Ratu Sinuhun Dalam Catatan Belanda

80

Oleh Dudy Oskandar, Jurnalis

PADA abad XIX, ketika orang-orang Belanda mulai mengumpulkan kisah-kisah mengenai masa lalu Palembang, mereka menemukan bahwa masa kekuasaan Sultan Abdul Rahman (sangat terkenal sebagai Cinde Balang karena dia dikebumikan dekat sebuah candi kecil dengan nama itu) yang panjang begitu diingat sebagai sebuah waktu yang sulit secara kultural.
Jamak diyakini bahwa selama waktu ini adat-istiadat tradisional-biasanya disebut Undang-Undang Simbur Cahaya-ditetapkan, di waktu itu pula Islam ditegakkan secara kokoh dan batas-batas antara pengelompokan klan ditakhtakan.‘ Kisah-kisah Itu bercerita tentang kualitas .istimewa Sultan Cinde Balang (walang), kekuatan meditasinya , tentang Indra keenam yang dimilikinya . kecakapannya dalam berperang, “Orang-orang berkata bahwa ia dicintai dan dihormati oleh para kawulanya. Beliau bertabiat tenang. adil dan bijaksana, dan di bawah kepemimpinannya negeri tumbuh subur dan makmur”.
Namun, Sultan Abdul Rahman bukan satu satunya tokoh yang okeg generasi berikutnya-dihubungkan dengan sebuah waktu penting secara kultural. Belanda juga menemukan nama lain, yaitu seorang ratu yang disebut Ratu Sinuhun, juga sering kali disebut sebagai simboI darl semua yang balk pada diri seorang penguasa. Ketika para penduduk bumiputra ditanya tentang suami Ratu Sinuhun, jawaban mereka begitu samar.
Kebanyakan berkata bahwa Ratu Sinuhun kawin dengan Pangeran Sidang Kenayan yang dikatakan pernah berkuasa pada awal abad XVII walaupun penduduk yang lain berkata bahwa Ratu Sinuhun merupakan rekan hidup dan istri dari Sultan Abdul Rahman.
Tokoh perempuan asal Palembang ini . ketokohannya dapat dilihat dari perannya yang sangat menonjol dan karya yang monumental.
Dalam manuskrip Silsilah Raja-raja Palembang, diberitakan bahwa dia diangkat menjadi raja pada tahun 1049H dan wafat pada tahun 1061H. Tulisannya, tidak hanya tentang aturan hukum saja, tapi meliputi bidang pertanian, perkebunan, perdagangan, hubungan orang dengan orang, dan berbagai aturan lainya.
Dalam naskah yang lain, sosok penting ini digambarkan bahwa “Adalah Pangeran Sido Ing Kenayan itu beristeri sepupunya nama Ratu Sinuhun, itulah yang tempo buat aturan negeri dari pada hasil-hasil Raja atas sekalian uluan dan yang mulai aturan dari perintah tanam lada dan kasih aturan dari perintah-perintah dan lain-lain, sehingga sampai ke zaman ini semuanya uluan dan ada juga di dalam negeri, aturan tersebut Piagem Ratu Sinuhun, tiada sekali nama suaminya Pangeran Sido Ing Kenayan, hanya tersebut nama Ratu Sinuhun.
Namun, biasanya semua kisah menyebutkan bahwa kekuasaan Ratu Sinuhun merupakan sebuah masa krusial dalam pembentukan masyarakat Palembang.
Ratu Sinuhun dikaitkan dengan perkampungan hilir karena ketika ada orang-orang melakukan tindakan kriminal atau menolak para utusan Ratu Sinuhun, mereka akan dibawa paksa ke ibu kota hilir dan diberi sebuah pilihan apakah mereka ingin menetap di sana atau lebih ingin dihukum. “Penduduk yang sekarang,” tulis salah satu pegawai Belanda pada 1823, ”berkata bahwa mereka memilih menetap daripada dihukum.
lnilah alasan mengapa para penduduk hilir langsung berada di bawah kendali Demimpin di ibu kota dan lebih bertanggungjawab untuk mengabdi daripada para penduduk di dataran tinggi.
” Ratu Sinuhun-lah yang menyusun peringkat Dara bangsawan dengan membagikan gelar dan juga dialah yang pertama kali memberikan timbangan bagi para pedagang. Selain itu, selama masa kekuasaannya, untuk pertama kalinya aturan dibuat untuk mengatur para penduduk di pedalaman, bahkan para penghuni hutan (orang Kubu) berkata.“ bahwa Ratu Sinuhun adalah orang pertama yang memberi mereka pakaian, mengajari mereka bagaimana cara untuk memakan nasi dan menggunakan garam, dan membuat mereka menjadi kawulanya.
Sampai hari ini, makam Ratu Sinuhun di Sabokingking (sebuah kawasan di Kata Palembang moderen, tetap menjadi tempat yang Suci dan lokasi ziarah bagi mereka yang ingin berterima kasih atau meminta bantuan.
Tidaklah sulit untuk mencari nama Sultan Abdul Rahman dalam berbagai sumber Eropa, selain karena ia dianggap sebagai seorang sosok luar biasa yang dapat berkuasa di Palembang pada 1662 (kendati ia bukanlah pewaris takhta langsung). Pun demikian, Ratu Sinuhun adalah perkara lain.
Walaupun beberapa Ratu Palembang terdahulu mungkin juga menjadi dasar bagi mitos leluhur ini, mungkin juga Ratu Sinuhun tidak mengacu pada satu orang tertentu.
Seorang antropolog yang meneliti di Pasemah pada 1970-an menunjukkan bahwa maklumat resmi Kerajaan Palembang yang ditemukan di Pasemah mengacu kepada sang penguasa tidak berdasarkan nama, melainkan berdasarkan frase “Sinuhun Susuhunan” yang agung.
Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa Ratu Sinuhun mungkin sama sekali tidak menunjuk kepada satu orang, melainkan ”nama untuk sebuah personifikasi sebuah masa yang menurut legenda berpangkal di istana para raja Palembang.
Dengan demikian, Ratu Sinuhun mungkin saja tidak sekadar menyimbolkan istri dari beberapa raja dan bahkan menyimbolkan Iebih dari sekadar seorang penguasa yang bijaksana dan penuh kepedulian. Sedikit banyak, Rat” Sinuhun melambangkan jantung dari sistem politik. ”Di seluruh Sumatra,’ begitu kata seorang sarjana Belanda, ”kerajaan digambarkan sebagai seorang Perempuan dan raja adalah seorang Iaki-laki. Melalui kekuatan magisnya ia membangkitkan kehidupan di kerajaannya.” Namun, yang mengejutkan adalah pada awal abad XIX, banyak penduduk Palembang menghubungkan Ratu Sinuhun dan Sultan Abdul Rahman dalam sebuah rangkaian “kebaikan.” Nama mereka membantu khalayak untuk mengingat waktu yang lampau ketika para Penguasa seperti halnya orang tua mengasuh para rakyatnya atau anaknya dan ketika itu negeri subur makmur.
Sumber:
Hidup Bersaudara – Sumatra Tenggara pada Abad XVII dan XVIII”, karya Barbara Watson Andaya, terbitan Ombak Yogyakarta, 2016
Simbur Cahaya: Maha Karya Ratu Sinuhun ”Kartini” Palembang, Muhammad Adil, Koran Harian Beritapagi, 24 April 2018.#