Budayawan Besemah dan Mantan Wartawan Bastari Suan Sakit Keras

27

Ahmad Bastari Suan terbaring sakit.

Palembang, BP–Ahmad Bastari Suan atau sering disapa Lew oleh teman-teman sejawatnya saat ini terbaring sakit keras di RS Siti Khadijah Palembang.

Sebelumnya, sejak 20 Oktober lalu, Pak Bastari –begitu para aktivis kebudayaan di Palembang memanggilnya– dirawat di RS AK Gani, namun dipulangkan setelah lima hari dirawat. Ia kembali ke rumah dalam keadaan belum pulih.

Menurut Awang, anak sulungnya, Selasa (22/10), Bastari mengidap penyakit asma, stroke, dan ambien.

Bastari Suan saat masih sehat.

Bastari Suan yang lahir pada 27 Agustus 1946 di Dusun Pelajaran, Kabupaten Lahat (Tanah Besemah), Sumatera Selatan adalah budayawan yang aktif memikirkan kemajuan kebudayaan di Sumsel, terutama di suku bangsa Besemah.

Bastari betul-betul aktivis kebudayaan  yang tidak pernah pamrih. Semua karyanya dia persembahkan untuk kemajuan masyarakat dan kebudayaan.

“Namun saat ini, Bastari tidak dapat lagi berpikir dan berkarya. Beliau membutuhkan perhatian kita semua, baik doa maupun materi secara sukarela untuk meringankan beban keluarganya selama dia menjalani proses penyembuhan, ” kata Budayawan Sumsel Vebri Al Lintani.

“Bagi yang tergerak hati untuk memberikan sumbangan, dipersilakan untuk mengisi daftar dan nomor rekening yang kami sertakan dalam artikel ini,” kata Vebri.

Sudah banyak karya Bastari yang ditulis dalam bentuk buku, di antaranya:  Sistem Morfologi Verba Bahasa Besemah (1985 bersama Zainul Arifin Aliana dkk), Unsur Kekerabatan dalam Tutur Sastra Nusantara di Sumatera Selatan (1996 bersama-sama Zainul Arifin Aliana dkk), Struktur Sastra  Lisan Semende (2000 bersama Zainul Arifin Aliana dkk), Struktur Sastra Lisan Aji (2002 bersama Latifah Ratnawaty dkk), Sejarah Besemah (2005 bersama Marzuki Bedur dan Eka Pascal), Atung Bungsu (2007 bersama-sama Eka Pascal dan Yudi Herpansi), Besemah: Lampik Mpat Mardike Duwe (2008 bersama Yudi Herpansi dan Eka Pascal), Sastra Tutur Sumatera Selatan (2007 bersama Vebri Alintani dkk), Tata Cara Adat Perkawinan Sukubangsa Besemah di Sumatera Selatan (2007 bersama-sama EK Pascal dan Vebri Al-Lintani), Sastra Tutur Sumatera Selatan; Sasrtra Tutur Besemah (2014, bersama-sama Vebri Al Lintani dan Yudi Herpansi).

“Pada saat ini Pak Bastari sedang menyiapkan buku ‘Aturan Betutugh Base Besemah’, ‘Cerita Rakyat Besemah’,  dan lain-lain,” kata Vebri yang kini menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Palembang.

Selain itu, pengusul kata ‘mantan’ menjadi salah satu kota kata bahasa Indonesia ini, sejak 1974 berkerja sebagai wartawan di suratkabar Gema Pancasila di Palembang. Sebelumnya mulai 1976, menjadi guru pada beberapa sekolah menengah. Sejak 1980 ikut kegiatan penelitian-penelitian bahasa dan sastra Indonesia dan daerah di Sumatera Selatan.

Lalu menjadi PNS pada Kantor Walikota Palembang hingga pensiun tahun 2002.

“Sumbangan bisa disalurkan ke nomor rekening: a.n. Febri Irwansyah, BNI, 290219610,” kata Vebri.#osk