ke Muba dan baru ke Bayung Lencir.
“Jadi ada satu, dua desa lebih malah, yang penduduknya sejak zaman dulu itu harus keluar ke Jambi dulu, masuk lagi ke Sumsel dan baru masuk ke kota kecamatan. Saya masuk di Muba baru dua tahun lebih tiga bulan. Begitu saya mendengar masalah itu, penderitaan mereka, bagaimana anak-anak sekolah dengan menggunakan sampan, maka dibangun jembatan dua. Saya gunakan dana dari sarana infastruktur BUMN bangun jembatan dua, bentangan 130 meter, 170 meter. Insya Allah Desember besok selesai sehingga warga saya yang tinggal di Muara Medak yang selama ini rawan karhutla, sekarang tinggal lewat jembatan mau ke ibukota kecamatan, tidak harus melalui provinsi Jambi lagi,” kata Dodi Reza di acara Rountable Discussion Membangun Sinergi Antar Stakeholder Sumatera Selatan untuk Pengendalian Kebakaran Hutan, Kebun, dan Lahan ke depan di Hotel Swarna Dwipa, Kamis (31/10).
Menurut Dodi jembatan tersebut tidak jadi jika tidak memotong dua kerbau dulu. “Itu bangun jembatan itu satu tahun saya menunggu izin Kementerian Kehutanan, karena itu kawasan hutan. Tapi sudah banyak penduduk di sana, saya kira kalau tidak diizinkan pun saya ingin bangun untuk warga saya, jadi alhamdulilah izin keluar, kita bangun itu, itu saya cerita kaitannya dengan karhutla juga, begitu terjadi kebakaran hutan lahan di kawasan Medak itu, selama ini akses mau ke sana bagaimana? Mau masukkan eskavator harus ke Jambi dulu,” kata Dodi.
Dengan dibangunnya jembatan tersebut akses penanganan karhutla bisa lebih cepat.
“Maksud saya cerita ini semua, perlu suatu sinergi, leadership penting, komitmen itu penting, apa yang dikatakan Pak Beni soal marga, adat itu menjadi kearifan lokal yang kita kawinkan dengan teknologi dalam hal ini dan ketersediaan dana,” katanya.
Dodi mengaku satu minggu lalu dirinya ke Medak, Bayung Lencir, Muba, bertemu satu komunitas suku anak dalam yang menderita dan terpapar asap.
“Di sana kita langsung berikan instruksi dan pengarahan dan sudah jalan alhamdulilah, kita libatkan juga kearifan lokal mereka dalam menjaga, mempatroli, dan memberikan bantuan. Bagaimana, instan saja, walaupun kita bangun juga komunitas mereka, rumah, sekolah tapi ada juga keterlibatan mereka dalam kapasitas mereka, tanggung jawab mereka, walaupun suku anak dalam ini konotasinya adalah agak lambat mengikuti perkembangan zaman tapi mereka punya kearifan lokal sendiri dalam menjaga lingkungan. Ini yang kita ajak mereka, berikan mereka pemahaman sehingga komunitas-komunitas adat tradisional, suku-suku pedalaman, suku anak dalam atau wong kubu juga merasa terlibat dalam menjaga lingkungan,” katanya.
Dodi Reza menilai persoalan karhutbunlah yang terjadi saat ini menjadi persoalan serius. Sehingga, ia tidak main-main dalam upaya pencegahan ke depan. Hal itu terbukti dengan digelontorkannya anggaran oleh Pemkab Muba sebesar Rp25 miliar untuk penyediaan sarana prasarana (sarpras) pencegahan dan meminimalisir karhutbunlah di Muba.
“Ke depan juga saya mengeluarkan instruksi kepada pemdes (pemerintahan desa) untuk mengalokasikan dana desa untuk alat inventaris sarpras pembukaan lahan,” ujar Dodi.
Jika instruksi ini tidak diikuti oleh pemdes, maka ia akan menahan pencairan dana desa. Menurutnya, langkah tegas ini dilakukan agar warga tidak membuka lahan dengan cara membakar.#osk

Baca:  DWP Dinkominfo Muba Kunjungan KASIH ke Lapas Perempuan
Jangan Lewatkan
Komentar Anda
Loading...