Cawisan, Tradisi Masyarakat Palembang Menangkal Hoaks

7

Oleh Dudy Oskandar — Wartawan beritapagi.co.id

KOMUNIKASI massa adalah proses di mana seorang atau sekelompok orang atau organisasi yang besar menyusun sebuah pesan dan mengirimkannya melalui beragam media kepada khalayak luas yang anonim dan heterogen. Kehadiran media komunikasi modern sebagai dampak makin berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi cenderung mengaburkan batasan antara komunikasi antarpribadi atau komunikasi interpersonal tradisional dan komunikasi massa.
Jacques Ellul dalam karyanya yang berjudul The Technological Society (1964) menyentil kita melalui pertanyaannya: apakah dengan adanya kemajuan peralatan-peralatan teknis, lantas perlahan membuat kita tertawan dalam keengganan untuk merenungkan kembali bahwa teknologi adalah sebentuk arena yang sarat akan perdebatan dan tempat pertarungan sengit berlangsung? Bagi siapa saja yang menguasai teknologi, maka dirinya menguasai sumber daya.

Cepatnya laju dobrakan sosial yang dinakhodai oleh teknologi tanpa sadar mendorong kita terperosok masuk ke dalam pemahaman yang mengimani pesatnya kemajuan alat-alat itu sebagai sebuah proses yang tanpa cela, netral, bebas nilai, absen dari tendensi rivalitas, dan kepentingan ekonomi-politik. Perubahan yang begitu cepat (disruptif) tidak memberikan kita cukup waktu untuk memeriksanya satu per satu. Implikasinya, kita cenderung menganggap eksistensi peralatan canggih itu sebagai produk yang sudah final, amat dibutuhkan, dan tidak lagi memerlukan penggugatan, apalagi perlawanan.
Pola penafsiran seperti ini bukan hanya merugikan, namun bisa menimbulkan hate speech dan berita bohong (hoaks).
Teknologi melalui internet kini menjadi kekuatan, internet juga menjadi ancaman dalam penyebaran hoaks, radikalisme, penipuan, pornografi, bullying, prostitusi, SARA, ujaran kebencian, narkoba, dan masih banyak lagi ancaman dari internet tersebut.

Baca:  Cawisan, Kearipan Lokal Masyarakat Palembang Berbasis Kitab Terpercaya

Data Kementerian Kominfo, menunjukkan selama tahun 2018, sudah dilakukan pemblokiran konten yang mengandung radikalisme dan terorisme sebanyak 10.499 konten. Terdiri dari 7.160 konten di Facebook dan Instagram, 1.316 konten di Twitter, 677 konten di Youtube, 502 konten di Telegram, 502 konten di filesharing, dan 292 konten di situs website.

Hampir seluruh masyarakat memiliki smartphone bahkan lebih dari satu. Akan tetapi tidak dibarengi dengan kemampuan untuk mem-filter dengan baik sehingga menyebabkan cikal bakal radikalisme dan terorisme tersebar.
Malah saat ini pola rekrutmen terorisme sudah berlangsung juga melalui website dan jaringan internet.

Dulu di Palembang terutama di zaman Belanda dan Jepang menguasai wilayah ini dikenal tradisi cawisan atau dalam bahasa umum ceramah agama yang dibawakan oleh ulama-ulama yang kharismarik dan memiliki ilmu yang tinggi.

Banyak ulama Palembang melalui cawisannya menyampaikan semangat perjuangan anti-penjajahan seperti pada Sabtu, 18 Sya’ban 1234H (12 Juli 1819) ulama kharismatik Palembang era Kesultanan Palembang Darussalam Kemas Said dan Haji Zen selaku wakil dan komandan laskar jihad Kesultanan Palembang Darussalam menerima kehadiran utusan sultan di kediaman masing-masing membawa perintah sultan. Sultan meminta mereka untuk segera menghadap ke keraton Kuto Besak.

Baca:  Cawisan, Kearipan Lokal Masyarakat Palembang Berbasis Kitab Terpercaya

Lalu pada saat itu juga mereka bergegas menuju keraton menghadap sultan. Baginda kemudian menginstruksikan agar mengumpulkan seluruh menteri, priayi, pangeran, para ulama sufi, rakyat serta para haji utk berjihad fi sabilillah dengan terlebih dahulu melakukan cawisan dan ritual zikir Ratib Samman.
Dari sinilah kemudian terpacu perang secara terbuka.

Dengan teriakan ,Allahu Akbar’, Kemas Said dan pasukannya dengan gagah perkasa menyerang pasukan Belanda di Kuto Lamo.
Serangan balasan pun dengan sengit dilakukan oleh pihak musuh. Kemas Said dan kedua sahabatnya, Haji Zen dan Haji Lanang, dikepung serta dihujani tembakan-tembakan.

Bertubi-tubi peluru datang menghantam tubuh mereka. Ketiga serangkai ini kemudian roboh bersimbah darah dan gugur sebagai syuhada.

Jauh sebelum itu ada Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani, seorang tokoh sufi penulis kitab-kitab sufi yang berasal dari Palembang yang dilahirkan pada 1116 H/1704 M, meninggal di Pattani, Thailand pada 1832.

Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani merupakan salah satu kunci pembuka dan pelopor perkembangan intelektualisme Nusantara.
Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani juga dikenal berperan menyebarkan ideologi anti-penjajahan. Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani diketahui ikut menyerukan jihad terhadap Belanda yang menindas kaum Muslim di seantero Nusantara melalui cawisannya atau ceramah agama yang dia sampaikan.

Malah, para mujahid Aceh yang berperang melawan Belanda terinspirasi oleh karya sang syekh ini . Selain itu, Syaikh Abdus Samad Al-Palimbani juga kerap bersurat dengan raja-raja Muslim di Nusantara untuk menggelorakan semangat jihad terhadap penjajah.

Baca:  Cawisan, Kearipan Lokal Masyarakat Palembang Berbasis Kitab Terpercaya

“Dulu masyarakat percaya informasi yang diberikan ulama melalui cawisan ini daripada pemerintah Belanda atau Jepang,” kata sejarawan Sumsel Kemas Ari Panji, Minggu (27/10).

Apalagi dalam cawisan itu dulu, tua muda, laki-laki dan perempuan ikut terlibat dan yang disampaikan ulama dalam cawisan bukan hanya masalah umum, juga masalah agama dan kehidupan sehari-hari.

“Di sela-sela mengajarkan agama Islam, ulama juga menyelipkan informasi-informasi terpercaya. Nah, di situ masyarakat dulu percaya dengan informasi yang disampaikan para ulama karena valid dan anti-hoak,” katanya.

Menurut Kemas Panji, cawisan merupakan suatu kearifan lokal di Palembang yang lama hidup dan ternyata mampu membentengi masyarakat dari pemahaman menyesatkan dan berita hoaks.

“Kalau sekarang walaupun anak mudanya lebih banyak sibuk dengan HP dan medsos, masih banyak anak-anak muda yang ikut cawisan terutama anak-anak di pesantren dan para santri, termasuk orang-orang tua sekarang masih banyak mendengarkan cawisan ini,” katanya. Sedangkan sejarawan kota Palembang Rd Moh Ikhsan menilai kalau cawisan adalah murni masalah agama yang disampaikan ulama.

“Tapi apa yang disampaikan ulama dulu murni soal agama di mana apa yang disampaikan tidak ada yang berkaitan dengan kebohongan. Saya dulu waktu kecil sering ikut cawisan, itu tadi yang disampaikan soal agama saja,” katanya.#